Mariam Lidia Mytty Pandean
Sam Ratulangi University

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Lanskap Linguistik Plang Usaha Kuliner di Kawasan Bisnis Manado Stella Sherly Margriet Karouw; Stefanie Humena; Mariam Lidia Mytty Pandean; Meity Jane Wowor
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Dua (2) Negara: Indonesia dan Turki
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/0gcm0x41

Abstract

Penelitian ini mengkaji penggunaan bahasa pada plang usaha kuliner di kawasan bisnis Megamas Manado melalui pendekatan Lanskap Linguistik atau studi mengenai penggunaan bahasa pada ruang publik. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan data berupa gambar atau foto plang usaha kuliner. Data tersebut diperoleh melalui pengamatan langsung di lapangan dengan cara mendokumentasikannya dalam bentuk foto. Data yang terkumpul diklasifikasikan berdasarkan variasi atau pola kombinasi bahasa yang terdapat pada plang tersebut. Data dianalisis berdasarkan bentuk aspek lingual, yakni kata dasar, kata berimbuhan, frasa, dan klausa. Selanjutnya dideskripsikan makna denotatif, konotatif, dan diakhiri dengan penjelasan fungsi informasional dan fungsi simbolik. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 95 tanda bahasa yang terdiri atas 46 tanda variasi monolingual, 29 tanda variasi bilingual, dan 20 tanda variasi multilingual. Tanda-tanda bahasa tersebut terdiri atas kata dasar dan kata berimbuhan yang membentuk frasa dan klausa. Beberapa tanda bahasa memperlihatkan permainan bahasa seperti abreviasi, gabungan kata, serta plesetan bunyi. Adapun tanda-tanda bahasa tersebut memperlihatkan fungsi informasional dan simbol identitas serta kebudayaan.
Praktik Wacana Iman di Era Digital: Khotbah Virtual GMIM Analisis Wacana Kritis Model Norman Fairclough Juan Rasulivan Hendrik Lasut; Mariam Lidia Mytty Pandean; Djeinnie Imbang
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 1 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i1.465

Abstract

This study analyzes the transformation of faith discourse practices in the virtual sermons of the Christian Evangelical Church in Minahasa (GMIM) amidst the mediatization of religion. Employing a qualitative method with Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis approach, this research examines text, discursive practice, and socio-cultural dimensions to reveal power relations in the digital space. The findings indicate that the linguistic structure of sermons has significantly shifted to become more persuasive and egalitarian, utilizing synthetic personalization strategies to establish pseudo-intimacy with the congregation. Sermons are repackaged as concise, visual, and therapeutic content, adapting to the logic of social media algorithms and aesthetics. It is concluded that GMIM’s virtual sermons are not merely dogma transmission but an adaptive strategy reconstructing ecclesiastical authority from hierarchical to more humanist and motivational to maintain institutional relevance within digital culture.AbstrakPenelitian ini menganalisis transformasi praktik wacana iman dalam khotbah virtual Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) di tengah arus mediatisasi agama. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis model Norman Fairclough, studi ini menelaah dimensi teks, praktik diskursif, dan sosiokultural untuk mengungkap relasi kuasa di ruang digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur bahasa khotbah mengalami pergeseran signifikan menjadi lebih persuasif dan egaliter melalui strategi synthetic personalization guna membangun keintiman semu dengan jemaat. Khotbah dikemas ulang sebagai konten terapeutik yang ringkas dan visual, menyesuaikan diri dengan logika algoritma serta estetika media sosial. Disimpulkan bahwa khotbah virtual GMIM bukan sekadar transmisi dogma, melainkan strategi adaptif yang merekonstruksi otoritas gerejawi dari hierarkis menjadi lebih humanis dan motivasional demi menjaga relevansi institusi dalam budaya digital.