Djeinnie Imbang
Sam Ratulangi University

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Praktik Wacana Iman di Era Digital: Khotbah Virtual GMIM Analisis Wacana Kritis Model Norman Fairclough Juan Rasulivan Hendrik Lasut; Mariam Lidia Mytty Pandean; Djeinnie Imbang
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 1 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i1.465

Abstract

This study analyzes the transformation of faith discourse practices in the virtual sermons of the Christian Evangelical Church in Minahasa (GMIM) amidst the mediatization of religion. Employing a qualitative method with Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis approach, this research examines text, discursive practice, and socio-cultural dimensions to reveal power relations in the digital space. The findings indicate that the linguistic structure of sermons has significantly shifted to become more persuasive and egalitarian, utilizing synthetic personalization strategies to establish pseudo-intimacy with the congregation. Sermons are repackaged as concise, visual, and therapeutic content, adapting to the logic of social media algorithms and aesthetics. It is concluded that GMIM’s virtual sermons are not merely dogma transmission but an adaptive strategy reconstructing ecclesiastical authority from hierarchical to more humanist and motivational to maintain institutional relevance within digital culture.AbstrakPenelitian ini menganalisis transformasi praktik wacana iman dalam khotbah virtual Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) di tengah arus mediatisasi agama. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis model Norman Fairclough, studi ini menelaah dimensi teks, praktik diskursif, dan sosiokultural untuk mengungkap relasi kuasa di ruang digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur bahasa khotbah mengalami pergeseran signifikan menjadi lebih persuasif dan egaliter melalui strategi synthetic personalization guna membangun keintiman semu dengan jemaat. Khotbah dikemas ulang sebagai konten terapeutik yang ringkas dan visual, menyesuaikan diri dengan logika algoritma serta estetika media sosial. Disimpulkan bahwa khotbah virtual GMIM bukan sekadar transmisi dogma, melainkan strategi adaptif yang merekonstruksi otoritas gerejawi dari hierarkis menjadi lebih humanis dan motivasional demi menjaga relevansi institusi dalam budaya digital.
Geografi Dialek Bahasa Daerah Tombulu di Kota Tomohon Djeinnie Imbang; Golda Juliet Tulung; Christo Pua; Amelia Cindy Mogi
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Enam (6) Negara: Indonesia, Malaysia, Chin
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v12i1.7359

Abstract

Penelitian ini berjudul “Geografi Dialek Bahasa Daerah Tombulu di Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Adapun yang melatarbelakangi penelitian ini adanya keanekaragaman  bahasa yang digunakan di daerah tersebut. Penelitian dialektologi mengenai bahasa daerah di wilayah ini belum pernah dilakukan, sehingga belum tersedianya peta bahasa yang mendeskripsikan secara menyeluruh kondisi kebahasaan di daerah tersebut. Penelitian ini dilakukan di empat kelurahan yang ada di Kota Tomohon. Dalam pelaksanaan, tahapan penyediaan data digunakan metode cakap (wawancara) dengan teknik cakap semuka dan  teknik catat. Selanjutnya analisis data digunakan metode dialektometri, yaitu menghitung persentase leksikon untuk pengkategorisasian beda bahasa, beda dialek, beda subdialek, beda wicara atau tidak ada perbedaan.  Metode dialektometri ini  mengacu pada daftar kosakata dasar   yang berjumlah 795 kata dan beberapa frasa/klausa berdasarkan taksonomi sebagaimana contoh daftar pertanyaan yang ada pada bagian lampiran buku Nadra dan Reniwati (2023) yang disesuaikan dengan keadaan alam dan masyarakat daerah penelitian. Hasil penelitian ini adalah adanya perbedaan fonologi dan leksikal.  Berdasarkan hasil akhir penghitungan persentase kosakata, diperoleh simpulan bahwa tingkat kekerabatan bahasa berdasarkan penghitungan leksikon  terjadi perbedaan subdialek, yakni di bawah 25%.  Tampak dari 21 taksonomi yang terdiri atas 725 glos  pada keempat titik pengamatan,  perbedaannya berada pada  5,65 persen. Demikian juga dengan frasa dan klausa yang berjumlah 68 glos, hasilnya tidak ada perbedaan, perbedaan pada variasi tataran wicara saja.   Hasil ini menunjukkan bahwa dialek Tombulu  pada 4 titik pengamatan,  umumnya memiliki kesamaan karena berada di atas rata-rata atau sejumlah 94,35%.   Setiap taksonomi berbeda jumlah glos, disesuaikan dengan keadaan geografis titik pengamatan