Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

EDUKASI DAN PENDAMPINGAN PENGGUNAAN HYPERTENSION SMART CARD DALAM MENDUKUNG SELF-MANAGEMENT PASIEN HIPERTENSI I Putu Juni Andika; Sri Aminingsih; Lilik Sriwiyati; Iswati; Firnanda Erindia; Novita Fajriyah
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 5 No 2 (2026): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v5i2.491

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama penyakit kardiovaskular, stroke, dan gagal ginjal. Rendah kemampuan pasien dalam melakukan self-managemant menjadi salah satu faktor yang menghambat keberhasilan pengendalian tekanan darah. Kegiatan pengabdian Masyarakat ini bertujuan meningkatkan kemampuan self-managemant pasien hipertensi melalui edukasi dan pendampingan penggunaan Hypertension Smart Card. Kegiatan dilaksanakan pada bulan juni 2026 di Desa Watu Bonang, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo, dengan melibatkan 30 pasien hipertensi berusisa ≥50 tahun. Metode yang digunakan meliputi edukasi interaktif, diskusi, demontrasi, praktik penggunaan Hypertension Smart Card, serta pedampingan dalam pemantuan tekanan darah. Evaluasi dilakukan melalui pengukuran tekanan darah sebelum dan sesudah kegiatan observasi kemampuan peserta dalam menggunakan media. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa mayoritas peserta berjenis kelamin Perempuan (70,0%) dengan rata-rata usia 64,00 ± 7,98 tahun. Setelah implementasi program, rerata tekanan darah sistolik menurun dari 157,50 ± 12,74 mmHg menjadi 133,07 ± 7,42 mmHg, sedangkan tekanan darah diastolik menurun dari 88,77 ± 7,56 mmHg menjadi 82,13 ± 3,53 mmHg. Peserta juga mampu menggunakan Hypertension Smart Card sebagai media pencatatan tekanan darah dan pengingat aktivitas self-management. Kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi dan pendampingan menggunakan Hypertension Smart Card berpotensi meningkatkan kemampuan self-management serta mendukung pengendalian tekanan darah pada pasien hipertensi di masyarakat. Kata kunci: edukasi; hipertensi; pendidikan keperawatan; smart card; self-manageman Hypertension is one of the leading non-communicable diseases contributing to cardiovascular disease, stroke, and chronic kidney disease. Limited patient self-management remains a major challenge in achieving optimal blood pressure control. This community service program aimed to improve self-management among patients with hypertension through education and assistance in using the Hypertension Smart Card. The program was conducted in June 2026 in Watu Bonang Village, Tawangsari District, Sukoharjo Regency, Indonesia, involving 30 hypertensive patients aged 50 years and above. The intervention included interactive health education, group discussions, demonstrations, hands-on practice using the Hypertension Smart Card, and continuous assistance in blood pressure monitoring. Program evaluation was carried out by measuring blood pressure before and after the intervention and observing participants' ability to use the card. The participants were predominantly female (70.0%) with a mean age of 64.00 ± 7.98 years. Following the intervention, the mean systolic blood pressure decreased from 157.50 ± 12.74 mmHg to 133.07 ± 7.42 mmHg, while the mean diastolic blood pressure decreased from 88.77 ± 7.56 mmHg to 82.13 ± 3.53 mmHg. Participants were also able to use the Hypertension Smart Card effectively as a self-monitoring and educational tool. These findings indicate that education and assistance using the Hypertension Smart Card can enhance self-management practices and support better blood pressure control among patients with hypertension. Keywords: education; hypertension; nursing education; self-management; smart card
OPTIMALISASI OPTIMALISASI KADER KESEHATAN REMAJA PADA ERA DIGITALISASI DI DESA POJOK KECAMATAN TAWANGSARI Tri Yahya Christina; Safaruddin Safaruddin; I Putu Juni Andika; Ayuni Riska Utami
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 5 No 1 (2026): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v5i1.449

Abstract

Perkembangan era digitalisasi membawa perubahan signifikan dalam pola perolehan, pemahaman, dan penyebaran informasi kesehatan, terutama di kalangan remaja yang merupakan pengguna aktif teknologi. Di Desa Pojok Kecamatan Tawangsari, pemanfaatan digital masih rendah, 24% kader remaja menggunakan media digital dan 62% belum literasi digital, sehingga partisipasi kader remaja berbasis digital masih di bawah 20%. Tujuan kegiatan ini meningkatkan pengetahuan, literasi digital, serta membentuk kader kesehatan remaja yang kompeten dalam mengakses, menganalisis, dan menyebarkan informasi kesehatan secara bertanggung jawab dan berbasis bukti. Kegiatan dilaksanakan melalui identifikasi kebutuhan belajar, edukasi interaktif, diskusi kelompok, studi kasus, serta evaluasi pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan, ditandai dengan pergeseran kategori pengetahuan dari sebagian besar peserta yang awalnya berada pada kategori buruk dan sedang, menjadi dominan pada kategori baik setelah intervensi, yaitu mencapai 80%. Selain itu, hilangnya kategori buruk pada hasil post-test menegaskan efektivitas program dalam mengatasi kesenjangan pemahaman dasar. Disimpulkan program digitalisasi ini terbukti mampu memperkuat kapasitas kader dalam literasi digital dan kesehatan serta mendorong keterlibatan aktif dan pembelajaran mandiri. Secara keseluruhan, intervensi ini berkontribusi pada pembentukan kader kesehatan remaja yang lebih adaptif, berdaya, dan siap menjadi agen promosi kesehatan di era digital secara berkelanjutan. Kata kunci: digitalisasi, edukasi kesehatan, literasi digital, literasi kesehatan, remaja The rapid development of the digital era has brought significant changes in the acquisition, understanding, and dissemination of health information, particularly among adolescents who are active users of technology. In Pojok Village, Tawangsari Subdistrict, digital utilization remains low: only 24% of health cadres use digital media and 62% lack digital literacy, resulting in digital-based adolescent participation of below 20%. The program aims to improve knowledge and digital literacy and to develop adolescent health cadres who are competent in accessing, analyzing, and disseminating health information responsibly and based on evidence. The program was implemented through learning needs identification, interactive education, group discussions, case studies, and evaluation using pre-test and post-test. The results showed a significant improvement in knowledge, indicated by a shift from predominantly poor and moderate knowledge levels before the intervention to a dominant good category after the intervention, reaching 80%. Furthermore, the absence of the poor category in the post-test results confirms the effectiveness of the program in addressing gaps in basic understanding. It can be concluded that digitalization program effectively strengthened the cadres’ digital and health literacy capacities and encouraged active engagement and self-directed learning. Overall, the intervention contributed to the development of more adaptive, empowered adolescent health cadres who are prepared to act as sustainable health promotion agents in the digital era. Keywords: digitalization, health education, digital literacy, health literacy, adolescents
EDUKASI DAN PEMBERIAN TEH KULIT BUAH NAGA SEBAGAI UPAYA PENGURANGAN INFEKSI OPORTUNISTIK PADA PASIEN HIV/AIDS DI YASEMA I Putu Juni Andika; Yayuk Dwi Oktiva; Sri Wianti; Lilik Sriwiyati
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 5 No 1 (2026): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v5i1.460

Abstract

Pasien dengan Human Immunodeficiency Virus HIV atau Acquired Immune Deficiency Syndrome AIDS memiliki risiko tinggi mengalami infeksi oportunistik akibat penurunan fungsi sistem imun. Terapi antiretroviral ARV merupakan pengobatan utama namun kepatuhan terapi kemampuan mengelola stres dan dukungan nonfarmakologis masih menjadi tantangan pada tingkat komunitas. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman sikap dan perilaku kesehatan pasien HIV AIDS melalui edukasi kepatuhan terapi ARV penguatan koping stres serta pemanfaatan teh kulit buah naga sebagai terapi komplementer pendamping. Kegiatan dilaksanakan di Yayasan Sahabat Sehat Mitra Sebaya YASEMA Kabupaten Sukoharjo dengan melibatkan 30 pasien HIV AIDS. Metode yang digunakan meliputi ceramah interaktif diskusi kelompok dan demonstrasi pembuatan serta penyajian teh kulit buah naga. Evaluasi dilakukan secara deskriptif menggunakan observasi partisipatif dan wawancara terstruktur. Hasil kegiatan menunjukkan mayoritas peserta memiliki pemahaman baik terkait kepatuhan terapi ARV dan pencegahan infeksi oportunistik sebesar 70 persen kemampuan koping stres baik sebesar 66 koma 7 persen serta penerimaan positif terhadap terapi komplementer sebesar 63 koma 3 persen. Kegiatan ini menunjukkan pendekatan edukatif holistik berbasis komunitas berpotensi mendukung pencegahan infeksi oportunistik dan peningkatan kualitas hidup pasien HIV AIDS secara berkelanjutan melalui kolaborasi tenaga kesehatan komunitas dan peserta secara aktif terarah berkesinambungan dan kontekstual lokal yang relevan aman aplikatif beretika. Kata kunci: HIV/AIDS, infeksi oportunistik, kepatuhan ARV, koping stress, terapi komplementer People living with Human Immunodeficiency Virus HIV or Acquired Immune Deficiency Syndrome AIDS face a high risk of opportunistic infections due to progressive immune system impairment. Antiretroviral therapy ART remains the primary treatment however adherence stress management and nonpharmacological support continue to present challenges at the community level. This community service program aimed to improve knowledge attitudes and health behaviors of people living with HIV AIDS through education on ART adherence strengthening stress coping strategies and introducing dragon fruit peel tea as a complementary supportive therapy. The activity was conducted at the Sahabat Sehat Mitra Sebaya Foundation YASEMA in Sukoharjo Regency and involved 30 HIV AIDS patients. Methods included interactive lectures group discussions and demonstrations on the preparation and serving of dragon fruit peel tea. Evaluation was performed descriptively using participatory observation and structured interviews. The results showed that most participants demonstrated good understanding of ART adherence and opportunistic infection prevention at 70 percent adequate stress coping at 66 point 7 percent and positive acceptance of complementary therapy at 63 point 3 percent. These findings indicate that a holistic community based educational approach can support opportunistic infection prevention and improve quality of life sustainably for participants and local health stakeholders. Keywords: antiretroviral adherence, complementary therapy, HIV/AIDS, opportunistic infections, stress coping
Pesantren Sehat: Membangun Generasi Muda yang Peduli Kesehatan melalui Pembentukan Kader Kesehatan Remaja Sebaya Tri Yahya Christina; Tunjung Sri Yulianti; Lilik Sriwiyati; Safaruddin; I Putu Juni Andika; Antonius Catur Sukmono; Sri Wianti; Agustina Sandramustika
LOSARI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : LOSARI DIGITAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53860/losari.v6i2.397

Abstract

Abstract. Mentoring adolescent students who are in a period of physical and psychological preservation is very important. This community service aims to form adolescent health cadres to build a young generation who care about health through peer cadres Kholifatullah Singo ludiro Islamic Boarding School. Considering that they are far from their families and live with fellow students of the same age. The method used is cadre formation and training. Cadres are formed from active students and the students' willingness to become peer adolescent health caders. Cadres are equipped with knowledge and skills through training related to adolescent health, basic care skills, and Focus Group Discussions (FGD) as provisions for cadres to be critical of students' health problems and increase cadres' self-confidence in providing education and motivation. The results obtained were the formation of 10 peer adolescent health cadres, consisting of 3 male cadres and 7 female cadres. These results are in accordance with the needs of the Islamic boarding school where most of the health problems, both physical and psychological, found were from female students. The results of the activity also showed an increase in knowledge and skills of cadres related to adolescent health. As students who do not yet have a background in health knowledge, cadres show a good understanding of adolescent health after receiving training. With the formation of cadres who have knowledge and skills related to adolescent health, cadres can become quality promotive, preventive, curative and rehabilitative for the health of adolescents of the same age as students. Keywords: Health Cadres; Healthy Islamic Boarding School; Youth Cadres; Youth Abstrak. Pendampingan remaja santri yang sedang dalam masa peralihan baik fisik maupun psikologis sangat penting. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk membentuk kader kesehatan remaja sebaya santri untuk membangun generasi muda yang peduli kesehatan melalui kader sebaya Pesantren Kholifatullah Singo ludiro. Mengingat mereka jauh dengan keluarga dan tinggal bersama sesama santri sebaya. Metode yang digunakan adalah pembentukan kader dan pelatihan. Kader dibentuk dari santri yang aktif serta kesuka relaan dari santri untuk menjadi kader kesehatan remaja sebaya. Kader dibekali pengetahuan dan keterampilan/ skill melalui pelatihan terkait kesehatan remaja, keterampilan perawatan dasar, serta Focus Group Discussion (FGD) sebagai bekal kader untuk kritis terhadap masalah kesehatan santri serta meningkatkan kepercayaan diri kader dalam memberikan edukasi dan motivasi. Hasil yang didapat adalah terbentuknya 10 kader kesehatan remaja sebaya, dimana terdiri dari 3 kader laki- laki dan 7 kader perempuan. Hasil ini sesuai dengan kebutuhan Pesantren dimana sebagian besar permasalahan kesehatan baik fisik maupun psikologis yang ditemukan adalah dari santri perempuan. Hasil kegiatan juga menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan maupun keterampilan/skill kader terkait kesehatan remaja. Sebagai santri yang belum memiliki latar belakang pengetahuan kesehatan, kader menunjukkan pemahaman yang baik terkait kesehatan remaja setelah mendapat pelatihan. Dengan terbentuknya kader yang memiliki pengetahuan dan keterampilan/skill terkait kesehatan remaja, kader dapat menjadi promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang berkualitas untuk kesehatan remaja sebaya santri. Kata kunci: Kader Kesehatan; Kader Remaja; Pesantren Sehat; Remaja