Michael Rayhan Ndraha
Universitas Katolik Darma Cendika

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Yuridis terhadap Bangunan yang Didirikan Tanpa Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) serta Perlindungan Hukum bagi Konsumen di Kota Surabaya Michael Rayhan Ndraha; Retno Dewi Pulung Sari
UNES Journal of Swara Justisia Vol 10 No 2 (2026): Unes Journal of Swara Justisia
Publisher : Program Magister Ilmu Hukum Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31933/86ntd465

Abstract

Perubahan regulasi perizinan bangunan melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja menggantikan IMB dengan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), bertujuan menyederhanakan prosedur dan meningkatkan efisiensi pembangunan. Namun, praktik penjualan bangunan tanpa PBG oleh pengembang masih marak, sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum dan risiko bagi konsumen. Penelitian ini menganalisis kedudukan hukum konsumen dalam transaksi jual beli bangunan tanpa PBG serta efektivitas perlindungan hukum yang tersedia pasca UU Cipta Kerja. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan kajian doktrin. Hasil menunjukkan bahwa meskipun kerangka hukum perizinan bangunan dan perlindungan konsumen secara normatif tersedia, implementasinya belum optimal akibat lemahnya pengawasan, kurangnya transparansi informasi, dan praktik pengembang yang tidak patuh. Penelitian menekankan perlunya integrasi hukum perizinan bangunan dengan perlindungan konsumen, peningkatan transparansi administrasi, dan penegakan hukum yang efektif untuk menjamin kepastian hukum dan perlindungan konsumen, khususnya di Kota Surabaya.
TANGGUNG JAWAB HUKUM INTERMEDIARY DALAM MODERASI KONTEN DIGITAL DI INDONESIA: ANALISIS NORMATIF TERHADAP KEPASTIAN HUKUM, AKUNTABILITAS, DAN PERLINDUNGAN HAK DIGITAL Michael Rayhan Ndraha; Yoga Khirari Haggai; Victor Imanuel Williamson Nalle
Jurnal Ilmiah Advokasi Vol 14, No 2 (2026): Jurnal Ilmiah Advokasi
Publisher : Universitas Labuhanbatu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36987/jiad.v14i2.7817

Abstract

The rapid development of Indonesia's digital ecosystem has significantly expanded the role of intermediaries as digital platform providers responsible for managing, filtering, and restricting user-generated content. At the same time, the increasing dissemination of illegal content, hate speech, disinformation, and violations of digital rights has raised fundamental legal questions regarding the scope of intermediary liability in content moderation. Although Indonesia has established a regulatory framework through Law No. 11 of 2008 as amended by Law No. 19 of 2016 on Electronic Information and Transactions, Government Regulation No. 71 of 2019, and Minister of Communication and Informatics Regulation No. 5 of 2020, legal uncertainty remains regarding intermediary liability, accountability mechanisms, and the protection of users' digital rights. This study aims to analyze the legal regulation of intermediary liability in digital content moderation, identify weaknesses in the existing regulatory framework, and formulate legal reform strategies to achieve a balance between freedom of expression and public protection. The research employs a normative juridical method using statutory, conceptual, and comparative legal approaches. The findings demonstrate that Indonesia's regulatory framework remains fragmented and has not comprehensively incorporated the principles of safe harbor, due process, transparent content moderation, and effective platform accountability. These shortcomings contribute to legal uncertainty, inconsistent moderation practices, and potential violations of users' digital rights. This study proposes strengthening Indonesia's legal framework through adaptive regulations, independent oversight mechanisms, proportional implementation of the safe harbor principle, and transparent, participatory governance of digital content moderation to enhance legal certainty and the protection of digital rights.Keywords: intermediary liability, digital content moderation, digital rights, safe harbor, legal accountability.