Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STRATEGI PEMILIHAN GAYA KEPEMIMPINAN DALAM PENGUATAN TATA KELOLA LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM Iqbal Ramdhani; Siska Septia Ulfa; Khaidarul Amjad; Muhammad Sirozi
Tadbir: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol 14 No 2 (2026): Tadbir: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : LP2M IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30603/tjmpi.v14i2.7157

Abstract

The governance of Islamic educational institutions relies heavily on the effectiveness of leadership applied by institutional leaders. One of the most critical aspects of leadership practice is the ability to select an appropriate leadership style that aligns with institutional needs, the characteristics of human resources, and the Islamic values underpinning education. This article aims to analyze strategies for selecting leadership styles that strengthen governance in Islamic educational institutions. This study employed a library research method with a descriptive qualitative approach. Data were collected from books, national and international journals, and relevant academic documents. The findings revealed that selecting a leadership style requires careful consideration of institutional characteristics, internal and external dynamics, organizational culture, and Islamic spiritual values. Prophetic leadership, Islamic transformational leadership, and participatory leadership based on syura are the most suitable styles for Islamic educational institutions because they strengthen governance, encourage collaboration, and promote a quality-oriented organizational culture. This article presents several strategic recommendations for leaders of Islamic educational institutions in selecting effective leadership styles, including institutional needs analysis, reflection on Islamic values, human resource empowerment, and routine evaluation of leadership implementation. Thus, this study offers theoretical and practical contributions to strengthening governance in Islamic educational institutions through effective and Islamic leadership practices.
From Ego to Essence: The Intersection of Sufi Mysticism and Psychotherapy in Islamic Thought Naila Putri Imani; Iqbal Ramdhani; Yuniar Yuniar
Seminar Nasional Teknologi dan Multidisiplin Ilmu (SEMNASTEKMU) Vol. 5 No. 1 (2025): SEMNASTEKMU
Publisher : Universitas Sains dan Teknologi Komputer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51903/037dq182

Abstract

Artikel ini mengkaji secara mendalam persinggungan antara mistisisme Sufi dan psikoterapi dalam kerangka pemikiran intelektual dan spiritual Islam. Kajian ini berupaya menelusuri bagaimana konsepsi Sufi tentang jiwa manusia, dengan berbagai tahap penyucian dan transformasinya, memiliki kesetaraan dan saling melengkapi dengan proses psikoterapi yang berorientasi pada penyembuhan, pengetahuan diri, dan integrasi kepribadian. Inti dari spiritualitas Sufi adalah perjalanan dari ego (nafs) menuju esensi (ruh), di mana individu berupaya melampaui nafsu dan keterikatan duniawi untuk mencapai kesatuan ilahi serta kedamaian batin. Demikian pula, psikoterapi dalam bentuk modern dan integratifnya bertujuan membebaskan individu dari fragmentasi psikologis dan konflik bawah sadar, serta menuntunnya menuju keotentikan dan keseimbangan emosional. Secara metodologis, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan hermeneutik dengan melakukan analisis tekstual dan konseptual terhadap karya-karya klasik tokoh-tokoh Sufi seperti al-Ghazali, Rumi, dan Ibn ‘Arabi, serta membandingkannya dengan kerangka psikologi kontemporer, termasuk psikologi humanistik dan transpersonal. Melalui kajian komparatif ini, penelitian menemukan sejumlah konsep yang beririsan, seperti kesadaran diri (muraqabah), perhatian penuh atau mindfulness (dhikr), katarsis atau penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs), serta peran terapeutik cinta dan kepasrahan (mahabba dan fana’). Titik temu tersebut menunjukkan bahwa baik tasawuf maupun psikoterapi sama-sama menekankan pentingnya transendensi diri sebagai jalan menuju penyembuhan dan keutuhan batin. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mistisisme Sufi tidak hanya memberikan dasar metafisik, tetapi juga menawarkan psikologi praktis tentang diri yang dapat memperkaya wacana terapi modern. Dengan mengintegrasikan praktik kontemplatif dan transformasi etis dengan wawasan psikologis, muncul suatu model penyembuhan holistik yang memandang manusia sebagai entitas spiritual sekaligus psikologis. Pada akhirnya, sintesis ini berkontribusi pada pengembangan paradigma psikoterapi Islam yang memadukan dimensi sakral dan ilmiah, serta menawarkan perspektif baru tentang kesehatan mental dan pertumbuhan spiritual di dunia Muslim modern.