AbstrakBerdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2019, sekitar 27,6% anak balita di Indonesia mengalami stunting dengan prevalensi tertinggi kedua di Asia Tenggara. Stunting ini menandakan nilai tinggi badan menurut usia yang berada di bawah standar yang ditetapkan yang berdampak negatif terhadap perkembangan fisik dan kapasitas kognitif anak. Program pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, pada periode 3 Agustus hingga 9 September 2024, dengan tujuan membantu pencegahan stunting dan memperluas kesadaran tentang peranan gizi seimbang. Program yang diselenggarakan oleh Tim Pengabdian Masyarakat bekerja sama dengan Puskesmas Ngargoyoso ini mencakup serangkaian kegiatan, meliputi penilaian awal, wawancara, penyuluhan kesehatan, demonstrasi praktis, distribusi tablet tambah darah (TTD), aktivitas fisik promotif kesehatan, serta evaluasi hasil melalui kuesioner terstruktur. Strategi edukasi kesehatan yang diterapkan meliputi ceramah, media visual, poster, serta kegiatan ice breaking interaktif guna meningkatkan partisipasi peserta. Hasil evaluasi menunjukkan mayoritas peserta kegiatan menyatakan program ini bermanfaat dalam upaya pencegahan stunting. Selain itu, sejumlah besar peserta melaporkan adanya peningkatan kondisi kesehatan setelah mengonsumsi suplemen zat besi secara teratur. Pengabdian ini berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai stunting dan gizi, sekaligus mendorong perubahan perilaku hidup sehat, seperti konsumsi tablet zat besi secara konsisten. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa program ini berpotensi menjadi model yang dapat direplikasi dan diterapkan secara efektif dalam penanggulangan stunting di komunitas dengan karakteristik serupa. Kata kunci: gizi seimbang; pencegahan stunting; pengabdian masyarakat; stunting; tablet tambah darah AbstractAccording to a 2019 World Health Organization (WHO) report, approximately 27.6% of children under five in Indonesia suffer from stunting, representing the second-highest prevalence in Southeast Asia. Stunting exerts a negative impact on children's physical development and cognitive capacity. This community service program was conducted in Kemuning Village, Ngargoyoso District, Karanganyar Regency, from August 3 to September 9, 2024, aiming to assist in stunting prevention and expand awareness regarding the role of balanced nutrition. Organized by the Community Service Team in collaboration with the Ngargoyoso Public Health Center (Puskesmas), the program encompassed a series of activities, including initial assessments, interviews, health education, practical demonstrations, the distribution of iron-folic acid (IFA) tablets, health-promoting physical activities, and the evaluation of outcomes via structured questionnaires. The implemented health education strategies included lectures, visual media, posters, and interactive ice-breaking activities designed to enhance participant engagement. Evaluation results indicated that the majority of participants perceived the program as beneficial in stunting prevention efforts. Furthermore, a substantial number of participants reported improvements in health conditions following the regular consumption of iron supplements. This community service initiative successfully increased public awareness concerning stunting and nutrition, while simultaneously encouraging healthy behavior changes, such as the consistent consumption of iron tablets. These findings indicate that the program has the potential to serve as a replicable model that can be effectively implemented to combat stunting in communities with similar characteristics. Keywords: balanced nutrition; stunting prevention; community service; stunting; iron supplement tablets