This Author published in this journals
All Journal Setawar Abdimas
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

MODEL PENDAMPINGAN TERINTEGRASI LITERASI KEUANGAN DAN INKUBASI KEWIRAUSAHAAN BERBASIS POTENSI LOKAL UNTUK MEMPERKUAT KETAHANAN EKONOMI MASYARAKAT DESA SIRNAMANAH Nur Izzati; Eko Wiji Pamungkas; Tasha Nurmeilita; Elisabect; Srie Hendraliany; Daniel Wisuda Purba
Setawar Abdimas Vol. 5 No. 2 (2026): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah BengkuluUniversitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/sa.v5i2.10400

Abstract

Rendahnya literasi keuangan dan kapasitas kewirausahaan masyarakat menjadi salah satu faktor yang menghambat penguatan ketahanan ekonomi desa. Kondisi tersebut masih ditemukan pada sebagian pelaku usaha mikro di Desa Sirnamanah yang belum memiliki pembukuan usaha, masih mencampurkan keuangan usaha dan rumah tangga, serta belum memanfaatkan pemasaran digital secara optimal. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan literasi keuangan, kapasitas kewirausahaan, dan ketahanan ekonomi masyarakat melalui “Model Pendampingan Terintegrasi Literasi Keuangan dan Inkubasi Kewirausahaan Berbasis Potensi Lokal”. Program dilaksanakan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang meliputi asesmen kebutuhan, pelatihan, inkubasi usaha, financial coaching, business mentoring, serta monitoring dan evaluasi. Kegiatan melibatkan 40 peserta, yang terdiri atas 25 pelaku UMKM, 10 ibu rumah tangga produktif, dan 5 pemuda calon wirausaha. Evaluasi dilakukan menggunakan desain pre-test dan post-test, observasi, wawancara, serta dokumentasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa rata-rata skor literasi keuangan meningkat dari 54,3 menjadi 82,5 atau naik 28,2 poin (51,9%). Persentase peserta yang mampu menyusun pembukuan sederhana meningkat dari 27,5% menjadi 90,0%, peserta yang memisahkan keuangan usaha dan rumah tangga meningkat dari 25,0% menjadi 87,5 dan penggunaan media digital untuk pemasaran meningkat dari 30,0% menjadi 80,0%. Selain itu, omzet usaha peserta mengalami peningkatan rata-rata sekitar 20% selama masa pendampingan. Temuan ini menunjukkan bahwa model pendampingan terintegrasi lebih efektif dibandingkan pelatihan konvensional karena tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga mendorong perubahan perilaku pengelolaan usaha secara berkelanjutan. Model ini berpotensi direplikasi sebagai strategi pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal pada desa-desa dengan karakteristik serupa.