Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

KOMUNIKASI PARTISIPATIF PT. WIRAKARYA SAKTI DALAM IMPLEMENTASI CSR PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA SUNGAI KERUH: PERSPEKTIF TEORI INFORMASI ORGANISASI WEICK Qotrun Nada; Noor Khalida Magfirah; Samia Elviria; Maielayuskha Maielayuskha
Jurnal Ilmu Komunikasi UHO : Jurnal Penelitian Kajian Ilmu Komunikasi dan Informasi Vol. 11 No. 2 (2026): EDISI JULI
Publisher : Laboratorium Ilmu Komunikasi Fisip UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/jikuho.v11i2.2030

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis komunikasi partisipatif program CSR PT. Wirakarya Sakti di Desa Sungai Keruh, Jambi, serta mengidentifikasi hambatan implementasinya. Penelitian menggunakan Teori Informasi Organisasi Karl Weick dan konsep pemberdayaan masyarakat (enabling, empowering, protecting). Metode deskriptif kualitatif diterapkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap manajemen CSR, humas distrik, kepala desa, dan dua masyarakat penerima manfaat. Keabsahan data diperoleh melalui perpanjangan keikutsertaan dan triangulasi sumber. Hasil menunjukkan komunikasi partisipatif CSR belum optimal. Lingkungan informasi kaya namun tidak dikelola secara sistematis sehingga menimbulkan ketidakjelasan (equivocality). Aturan CSR disusun secara sepihak dan kurang disosialisasikan, sementara siklus komunikasi tidak berlangsung utuh karena sosialisasi hanya dilakukan sekali, umpan balik masyarakat tidak terakomodasi, dan tidak ada penyesuaian kebijakan. Proses enactment, selection, dan retention belum menghasilkan pembelajaran organisasi. Dari aspek pemberdayaan, enabling telah dilakukan, empowering hanya pada tahap awal tanpa pendampingan berkelanjutan, sedangkan protecting masih lemah. Implementasi CSR PT. WKS belum didukung komunikasi berkelanjutan, mekanisme umpan balik, dan dokumentasi pembelajaran kolektif. Perusahaan HTI perlu mentransformasi komunikasi CSR dari model top-down menjadi komunikasi partisipatif yang dialogis, berkelanjutan, dan sesuai dengan kapasitas kognitif masyarakat desa.