Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Analisa Akurasi Geometri Penggunaan Metode Injection Moulding Berbasis Printer 3D Untuk Produksi Implan Pada Bedah Cranioplasty Djoko Kuswanto; Alva Edy Tontowi; Taufik Hidayat; Agus Windharto; Arie Kurniawan
Jurnal Desain Idea: Jurnal Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Vol. 16 No. 1 (2017)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/iptek_desain.v16i1.2832

Abstract

Perkembangan teknologi printer 3D untuk medis, memungkinkan aplikasi produksi implan pra-operasi dengan keunggulan akurasi geometri yang baik, mengurangi waktu operasi dan resiko kehilangan banyak darah. Teknologi printer 3D paling populer dan potensial untuk dikembangkan masal di Indonenesia adalah fused deposition modeling/FDM. Akan tetapi memiliki kekurangan: single material, jenis material terbatas dan temperatur yang tinggi sehingga tidak bisa dicampur dengan material/senyawa bioaktif yang sensitif terhadap panas. Pengembangan metode injection moulding berbasis printer 3D telah dilakukan pada penelitian ini dengan melakukan modifikasi alat, material, tahapan dan sistim produksi implan pra-operasi yang mengacu pada teknologi printer 3D untuk cranioplasty yang sudah dilakukan di negara maju. Untuk memastikan modifikasi ini bisa menghasilkan implan pra-operasi dengan akurasi geometri yang diinginkan, dilakukan karakterisasi terhadap deviasi dimensi implan yang diproduksi yaitu deviasi volume, deviasi tebal, deviasi panjang linear dan deviasi sudut kelengkungan permukaan implan, pada dua metode berbeda yang diuji, yaitu metode cranial/intra operatif dan metode injection moulding dengan menggunakan material polymethylmethacrylate/ PMMA. Hasil yang didapatkan adalah deviasi volume implan yaitu sebesar 1.87 ± 1.27 % (injection moulding) dibandingkan 11.39 ± 3.71 % (metode cranial), deviasi tebal sebesar 2.54 ± 0.86 % (injection moulding) dibandingkan 7.35 ± 1.43 % (metode cranial), deviasi panjang linear sebesar 2.61 ± 0.47% (injection moulding) dibandingkan 5.76 ± 0.79 % (metode cranial) dan deviasi sudut kelengkungan permukaan sebesar 0.98 ± 0 % (injection moulding) dibandingkan 15.45 ± 3.94 % (metode cranial). Dapat diambil kesimpulan bahwa metode injection moulding lebih baik daripada metode cranial/intra operatif. Manufacture of pre-surgery implant may shorten the surgery duration and blood loss risk which provide medical benefit for patient. Additive manufacturing technology (AMT) have been applied in manufacture of pre-implant for cranioplasty surgery. Application of AMT allows production of pre-surgery implant with good geometrical accuracy. The most popular and potential printer 3D technology for mass developed in medical, is fused deposition modeling/FDM, because capable of producing its porosity high with a pattern laydown and the mechanical force good. However, FDM technology have some drawbacks i.e. the use of single type material, limited types of materials, and operation at high temperatures. This research was conducted to develop pre-surgery implants based on additive manufacturing technology to reconstruct and redesign cranial bone defects in Indonesia. This research produced 3D printer-based of injection moulding method by modifying tools, materials, steps, and pre-surgery implants production system based on the additive manufacturing for cranioplasty. Geomatrical accuracy of implant was measured in term of volume deviation, thickness deviation, linear length deviation and surface curve angle deviation of implants. The study comparing two different methods tested: cranial/intra-operative method and injection moulding method using PMMA material. The result showed that implant manufactured by 3D printer based mould have a higher geometrical accuracy as compared to cranial method. Volume deviation on the produced implants is 1.87 ± 1.27 % (injection moulding) compared to 11.39 ± 3.71 % (cranial method), thickness deviation of 2.54 ± 0.86 % (injection moulding) compared to 7.35 ± 1.43 % (cranial method), linear length deviation of 2.61 ± 0.47% (injection moulding) compared to 5.76 ± 0.79 % (cranial method), curve length deviation of 1.54 ± 0.77% (injection moulding) compared to 6.34 ± 0.99 % (cranial method) and surface curve angle deviation of 0.98 ± 0 % (injection moulding) compared to 15.45 ± 3.94 % (cranial method). From the data, it can be concluded that the injection moulding method is better suited than the cranial/intra-operative method.
Prototipe Mesin CNC 3 Axis Sederhana untuk IKM Mainan Edukasi Berbahan Kayu Andhika Estiyono; Arie Kurniawan; Ari Dwi Krisbianto
Jurnal Desain Idea: Jurnal Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Vol. 17 No. 2 (2018)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/iptek_desain.v17i2.4686

Abstract

Pembuatan mainan pendidikan (educational toys) puzzle secara manual dimana dalam usahanya untuk mencapai kepresisian bentuk masih menemui banyak kesulitan. Kesulitan yang dialami meliputi pembuatan masih terpisah satu-persatu di tiap bentuknya, bentuk yang satu dengan yang lain yang serupa namun memiliki ukuran yang tidak seragam dan kebutuhan proses produksi yang lebih cepat. Metode yang ditawarkan adalah proses pembuatan dan pemotongan dengan menggunakan mesin CNC dengan sekali proses pengerjaan. Diharapkan dengan menggunakan mesin CNC woodworking kebutuhan dalam pembuatan bentuk mainan yang presisi dapat tercapai dan dapat dilakukan dengan lebih cepat sehingga menambah produktifitas IKM. There are still many adversities to achieve precision on puzzle educational toys making. The complications are separate making one by one in its form, dissimilarity in its size and to quicken production process. Manufacturing and cutting process using CNC machine is offered method for its solution. Woodworking CNC machine are able to do one process at a time, more precision, faster and able to gain small-medium industries (IKM) productivity.
Media Interaktif Belajar Budaya di Museum Lumajang Primaditya Hakim; Arie Kurniawan; Naila Maharani Vianahar
Jurnal Desain Idea: Jurnal Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Vol. 18 No. 2 (2019)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/iptek_desain.v18i2.6208

Abstract

Museum menjadi sarana menanamkan nilai budaya, edukasi dan karakter pada anak-anak. Museum Lumajang yang berdiri pada tahun 2015 melakukan pengembangan untuk meningkatkan jumlah pengunjung, terutama anakanak. Museum Lumajang membutuhkan media interaktif untuk menarik pengunjung menanamkan informasi, kesan, dan pengalaman. Untuk mencapai tujuan tersebut dulakukan penelitian studi media interaktif di Museum Lumajang. Studi rekonstruksi sejarah dilakukan untuk mengetahui sejarah, alur cerita dan nilai yang terkandung dalam sejarah kesenian Lumajang. Analisa roleplay permainan dilakukan untuk menerapkan alur cerita nilai karakter dan edukasi pada skenario permainan. Studi tata letak digunakan untuk menerapkan skenario permainan pada ruang budaya Museum Lumajang. Dari penelitian ini dihasilkan sebuah media interaktif mengenal kesenian Lumajang untuk anak-anak dengan konsep interaktif. Permainan ini mengajarkan sejarah kesenian Lumajang dalam sebuah alur game yang runtut. Terdapat beberapa tahap dengan urutan: anak melihat story telling sejarah secara visual, menginterpersonakan dirinya sebagai tokoh sejarah, memakaikan kostum kuda, menaiki kuda hingga garis finish, dan mengembalikan properti mainan. Game ini dapat melatih kognitif, motorik (halus), budaya, sosial dan emosi. Museums are instruments to engendering cultural values, education, and character for children. Lumajang Museum, established in 2015, is being developed to increase the number of visitors, especially children. Interactive media is required to interact children, deliver information and experience them along their visit. To pursue interactive media development, some researches have been conducted. Reconstruction of Lumajang historical story is studied to build an authentic story planning, roleplay analysis is conducted to arrange a story plot including character engendering and education values. Plotting area is studied to put in the game into Lumajang museum, specifically in the area of culture. The research resulting in an interactive media which introducing Lumajang culture for children by a chronologic game. It is divided into some zones: begin with watching visual story of Lumajang culture, playing a role as a historical figure of the story, setting up costumes for a horse to represent a historical culture of Lumajang. riding the horse in a path, the last is cleaning up the game property to the prepared box. The game trains cognitive and motoric ability for children (behavioral, culture, social and emotion).
Desain Sepeda Rotan dengan Rekayasa Material Rotan Resin Arie Kurniawan; Agus Windharto; Nur Ameliyah Rizkiyah
Jurnal Desain Idea: Jurnal Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Vol. 19 No. 1 (2020)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/iptek_desain.v19i1.7010

Abstract

Upaya pemerintah Indonesia dalam meningkatkan daya saing rotan adalah mengarahkan pengembangan produk rotan pada produk yang menyangkut gaya hidup masyarakat. Salah satu produk yang menjadi konsumsi gaya hidup dan tidak pernah mati adalah sepeda. Rancang bangun dan prototyping sepeda rotan adalah salah satu inovasi dan kontribusi peningkatan daya saing material rotan. Rotan belum diujicoba sebagai struktur sepeda sedangkan utilitas sepeda tergantung pada struktur pembentuk rangka. Permasalahan yang terjadi pada saat menggunakan material rotan sebagai struktur rangka sepeda adalah kekuatannya. Oleh karena itu perlu strategi dalam desain rangka sepeda berbahan rotan. Dalam proses desain rangka sepeda sebagai struktur diperlukan strategi dalam : penentuan geometri sepeda, rekayasa material rotan batang dan sambungan struktur rangka rotan. Metode uji eksperimen material dilakukan dengan uji laboratorium guna mengetahui peningkatan kualitas rotan. Hasil dari penelitian ini menyebutkan bahwa untuk geometri sepeda disesuaikan dengan utilitasnya, sedangkan strukturnya lebih baik menggunakan struktur tertutup rotan batang. Untuk rekayasa material rotan penggunaan resin infusion terbukti dapat meningkatkan kekuatan batang rotan hingga lima kali lipat. Beberapa bagian dari rangka sepeda tetap menggunakan sambungan metal sebagai pengunci struktur sehingga struktur rotan dapat menjadi kontruksi yang baik pada desain sepeda. Indonesian government in improving the competitiveness of rattan are to direct the development of rattan products on products that involve the lifestyle of the community. The product that is a lifestyle consumption and never dies is a bicycle. The design and prototyping of rattan bikes is one of the innovations and contributions to increase the competitiveness of rattan materials. Rattan has not been tested as a bicycle structure while bicycle utilities depend on the frame-forming structure. The problem that occurs when using rattan material as a bicycle frame structure is its strength. Therefore we need a strategy in the design development of a bicycle frame made from rattan. In the process of designing a bicycle frame as a structure, strategies are needed: determining the geometry of the bicycle, engineering the material of the rattan rodstick and the connection of the rattan frame structure. The material experiment test method is carried out with laboratory tests to determine the quality of rattan. The results of this study indicate that for bicycle geometry adapted to its utility, while the structure is better to use a diamond structure. For the engineering of rattan materials the use of infusion resins is proven to increase the strength of rattan rods-stick up to five hundred percent. Some parts of the bicycle frame still use a metal connection as a locking structure so that the rattan structure can be a good construction of the bicycle design.
Desain Workstation Dental Simulator untuk Laboratorium Fakultas Kedokteran Gigi Taufik Hidayat; Andhika Estiyono; Arie Kurniawan; Ari Dwi Krisbianto
Jurnal Desain Idea: Jurnal Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Vol. 19 No. 2 (2020)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/iptek_desain.v19i2.7947

Abstract

Dental simulator merupakan salah satu media praktikum pada fakultas kedokteran gigi. Terdapat banyak sekolah kedokteran gigi di Indonesia yang membutuhkan peralatan dental simulator dalam media pembelajarannya. Aspek yang dibutuhkan dalam perancangan dental simulator meliputi aspek ergonomi, aspek efisiensi, aspek kualitas dan aspek ekonomi. Dimensi produk sangat dipengaruhi oleh aspek ergonomi, ditentukan pula oleh ruang dan studi yang diperoleh dari eksisting. Eksisting merupakan produk yang selama ini dipakai oleh sekolah kedokteran gigi dan produk import yang akan dilakukan reverse engineering. Penelitian dilakukan dengan cara melakukan perubahan meja eksisting yang digunakan oleh sekolah dengan penambahan komponen import. Selanjutnya akan dilakukan pengembangan prototipe yang lebih baik sesuai kebutuhan. Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah desain baru yang mampu menjadi pengganti workstation yang diimport secara utuh sehingga lebih ekonomis, pemberdayaan UKM, peningkatan teknologi dan komponen dalam negeri serta mampu menghasilkan sebuah workstation yang lebih sesuai sekolah kedokteran gigi di Indonesia. Dental simulator is one of the practicum media in the faculty of dentistry. There are many dental schools in Indonesia which require dental simulator equipment in their learning process. Aspects needed in the design of dental simulators include ergonomics, efficiency, quality, and economic. The dimensions of the product are strongly influenced by the ergonomics aspects, also determined by the space and studies obtained from the existing. Existing includes products that have been used by dental schools and imported products that have been reverse engineering. The study was conducted by changing the existing table with the addition of imported components. Next, it will be done better prototype development and ready to be applied. The expected benefits in this research are, a new design that is able to replace workstations that are imported as a whole so that it is more economical, empowering SMEs, improving technology and domestic components and being able to produce a workstation that is more suitable and meets the needs of a dental school in Indonesia.
Studi Kebutuhan Desain Set Alat Manual Brew Coffee Untuk Coffee Shop Self-Service Dining Experience Dari Bahan Keramik Dan Kayu Nadhifa Dwiardriyani Soedirlan; Arie Kurniawan; Bambang Tristiyono
Jurnal Desain Idea: Jurnal Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Vol. 21 No. 2 (2022)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/iptek_desain.v21i2.12150

Abstract

Perkembangan kopi di dunia terbagi menjadi tiga, yaitu first wave coffee, second wave coffee, dan third wave coffee. Dalam first wave coffee diciptakan inovasi-inovasi baru yang mempermudah proses penyeduhan kopi yaitu dengan kopi instan, dan juga mesin self-service coffee. Pada second wave coffee, muncullah mesin espresso dan minuman-minuman berbasis espresso. Pada third wave coffee, kopi mulai terlihat sebagai minuman artisan, kemudian metode penyeduhan manual brew juga mulai dipopulerkan kembali dikarenakan hasil rasanya yang bervariasi dan juga dining experience yang unik. Alat manual brew coffee pun bervariasi, dan salah satu yang paling banyak digunakan di kalangan pegiat kopi adalah pour over. Pour over dapat dibuat dari beberapa material, seperti akrilik, plastik, keramik, kaca, dan metal, dengan bahan keramik yang paling mengeluarkan citra rasa yang maksimal dan clean menurut percobaan yang dilakukan oleh Otten Coffee. Namun keramik memiliki sifat menyimpan panas, sehingga berpotensi membahayakan tangan user saat digunakan setelah menyeduh dengan air panas. Melihat masalah ini, peneliti akan menggabungkan bahan keramik dan kayu untuk membuat alat pour over. Selain itu, peneliti akan mengangkat konsep self-service dan juga dining experience manual brew coffee untuk membuat set manual brew, termasuk alat seduh, carafe, dan cangkir, dari bahan keramik dan kayu. Dengan ini peneliti berharap dapat membuat suatu produk manual brew coffee yang dapat dinikmati dining experience nya oleh para pegiat kopi, khususnya yang masih pemula atau baru ingin belajar. The evolution of coffee drinks is divided into three waves: first wave coffee, second wave coffee, and third wave coffee. The first wave of coffee focused on innovations that simplify the process of brewing coffee, such as instant coffee and self-service coffee machines. In the second wave came the espresso machine as well as espresso-based drinks. In the third wave, coffee is starting to be seen as an artisan drink, with manual brewing methods coming back into popularity due to the various flavors and unique dining experiences each different method can produce. There are different kinds of manual brewers, with the most popular being the pour over brewer. Pour over brewers can be made from different materials, such as acrylic, plastic, ceramic, glass, and metal. An experiment by Otten Coffee shows that ceramic pour overs can extract the most flavors in each brew. However, ceramic has a heat retaining property, raising the risk of burn injury while using ceramic while brewing coffee with hot water. To solve this problem, we will combine wood and ceramic to make a pour over brewer. Furthermore, the concept of self-service dining experience will be applied into the making of a manual brew set, which will include the brewer, a carafe, and a few cups, using the materials wood and ceramic. Through this study we hope to create a manual brew set that can create a unique dining experience for coffee enthusiasts, especially those who are just beginning to study manual brewing.