Siti Nurdinah
Institut Agama Islam Imam Syafii Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

STRATEGI PENGUASAAN FI’IL AMR MELALUI PENDEKATAN KOMUNIKATIF PADA SISWA SEKOLAH DASAR ISLAM TERPADU Sabrina Ayuning Pawestri; Siti Nurdinah
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i3.12787

Abstract

Mastery of fi'il amr (imperative verbs) is a fundamental Arabic language competency essential for elementary school students' active communication skills. However, its instruction in Islamic Integrated Elementary Schools (SDIT) is still dominated by rote memorization of textual nahwu (grammar) rules, leaving students unable to apply it functionally. Prior studies on the Communicative Language Teaching (CLT) approach have largely focused on general speaking skills at the secondary and higher education levels, while its application to mastering fi'il amr at the elementary level remains understudied. This study offers novelty in the form of a CLT implementation framework specifically designed for teaching fi'il amr in SDIT settings. The study aims to describe the implementation of the communicative approach in mastering fi'il amr among sixth-grade students at SDIT Imam Ahmad, identify its supporting and inhibiting factors, and analyze its impact on students' communication skills. This study employed a descriptive qualitative approach, with Arabic language teachers and sixth-grade students selected purposively as subjects. Data were collected through participatory observation, semi-structured interviews, and documentation, validated using triangulation of techniques, and analyzed using the Miles and Huberman interactive model. The results show that CLT implementation was carried out through three stages: apperception-modeling, pair practice-role play, and reflection-rule reinforcement. Its success was supported by varied instructional media, teachers' ability to integrate approaches, and a school environment conducive to Arabic language habituation, though it still faced linguistic, psychological, and structural challenges. The communicative approach enhanced students' active engagement and functional use of fi'il amr, positioning it as an alternative strategy for more contextual and meaningful Arabic grammar instruction at the elementary level. ABSTRAK Penguasaan fi'il amr merupakan kompetensi dasar bahasa Arab yang penting bagi kemampuan komunikasi aktif siswa sekolah dasar, namun pembelajarannya di SDIT masih didominasi oleh hafalan kaidah nahwu secara tekstual sehingga siswa kurang mampu menerapkannya secara fungsional. Kajian Communicative Language Teaching (CLT) selama ini lebih banyak menyasar keterampilan berbicara secara umum di jenjang menengah dan perguruan tinggi, sementara penerapannya untuk penguasaan fi'il amr di sekolah dasar masih jarang diteliti. Penelitian ini menawarkan kebaruan berupa tahapan implementasi CLT yang dirancang khusus untuk pembelajaran fi'il amr di SDIT. Penelitian bertujuan mendeskripsikan implementasi pendekatan komunikatif dalam penguasaan fi'il amr pada siswa kelas VI SDIT Imam Ahmad, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya, serta menganalisis dampaknya terhadap kemampuan komunikasi siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek guru bahasa Arab dan siswa kelas VI yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, diuji keabsahannya dengan triangulasi teknik, dan dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil menunjukkan implementasi CLT dilaksanakan melalui tiga tahap: apersepsi-modeling, pair practice-role play, serta refleksi-penguatan kaidah. Keberhasilannya didukung media pembelajaran variatif, kemampuan guru mengintegrasikan pendekatan, dan lingkungan sekolah yang mendukung pembiasaan bahasa Arab, meski masih terkendala aspek linguistik, psikologis, dan struktural. Pendekatan komunikatif meningkatkan keterlibatan aktif siswa dan penggunaan fi'il amr secara fungsional, sehingga menjadi alternatif strategi pembelajaran tata bahasa Arab yang lebih kontekstual dan bermakna di sekolah dasar.
Eksistensi Bahasa Arab sebagai Instrumen Epistemologis dalam Penafsiran Al-Qur'an Dewi Sartika; Resy Mulyani; Siti Nurdinah
AL MUALLAQAT Vol. 5 No. 2 (2026): Dinamika Kajian Bahasa Arab
Publisher : Program Studi Bahasa dan Sastra Arab STAIN Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jurnalbsa.v5i2.2263

Abstract

Kajian tafsir Al-Qur'an memiliki keterkaitan yang erat dengan peran bahasa Arab sebagai media teks wahyu. Bahasa Arab tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai instrumen epistemologis yang membentuk pola pikir dalam memahami pesan-pesan Allah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana unsur-unsur linguistik bahasa Arab, seperti struktur sintaksis, morfologi, retorika, dan semantik, memengaruhi proses dan hasil penafsiran Al-Qur'an. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan desain deskriptif-analitis melalui pendekatan linguistik dan tafsir. Data primer diperoleh dari teks Al-Qur'an dan kitab-kitab tafsir berbahasa Arab, sedangkan data pendukung diperoleh dari literatur linguistik dan jurnal akademik modern. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan, dokumentasi, dan analisis teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Arab memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan pengetahuan tafsir, di mana perbedaan struktur kebahasaan dapat menimbulkan variasi penafsiran yang signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa pemahaman yang mendalam terhadap aspek-aspek linguistik merupakan prasyarat epistemologis yang tidak dapat diabaikan dalam studi Al-Qur'an. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan metodologi tafsir berbasis linguistik dan studi Al-Qur'an kontemporer.
COMPARATIVE ANALYSIS OF I‘RAB IN AL-TABARI AND AL-MISHBAH TAFSIR: IMPLICATIONS FOR QUR'ANIC MEANING VARIATIONS Siti Nurdinah; Ahmad Mantiq Alimuddin; Resy Mulyani; Dewi Sartika; Delima Afriyanti; Septi Alhani Asyifa
Lingeduca: Journal of Language and Education Studies Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Yayasan Adra Karima Hubbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70177/lingeduca.v5i3.4081

Abstract

Differences in i'rab analysis in Qur'anic exegesis have the potential to produce variations in meaning that impact theological, legal, and semantic aspects; however, comparative studies on its application in classical and contemporary exegesis remain limited. This study aims to analyze the comparative use of i'rab in Tafsir Al-Tabari and Tafsir Al-Mishbah and to explain its implications for variations in the meaning of the Qur'an. The study employs a qualitative approach using library research through a comparative (muq?ran) method. The data were analyzed based on five purposefully selected verses, including: Surah Ali ‘Imran [3]: 7, Surah Al-Ma’idah [5]: 6, Surah Al-Waqi’ah [56]: 79, Surah Al-A?zab [33]: 33, and QS Al-Baqarah [2]: 37. The analysis involved comparing i'rab forms, linguistic arguments, the use of qira'at and riwayat, as well as their implications for interpretation in both exegetical works. The results of the study show that in QS ?li 'Imr?n [3]: 7 and QS Al-Ma’idah [5]: 6, differences in i'rab have direct implications for theological interpretation and the establishment of legal rulings, whereas in QS Al-Waqi’ah [56]: 79, QS Al-A?zab [33]: 33, and QS Al-Baqarah [2]: 37, the function of i'rab develops through syntactic relations, the determination of referents, and the elaboration of meaning. Al-Tabari tends to use i'rab as the basis for tarjih, combined with qira'at and riwayat, whereas Quraish Shihab integrates grammatical analysis with historical, social, and contextual approaches. This study shows that i'rab not only serves to explain grammatical structure but also forms the basis for the formation of variations in meaning in accordance with each exegete’s methodological orientation.