Resy Mulyani
Institut Agama Islam Imam Syafii Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Eksistensi Bahasa Arab sebagai Instrumen Epistemologis dalam Penafsiran Al-Qur'an Dewi Sartika; Resy Mulyani; Siti Nurdinah
AL MUALLAQAT Vol. 5 No. 2 (2026): Dinamika Kajian Bahasa Arab
Publisher : Program Studi Bahasa dan Sastra Arab STAIN Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jurnalbsa.v5i2.2263

Abstract

Kajian tafsir Al-Qur'an memiliki keterkaitan yang erat dengan peran bahasa Arab sebagai media teks wahyu. Bahasa Arab tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai instrumen epistemologis yang membentuk pola pikir dalam memahami pesan-pesan Allah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana unsur-unsur linguistik bahasa Arab, seperti struktur sintaksis, morfologi, retorika, dan semantik, memengaruhi proses dan hasil penafsiran Al-Qur'an. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan desain deskriptif-analitis melalui pendekatan linguistik dan tafsir. Data primer diperoleh dari teks Al-Qur'an dan kitab-kitab tafsir berbahasa Arab, sedangkan data pendukung diperoleh dari literatur linguistik dan jurnal akademik modern. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan, dokumentasi, dan analisis teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Arab memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan pengetahuan tafsir, di mana perbedaan struktur kebahasaan dapat menimbulkan variasi penafsiran yang signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa pemahaman yang mendalam terhadap aspek-aspek linguistik merupakan prasyarat epistemologis yang tidak dapat diabaikan dalam studi Al-Qur'an. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan metodologi tafsir berbasis linguistik dan studi Al-Qur'an kontemporer.
PENERAPAN METODE TOTAL PHYSICAL RESPONSE TERINTEGRASI STORYTELLING DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN KATA KERJA BAHASA ARAB PADA SISWA MADRASAH IBTIDAIYAH Indah Rahma Zulikha; Resy Mulyani
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.13191

Abstract

Arabic language learning in Islamic elementary schools remains dominated by conventional methods that provide limited physical engagement and, therefore, have not optimally accommodated students’ learning characteristics. Although the Total Physical Response (TPR) method has been widely applied in Arabic vocabulary instruction, studies specifically examining Arabic verb (fi'il) comprehension among students in Islamic elementary schools within tahfidz Islamic boarding school settings remain limited. This study offers novelty through the implementation of the TPR method integrated with storytelling to improve students’ understanding of fi'il. The study aimed to analyze the implementation of the TPR method integrated with storytelling in improving Arabic verb comprehension among students at MI Pondok Pesantren Tahfidz Al-Manshurah Pekanbaru. The study employed a quantitative approach with a quasi-experimental non-equivalent control group design. Data were collected through pretests and posttests and analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank Test, Mann–Whitney U Test, and N-Gain analysis. The findings showed that the experimental group demonstrated greater improvement in fi'il comprehension than the control group. The improvement in the experimental group was statistically significant based on the Wilcoxon Signed-Rank Test, with a significance value of 0.002. However, the Mann–Whitney U Test indicated that the difference in learning outcomes between the two groups did not reach statistical significance at the 5% level (p = 0.056). The experimental group also obtained higher mean posttest and N-Gain scores than the control group. Therefore, the implementation of the TPR method integrated with storytelling demonstrated a positive tendency to improve Arabic verb comprehension, although its effectiveness compared with conventional instruction requires further investigation. ABSTRAK Pembelajaran bahasa Arab di Madrasah Ibtidaiyah masih didominasi metode konvensional yang kurang melibatkan aktivitas fisik sehingga belum optimal mendukung karakteristik belajar siswa. Meskipun metode Total Physical Response (TPR) telah banyak diterapkan dalam pembelajaran kosakata bahasa Arab, penelitian yang secara khusus mengkaji pemahaman kata kerja (fi'il) pada Madrasah Ibtidaiyah berbasis pesantren tahfidz masih terbatas. Penelitian ini menawarkan kebaruan melalui penerapan metode TPR yang diintegrasikan dengan storytelling untuk meningkatkan pemahaman fi'il. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan metode TPR yang diintegrasikan dengan storytelling dalam meningkatkan pemahaman kata kerja bahasa Arab pada siswa MI Pondok Pesantren Tahfidz Al-Manshurah Pekanbaru.  Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-experimental tipe non-equivalent control group. Data dikumpulkan melalui pretest dan posttest, kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank Test, Mann-Whitney U, dan N-Gain Score. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas eksperimen mengalami peningkatan pemahaman fi'il yang lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Peningkatan pada kelas eksperimen terbukti signifikan berdasarkan hasil uji Wilcoxon Signed-Rank Test dengan nilai signifikansi 0,002. Namun, hasil uji Mann–Whitney U menunjukkan bahwa perbedaan hasil belajar antara kedua kelompok belum mencapai signifikansi statistik pada taraf 5% (p = 0,056). Nilai rata-rata posttest dan N-Gain kelas eksperimen juga lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Dengan demikian, penerapan metode TPR yang dipadukan dengan storytelling menunjukkan kecenderungan peningkatan pemahaman kata kerja bahasa Arab yang lebih baik, tetapi efektivitasnya dibandingkan pembelajaran konvensional masih memerlukan pengujian lebih lanjut.
COMPARATIVE ANALYSIS OF I‘RAB IN AL-TABARI AND AL-MISHBAH TAFSIR: IMPLICATIONS FOR QUR'ANIC MEANING VARIATIONS Siti Nurdinah; Ahmad Mantiq Alimuddin; Resy Mulyani; Dewi Sartika; Delima Afriyanti; Septi Alhani Asyifa
Lingeduca: Journal of Language and Education Studies Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Yayasan Adra Karima Hubbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70177/lingeduca.v5i3.4081

Abstract

Differences in i'rab analysis in Qur'anic exegesis have the potential to produce variations in meaning that impact theological, legal, and semantic aspects; however, comparative studies on its application in classical and contemporary exegesis remain limited. This study aims to analyze the comparative use of i'rab in Tafsir Al-Tabari and Tafsir Al-Mishbah and to explain its implications for variations in the meaning of the Qur'an. The study employs a qualitative approach using library research through a comparative (muq?ran) method. The data were analyzed based on five purposefully selected verses, including: Surah Ali ‘Imran [3]: 7, Surah Al-Ma’idah [5]: 6, Surah Al-Waqi’ah [56]: 79, Surah Al-A?zab [33]: 33, and QS Al-Baqarah [2]: 37. The analysis involved comparing i'rab forms, linguistic arguments, the use of qira'at and riwayat, as well as their implications for interpretation in both exegetical works. The results of the study show that in QS ?li 'Imr?n [3]: 7 and QS Al-Ma’idah [5]: 6, differences in i'rab have direct implications for theological interpretation and the establishment of legal rulings, whereas in QS Al-Waqi’ah [56]: 79, QS Al-A?zab [33]: 33, and QS Al-Baqarah [2]: 37, the function of i'rab develops through syntactic relations, the determination of referents, and the elaboration of meaning. Al-Tabari tends to use i'rab as the basis for tarjih, combined with qira'at and riwayat, whereas Quraish Shihab integrates grammatical analysis with historical, social, and contextual approaches. This study shows that i'rab not only serves to explain grammatical structure but also forms the basis for the formation of variations in meaning in accordance with each exegete’s methodological orientation.