Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pergumulan spiritual dan strategi koping religius Raja Hizkia berdasarkan teks 2 Raja-raja 20:1-6, yang memuat kisah Raja Hizkia ketika mengalami sakit bahkan dinubuatkan akan mati oleh Nabi Yesaya. Hizkia digambarkan sangat putus asa yang nampak dalam tangisan dan sikapnya ketika mendengar nubuatan tentang kematiannya dan dalam keputusasaan tersebut Hizkia memilih untuk menaikkan doa kepada Allah sebagai wujud penyerahan diri karena dia menyadari bahwa pergumulan yang dialami terjadi di luar kendalinya sebagai manusia yang terbatas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutik interdisipliner dan teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu studi kepustakaan dari buku maupun jurnal yang membahas tentang Kitab 2 Raja-raja 20:1-6, kehidupan Raja Hizkia, serta berbagai tulisan mengenai pergumulan spiritual dan strategi koping religius. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, dapat ditemukan bahwa pergumulan spiritual yang dialami Hizkia termasuk dalam divine struggle yang seringkali muncul pada kasus yang terjadi di luar keterbatasan manusia seperti kematian dan dalam konteks pergumulan Hizkia, dia meyakini Tuhan sebagai yang Mahakuasa. Mengatasi pergumulan tersebut, Hizkia menggunakan koping religius positif dengan pendekatan deferring yang nampak dalam sikap Hizkia ketika menghadapi pergumulan tersebut, yakni memilih untuk berpaling kepada Tuhan sebagai satu-satunya sosok yang dapat menolongnya untuk mengatasi pergumulan yang dia alami. Kata kunci: Raja Hizkia; pergumulan spiritual; strategi koping religius.