Dewi Susanti Atmaja
Universitas Sari Mulia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Profil Penggunaan Obat Antipsikotik Pada Pasien Skizofrenia Rawat Inap Di Rumah Sakit Jiwa Kalawa Atei Kalimantan Tengah Drajat Triwibowo; Darini Kurniawati; Yusuf Anggoro Mukti; Dewi Susanti Atmaja
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 4 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i4.1052

Abstract

Pendahuluan: Sebuah kondisi psikotik yang melibatkan pengunduran diri sosial, gangguan emosional, dan afektif dengan kemungkinan halusinasi dan delusi. Salah satu pendekatan utama dalam penanganan skizofrenia adalah pemberian obat antipsikotik. Antipsikotik merupakan agen yang digunakan dalam pengobatan gangguan psikotik, gangguan mental berat. Penggolongan antipsikotik dibagi menjadi dua, yaitu antipsikotik tipikal dan antipsikotik atipikal. Tujuan: Mengetahui profil penggunaan obat antipsikotik pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Jiwa  Kalawa Atei Kalimantan Tengah. Metode: Jenis penelitian yang diterapkan merupakan studi kuantitatif non-eksperimen, dengan rancangan penelitian deskriptif observasional yang dilakukan melalui telaah terhadap data rekam medis pasien skizofrenia yang menjalani perawatan rawat inap. Hasil: didapatkan data dari 181 pasien yang menjalani rawat inap periode Januari–Agustus 2025 dengan jumlah terbanyak berjenis kelamin laki-laki yaitu 146 pasien (80,66%) dan perempuan yaitu 35 pasien (19,34%), dengan rentang umur 25 – 50 tahun berjumlah 122 pasien (67,40%). Skizofrenia (F20) sebanyak 100 pasien (55,25%). Kemudian, tipe skizofrenia tidak terorganisasi sebanyak 47 pasien (25,97%) dan tipe skizofrenia tak terdeferensiasi sebanyak 30 pasien (16,57%). Penggunaan Antipsikotik Tipikal (Generasi Pertama) (Haloperidol + Trifluoperazin + Chlorpromazin). Haloperidol 5 mg  menjadi obat yang paling dominan di seluruh kelompok. Haloperidol dikenal efektif untuk mengatasi gejala positif akut (halusinasi, delusi) dan sering digunakan dalam situasi kegawatdaruratan psikiatri (agitasi atau mengamuk). Simpulan: Penggunaan obat terbanyak adalah antipsikotik kombinasi tipikal dan atipikal, terutama chlorpromazine, fluphenazine, olanzapine, dan clozapine. Lorazepam dan Diazepam digunakan sebagai terapi adjuvan untuk mengatasi kecemasan, insomnia, atau agitasi akut pada pasien skizofrenia.  Trihexyfenidil 2 mg dari agen antikolinergik ini menunjukkan adanya upaya pencegahan atau pengobatan EPS yang diinduksi oleh antipsikotik, terutama Haloperidol dan antipsikotik tipikal lainnya.
Profil Penggunaan Insulin Dan Oral Antidiabetika (OAD) PASIEN Rawat Jalan RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor Tahun 2025 Masriani Masriani; Darini Kurniawati; Rina Saputri; Dewi Susanti Atmaja
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 6 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i6.1796

Abstract

Latar Belakang: Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronis dengan prevalensi yang terus meningkat dan memerlukan terapi farmakologis jangka panjang, baik menggunakan insulin maupun oral antidiabetika (OAD). Peningkatan jumlah pasien DM berimplikasi pada meningkatnya penggunaan obat antidiabetika, sehingga diperlukan data profil penggunaan insulin dan OAD sebagai dasar evaluasi terapi dan perencanaan pengadaan obat. Tujuan: Untuk mengetahui profil penggunaan insulin dan OAD pada pasien di instalasi rawat jalan klinik penyakit dalam di RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor. Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan rancangan observasional deskriptif dan pendekatan retrospektif. Jumlah sampel sebanyak 110 pasien yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien DM berada pada rentang usia 30–59 tahun. Pasien perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Berdasarkan pekerjaan, sebagian besar pasien merupakan ibu rumah tangga. Jenis insulin yang digunakan meliputi novorapid, levemir, humalog, dan rizodeg, dengan penggunaan terbanyak berupa kombinasi insulin novorapid–levemir. OAD yang paling banyak digunakan adalah metformin 500 mg dan glimepiride 2 mg. Pemberian insulin dilakukan secara subkutan dengan dosis terbanyak 10–20 IU per hari, sedangkan OAD diberikan secara oral dengan frekuensi 2–3 kali sehari. Simpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa profil penggunaan insulin dan OAD pada pasien DM rawat jalan di RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor didominasi oleh terapi kombinasi insulin dan penggunaan OAD metformin, dengan pola dosis dan rute pemberian yang sesuai dengan pedoman terapi diabetes melitus nasional.