Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Uji Stabilitas Fisik Formula Sediaan Krim Ekstrak Etanol Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) Ikbal Ikbal; Nurul Hikmah; Azima M
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1144

Abstract

Daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) diketahui mengandung berbagai metabolit sekunder, antara lain alkaloid, flavonoid, saponin, dan steroid, yang memiliki potensi aktivitas antibakteri sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan aktif dalam sediaan antijerawat. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh perbedaan konsentrasi asam stearat dan trietanolamin terhadap sifat fisik krim ekstrak etanol daun pandan wangi, serta menentukan formula dengan tingkat stabilitas fisik terbaik. Ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%, kemudian ekstrak diformulasikan ke dalam tiga variasi formula, yaitu F1 (8% : 2%), F2 (10% : 3%), dan F3 (12% : 4%). Pengujian stabilitas fisik mencakup pemeriksaan organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, dan daya lekat yang dilakukan sebelum dan setelah penyimpanan dalam climatic chamber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula tidak mengalami perubahan pada warna, aroma, maupun bentuk sediaan. Rata-rata nilai pH mengalami sedikit peningkatan dari 5,03 menjadi 5,31, viskositas menurun dari 37.000 cPs menjadi 30.000 cPs, daya sebar relatif stabil dari 5,23 cm menjadi 5,19 cm, dan daya lekat mengalami penurunan ringan dari 6,4 detik menjadi 6 detik. Secara umum, perubahan tersebut masih berada dalam rentang yang dapat diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa variasi konsentrasi emulgator berpengaruh terhadap karakteristik fisik krim, dengan formula F3 menunjukkan stabilitas fisik yang paling optimal.
Pendekatan Biotransformasi Mikroorganisme untuk Konversi Brazilin Menjadi Brazilein pada Kayu Secang Andi Ardiansyah Arifin; Ikbal Ikbal; Ainun Nisa
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 23 No. 01 Juli 2026
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Brazilin dan brazilein merupakan dua senyawa homoisoflavonoid utama yang ditemukan dalam secang (Caesalpinia sappan L.). Transformasi oksidatif brazilin menjadi brazilein diketahui meningkatkan aktivitas biofarmasi yang penting, termasuk efek antioksidan, antikanker, dan antidiabetik. Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai proses konversi ini menjadi kunci dalam pengembangan produk herbal standar dan fitofarmaka. Biotransformasi mikroba menawarkan pendekatan yang lebih selektif, efisien, dan aman, dibandingkan dengan metode oksidasi kimia konvensional. Ulasan artikel ini menyajikan rangkuman komprehensif mengenai dasar kimia dan biokimia konversi brazilin menjadi brazilein, termasuk mekanisme oksidasi serta faktor-faktor yang memengaruhi efisiensi transformasi. Ulasan ini juga menghimpun perkembangan penelitian global terkait biotransformasi menggunakan bakteri dan fungi, dengan menyoroti potensi genera seperti Aspergillus, Penicillium, Rhizopus, Streptomyces, Bacillus, serta berbagai mikroba endofit yang menunjukkan kemampuan oksidasi terhadap senyawa fenolik. Selain itu, ulasan ini mengidentifikasi prospek besar yang ditawarkan oleh keanekaragaman mikroorganisme Indonesia, yang berasal dari ekosistem mangrove, gambut, hutan tropis, serta berbagai tanaman obat endofitik. Kekayaan biodiversitas ini berpotensi menjadi sumber enzim oksidatif baru dan strain unggul untuk biokatalisis. Di sisi lain, tantangan seperti minimnya karakterisasi mikroorganisme lokal, keterbatasan data genomik, dan belum optimalnya platform fermentasi masih menjadi hambatan yang perlu diatasi. Dengan demikian, pengembangan teknologi biotransformasi berbasis mikroorganisme lokal dapat memperkuat nilai tambah secang, mendukung kemandirian bahan baku obat alam, serta mendorong kemajuan inovasi bioteknologi bahan alam di tingkat nasional dan global.