Suparmi
Jurusan Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Riau

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Studi Mutu Dadu Ikan Malong Kering (Muraenesox cinerus) dengan Kemasan Vakum dan Nonvakum Selama Penyimpanan Suhelvira; Suparmi; Sumarto
Indonesian Journal of Fish Processing Technology Vol. 1 No. 1 (2023)
Publisher : Department of Fish Processing Technology, Faculty of Fisheries and Marine, Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/a6dz4g51

Abstract

Ikan malong (Muraenesox cinerus) merupakan salah satu jenis ikan demersal yang hidup hingga kedalaman 100 m di muara-muara sungai, selain dapat digunakan untuk bahan baku pada industri surimi juga dapat dimanfaatkan untuk bahan baku berbagai produk olahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan mutu ikan malong kering berbentuk potongan dadu yang dikemas dengan vakum dan nonvakum. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen yaitu melakukan percobaan pembuatan ikan malong kering berbentuk potongan dadu yang dikemas dengan HDPE (High Density Poly Ethylene) Vakum (X1) dan nonvakum (X2), dengan lama penyimpanan yaitu P0 (0 hari), P1 (15 hari), P2 (30 hari), dengan konsentrasi garam 20%. Hasil penelitian menunjukkan pengemasan vakum dengan penyimpanan 15 hari memiliki nilai terbaik dengan nilai kenampakan 6,01 (warna yang masih cemerlang dan bentuk dadu yang masih utuh). Pada nilai bau 6,52 (bau masih bisa diterima oleh panelis karena dadu ikan malong kering masih memiliki bau yang khas seperti ikan kering). Pada nilai rasa 6,25 (rasa masih diterima oleh panelis karena perubahan rasa yang tidak berbeda jauh dari 0 hari). Nilai tekstur 5,45 memiliki nilai terbaik karena kemasan vakum tidak terdapat udara yang menyebabkan produk masih utuh. Nilai kadar air 22,49% pada dadu ikan malong kering semakin lama penyimpanan maka nilai kadar air semakin meningkat. Nilai kadar lemak dadu ikan malong kering tertinggi terdapat pada hari ke 30 kemasan vakum yaitu sekitar 8,02807%, dan nilai TPC terbaik 5,5x104 CFU/g. Perlakuan terbaik dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan mempertahankan mutu dadu ikan malong kering
Karakteristik Organoleptik Tepung Buah Nipah yang Difortifikasi dengan Hidrolisat Protein Udang Rebon (Acetes erythraeus): mangrove Suparmi; Sumarto; Hendro E; Isna R
Indonesian Journal of Fish Processing Technology Vol. 1 No. 1 (2023)
Publisher : Department of Fish Processing Technology, Faculty of Fisheries and Marine, Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/3nq8h962

Abstract

Provinsi Riau merupakan salah satu daerah yang memiliki hutan mangrove yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk memberikan manfaat baik sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari maupun dapat juga memberikan keuntungan secara ekonomi. Pada saat ini pemanfaatan hutan mangrove oleh masyarakat pesisir. Jenis tumbuhan mangrove yang buahnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan antara lain buah nipah (Nypa fruticans). Kandungan karbohidratnya yang tinggi berpotensi untuk digunakan sebagai pengganti makanan pokok seperti beras, jagung dan sagu atau dapat digunakan sebagai pengganti, fortifikasi dan penganekaragaman pangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan solusi penyediaan bahan makanan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen yaitu pengolahan tepung buah mangrove (nipah) dengan hidrolisat protein udang rebon yang difortifikasi pada konsentrasi yang berbeda yaitu: kontrol (M0), 20% (M1), 40% (M2), 60% (M3). Pengolahan tepung termodifikasi menggunakan metode Modified Heat Treatment (HMT). Parameter yang diamati adalah karakteristik organoleptik. Hasil yang diperoleh adalah perlakuan konsentrasi protein hidrolisat (M2) 40% merupakan hasil terbaik yaitu dengan. nilai organoleptik berdasarkan persentase uji penerimaan konsumen yang menyukai warna 88,50%, rasa 96,2%, aroma 93,2%, dan tekstur 95%, dengan ciri warna kuning cerah keputihan 98,90%, rasa gurih, aroma tidak terlalu amis, dan tekstur kering dan halus. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa tepung buah nipah disukai oleh konsumen karena dapat dijadikan makanan.
Pengaruh Penambahan Tepung Cangkang Kerang Hijau (Perna viridis) Terhadap Mutu Kerupuk Muslim Hidayat T; Suparmi; Dewita
Indonesian Journal of Fish Processing Technology Vol. 1 No. 1 (2023)
Publisher : Department of Fish Processing Technology, Faculty of Fisheries and Marine, Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/sa0q2f82

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung cangkang kerang hijau (Perna viridis) terhadap kualitas kripik. Metode yang digunakan adalah eksperimen pembuatan kripik dengan tepung cangkang hijau: tanpa penambahan tepung cangkang kerang hijau (A0), penambahan tepung cangkang kerang 5% (A1), penambahan tepung cangkang kerang hijau 10% (A2) dan penambahan tepung cangkang kerang hijau 15% penambahan tepung cangkang (A3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung cangkang kerang hijau tidak berpengaruh nyata terhadap warna, tepung, rasa dan kerenyahan kripik, tetapi berpengaruh nyata. Perlakuan terbaik adalah A3.
Pengaruh Penambahan Tepung Ikan Biang (Ilisha elongata) Terhadap Mutu Biskuit Usman Jujur Siregar; Sumarto; Suparmi
Indonesian Journal of Fish Processing Technology Vol. 1 No. 1 (2023)
Publisher : Department of Fish Processing Technology, Faculty of Fisheries and Marine, Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/7dvt5n04

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biskuit dengan penambahan tepung ikan biang. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan penambahan tepung ikan biang berbeda yaitu 0%, 2%, 4%, 6% dan 8%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biskuit dengan penambahan tepung ikan biang 4% merupakan perlakuan terbaik dengan kandungan nutrisi produk yaitu air 3,91%, protein 17,31%, lemak 19,53%, abu 2,43% dan karbohidrat 56,81% serta kandungan kalsium pada biskuit sebesar 438 mg/kg. Biskuit dengan penambahan tepung ikan biang dapat dijadikan makanan tambahan bergizi untuk semua kalangan masyarakat dalam rangka menunjang kesehatan.