Wiwin Narti
Institute Agama Islam Yasni Bungo

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Adaptive Implementation of Foreign-Language Regulation in an Indonesian Tahfidz Pesantren: A Qualitative Study of Bi'ah Lughawiyah Wismawati; Baili; Wiwin Narti
PIJAR: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol. 1 No. 1 (2022): Desember
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/pijar.v1i1.1595

Abstract

Regulasi bahasa asing telah menjadi instrumen berulang di pesantren Indonesia yang berusaha membangun lingkungan linguistik yang imersif, namun implementasi tingkat lapangan sering menyimpang dari desain kebijakan. Penelitian ini mengkaji bagaimana aturan bahasa asing diberlakukan, diperebutkan, dan diadaptasi di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Alhusna di Kabupaten Bungo, di mana bahasa Arab dan Inggris bergantian setiap minggu di semua interaksi sehari-hari. Desain kualitatif deskriptif digunakan; Data diperoleh melalui observasi partisipatif selama 18 jam di dua siklus rotasi, tiga wawancara semi terstruktur (koordinator bahasa, pengawas asrama, Santri senior) masing-masing berlangsung selama 45-60 menit, dan analisis dokumen jadwal bahasa, buku catatan Mufradat, dan catatan pengawasan. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña dan ditriangulasi berdasarkan sumber, metode, dan keterlibatan yang berkepanjangan. Tiga temuan muncul. Pertama, implementasi bertumpu pada empat pilar operasional—rotasi mingguan, pembinaan intensif (mufradat, muhadatsah, muhadharah), pengawasan berlapis, dan sistem sanksi-imbalan. Kedua, lima kendala berulang berpotongan: kesenjangan leksikal, penghambatan psikologis, kepadatan jadwal (≈16 jam aktif/hari), media pendukung terbatas, dan kemahiran dasar yang heterogen. Ketiga, empat strategi adaptif menstabilkan regulasi: pendampingan pribadi humanistik, penyediaan sumber daya linguistik secara bertahap, target yang dibedakan di tiga tingkat kemahiran, dan integrasi kepatuhan bahasa ke dalam kelas akhlaq. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan bi'ah lughawiyah kurang bergantung pada ketegasan regulasi daripada pada kemampuan beradaptasi manajerial, dukungan ekosistem, dan pendampingan humanistik yang mengkalibrasi ulang aturan ke heterogenitas peserta didik.
Implementing the Wafa Five-Stage (5P) Right-Brain Method in Qur’an Memorization at an Indonesian Primary School: A Qualitative Case Study of Pedagogical Adaptation Choirul Azimin; Sriani; Wiwin Narti; Andryadi
PIJAR: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 2 (2025): April
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/pijar.v3i2.1606

Abstract

Conventional Qur’an memorization (tahfidz) in Indonesian elementary schools often relies on uniform repetition that disregards the concrete-operational cognition of children aged 7–12, yielding fatigue, motivational decline, and uneven progress. The Wafa method, structured around a five-stage protocol (Opening, Experiencing, Teaching, Assessing, Closing abbreviated 5P) and grounded in right-brain multisensory learning, has been promoted as a pedagogical response, yet most existing studies report aggregate effectiveness without examining how classroom teachers operationalize and adapt it when contextual constraints emerge. This study therefore investigates the planning, enactment, encountered constraints, and adaptive strategies of the Wafa 5P method at SD Lab School Integrated SKB, Bungo Regency, Indonesia. A qualitative case-study design was employed; data were generated over a ten-week period (March–May 2024) through participant observation of 24 lessons, semi-structured interviews with eight purposively sampled informants (principal, four tahfidz teachers, three homeroom teachers), and document analysis. Analysis followed the Miles, Huberman, and Saldaña interactive model, with credibility secured through source and method triangulation and prolonged engagement. Findings show that the 5P protocol was implemented in full sequence but encountered three recurrent constraints: difficulty internalizing the Hijaz tonal pattern, irregular attendance linked to home distance, and heterogeneous memorization pace within a 35-minute slot shared with Dhuha prayer. Teachers responded with three contextual adaptations: routine playback of child-oriented murottal audio, autonomy-supportive responses to tardiness coupled with catch-up tasks, and a 14:30–17:00 supplementary tahfidz class. Findings reframe Wafa as a teacher-mediated, context-responsive system, contributing evidence for differentiated Qur’an instruction in primary education.