Yunita Sari
Prodi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pengambilan Keputusan Menikah Perempuan dengan Ayah Berselingkuh: Narrative Review Rahmah Aprili Setiani; Yunita Sari
Jurnal Riset Psikologi Volume 6, No. 1 Juli 2026, Jurnal Riset Psikologi (JRP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrp.v6i1.10376

Abstract

Abstract. Paternal infidelity has significant psychological and social impacts, particularly on daughters in the emerging adulthood phase. It may reduce trust in men, create relational trauma, and influence marriage decisions. This study aimed to examine the impact of paternal infidelity and the internal and external factors affecting marriage decision-making among women with unfaithful fathers. A systematic review of 10 scientific articles published between 2015 and 2025 was conducted using narrative analysis. The findings indicate that internal factors, including trauma, insecure attachment, and personal interpretations, together with external factors such as family environment, culture, and social media, shape women's perceptions of marriage. Many women choose to delay or avoid marriage, while others use their family experiences to develop healthier relationships. In conclusion, marriage decision-making is influenced by the interaction of internal and external factors. The study highlights the importance of premarital counseling, psychological support, and further research to strengthen women's resilience after experiencing paternal infidelitys. Abstrak. Perselingkuhan ayah menimbulkan dampak psikologis dan sosial yang mendalam, khususnya bagi anak perempuan pada fase emerging adulthood. Pengalaman ini dapat memengaruhi kepercayaan terhadap laki-laki, menimbulkan trauma relasional, serta memengaruhi keputusan menikah. Penelitian ini bertujuan meninjau dampak perselingkuhan ayah serta faktor internal dan eksternal yang memengaruhi pengambilan keputusan menikah pada perempuan dengan pengalaman ayah berselingkuh. Penelitian menggunakan metode systematic review terhadap 10 artikel ilmiah terbitan 2015–2025 yang dianalisis secara naratif. Hasil kajian menunjukkan bahwa trauma, pola attachment yang tidak aman, dan pemaknaan pribadi, serta lingkungan keluarga, budaya, dan media sosial, berperan dalam membentuk persepsi dan keputusan menikah. Sebagian perempuan memilih menunda atau menghindari pernikahan, sedangkan sebagian lainnya menjadikan pengalaman tersebut sebagai pembelajaran untuk membangun hubungan yang lebih sehat. Penelitian ini menekankan pentingnya konseling pranikah, dukungan psikologis, dan penelitian lanjutan untuk memperkuat resiliensi perempuan dalam menghadapi dampak perselingkuhan ayah.
Cinta di Era Algoritma: Tinjauan Naratif pada Fenomena Fictophilia Nasywa Annisa Salsabilla; Yunita Sari
Bandung Conference Series: Psychology Science 995-1002
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24250

Abstract

Abstract. The rapid advancement of digital technology has intensified interactions with fictional characters, giving rise to fictophilia, a strong emotional and/or sexual attraction toward fictional characters. Despite growing scholarly interest, empirical evidence on its psychological impacts remains limited. This study reviewed empirical research on the psychological impacts of fictophilia using a narrative literature review based on Ferrari's framework. Literature was searched in Google Scholar, Springer Nature, and ScienceDirect. Articles were screened using predefined inclusion and exclusion criteria with Rayyan AI and synthesized thematically. Of 86 identified articles, four empirical studies met the inclusion criteria. The findings indicate that fictophilia is associated with attachment dynamics, influences romantic partner preferences, and may provide emotional closeness while partially fulfilling affective needs. However, relationships with fictional characters cannot replace the reciprocity, trust, and commitment found in human relationships. Evidence regarding the role of fictophilia in emotion regulation and coping also remains limited, highlighting the need for further research Abstrak. Perkembangan teknologi digital telah meningkatkan intensitas interaksi individu dengan karakter fiksi sehingga memunculkan fenomena fictophilia, yaitu ketertarikan emosional dan/atau seksual yang kuat terhadap karakter fiksi. Meskipun semakin banyak dikaji, bukti empiris mengenai dampak psikologis fictophilia masih terbatas dan tersebar pada berbagai jenis media. Penelitian ini bertujuan meninjau penelitian terkait dampak psikologis fictophilia melalui pendekatan narrative literature review. Penelitian menggunakan metode narrative literature review dengan kerangka Ferrari. Pencarian literatur dilakukan melalui Google Scholar, Springer Nature, dan ScienceDirect. Artikel diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi menggunakan Rayyan AI, kemudian disintesis secara tematik. Dari 86 artikel yang diidentifikasi, empat artikel empiris memenuhi seluruh kriteria dan dianalisis dalam tinjauan ini. Hasil sintesis menunjukkan bahwa fictophilia berkaitan dengan dinamika kelekatan, mempengaruhi preferensi pasangan romantis, serta berpotensi memberikan pengalaman kedekatan emosional dan memenuhi sebagian kebutuhan afektif. Meskipun demikian, hubungan dengan karakter fiksi belum mampu menggantikan aspek relasional yang bergantung pada resiprositas, kepercayaan, dan komitmen dalam hubungan antarmanusia. Selain itu, bukti empiris mengenai peran fictophilia dalam regulasi emosi dan coping masih terbatas sehingga memerlukan penelitian lebih lanjut yang menguji kedua aspek tersebut secara langsung.
Paparan Media Sosial terhadap Self Esteem dan Body Dissatisfaction iqlima nurillah azzahra; Yunita Sari
Bandung Conference Series: Psychology Science 1131-1140
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24606

Abstract

Abstract. Appearance focused social media has become a primary space for adolescents and young adults to evaluate themselves through exposure to curated and edited images of the “ideal” body. This study aims to synthesize empirical evidence on the relationship between exposure to social media and beauty influencers and self esteem as well as body dissatisfaction through a narrative review. The research method involved a systematic review of 12 articles from online databases (2016–2026), selected based on inclusion criteria. The results revealed that content and activities focused on appearance were more consistently associated with body dissatisfaction than the duration of social media use. Upward appearance comparison emerged as the most consistent mechanism linking exposure to idealized images with body dissatisfaction. Meanwhile, self esteem is influenced by context and the tendency to compare oneself to others. This study provides a foundation for the development of more effective policies and prevention programs. Abstrak. Media sosial yang berpusat pada penampilan menjadi ruang utama bagi remaja dan dewasa muda untuk mengevaluasi diri melalui paparan citra tubuh ideal yang dikurasi dan diedit.Studi ini bertujuan menggabungkan bukti empiris mengenai hubungan paparan media sosial dan beauty influencer dengan self esteem serta body dissatisfaction melalui narrative review. Metode penelitian melibatkan tinjauan sistematis terhadap 12 artikel dari database online (2016–2025), yang diseleksi berdasarkan kriteria inklusi . Hasil penelitian mengungkapkan konten dan aktivitas berfokus pada penampilan lebih konsisten berkaitan dengan body dissatisfaction dibandingkan durasi penggunaan media sosial. Upward appearance comparison menjadi mekanisme yang paling konsisten dalam menghubungkan paparan citra ideal dengan body dissatisfaction. Sedangkan self esteem dipengaruhi konteks serta kecenderungan membandingkan diri. Studi ini memberikan dasar untuk pengembangan kebijakan dan program pencegahan yang lebih efektif.
Stigma Perempuan Jomlo Dewasa Madya di Asia Naia Widiawati Putri; Yunita Sari
Bandung Conference Series: Psychology Science 1459-1466
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25927

Abstract

Abstract. Middle-aged single women in Asia often face stigma due to their deviation from gender role norms. This study explores the experiences of stigma and the meanings attributed to single status among middle-aged women in Asia using a narrative literature review method. The research method involved a systematic review of two selected qualitative and quantitative articles from online databases (2022–2026), with inclusion criteria focusing on stigma and discrimination against middle-aged single women. Analyzed through the lens of Goffman’s stigma theory and Eagly & Wood’s social role theory, the findings indicatethat single women develop strong agency to reject negative labels. Singlehood is interpreted as a productive “waiting period” for independence and is subsequently reconstructed as “happy spinsters” in middle age. Social support and spirituality shape the meaning of “alone but not lonely.” In conclusion, single status is not a deviation from the norm but rather an empowering choice that fosters psychosocial resilience amid pro-natalist cultural pressures. Abstrak. Perempuan jomlo dewasa madya di Asia sering menghadapi stigma akibat ketidaksesuaian dengannorma peran gender. Penelitian ini mengeksplorasi pengalaman stigma dan pemaknaan status jomlo pada perempuan dewasa madya di Asia menggunakan metode Narrative Literature Review. Metode penelitian inimelibatkan tinjauan sistematis terhadap 2 artikel kualitatif dan kuantitatif terpilih dari database online (2022 – 2026), dengan kriteria inklusi stigma diskriminasi kepada perempuan jomlo usia dewasa madya. Dianalisismelalui lensa teori stigma Goffman dan teori peran sosial Eagly & Wood, temuan menunjukkan bahwaperempuan jomlo mengembangkan agensi kuat untuk menolak label negatif. Status jomlo dimaknai sebagaiwaithoodproduktif untuk kemandirian, kemudian dikonstruksi ulang sebagai "happy spinsters" di usia paruhbaya. Dukungan sosial dan spiritualitas membentuk pemaknaan "sendiri namun tidak kesepian". Kesimpulannya, status jomlo bukan penyimpangan norma, melainkan pilihan memberdayakan denganketahanan psikososial di tengah tekanan budaya pronatalis.