Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

GeoAI for Precision Public Health in Agrarian Economies: Multi-Disease Risk Profiling in Rice Belt in East Java Budi Fajar Supriyanto; Salihati Hanifa; Nesa Ayu Murthisari Putri; Titin Andriyani Atmojo; Waridad Umais Al Ayyubi
International Journal of Healthcare and Information Technology Vol. 3 No. 2 (2026): January
Publisher : P3M Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/ijhitech.v3i2.6646

Abstract

Public health and food security, particularly in the agribusiness sector, are interconnected. As one of the largest rice-producing provinces in Indonesia, East Java faces numerous infectious diseases. To develop a spatial typology of health-agribusiness risks, this study combines epidemiology, agribusiness, and computer science with a Geospatial Artificial Intelligence (GeoAI) approach.The data includes cases of ten infectious diseases (2015–2024), rice harvested area, number of farmers, and district/city population in East Java. Cases were normalized per 100,000 population, and agribusiness indicators were converted to harvested area per farmer ratios. The analysis used internal validation (silhouette score, Davies–Bouldin Index), K-Means clustering, and spatial validation (Moran's I). Results are displayed on OpenStreetMap.Agribusiness can be divided into three main typologies: (1) strong agribusiness with moderate risk; (2) multisector agribusiness with high risk and moderate agribusiness; and (3) moderate agribusiness with a prevalence of lung disease and diarrhea. Moran's I = -0.0263 (p=0.5678), indicating that spatial distribution is not significant. The results suggest that public health does not always correlate with food production intensity. By integrating epidemiology, agribusiness, and GeoAI to support appropriate public health in agricultural areas, this study adds to the international literature.
PERFORMA KEMASAN DAUN ALAMI DALAM MEMPERTAHANKAN MUTU TAPE SINGKONG SELAMA PENYIMPANAN Irzaq Galuh Pranata; Amelia Dwi Nugrahaini; Waridad Umais Al Ayyubi; Ahmad Haris Hasanuddin Slamet
JURNAL PERTANIAN CEMARA Vol 23 No 1 (2026): JURNAL PERTANIAN CEMARA (CENDEKIAWAN MADURA)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24929/fp.v23i1.5165

Abstract

Tape singkong memiliki umur simpan yang relatif pendek dikarenakan proses biokimia dan mikrobiologis yang masih berlanjut. Kondisi ini mempengaruhi stabilitas beberapa atribut mutu sensori. Penggunaan daun sebagai pengemas tradisional diyakini dapat mempertahankan atribut mutu, namun penelitian terkait efektivitas antar daun belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untu menganalisis penggunaan berbagai daun pembungkus yaitu daun pisang, daun sirih, daun salam, dan daun pandan terhadap mutu sensori tape selama penyimpanan. Penilaian sensori dilakukan oleh 28 responden menggunakan empat parameter mutu, yakni aroma, rasa, warna, dan tekstur. Analisis hasil atribut mutu dilakukan menggunakan metode ANOVA. Atribut yang menunjukkan signifikansi selanjutnya diuji dengan metode Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kemasan berpengaruh signifikan terhadap aroma (p = 0,007) dan tekstur (p = 0,029), namun tidak terhadap rasa maupun warna. Uji Duncan menunjukkan bahwa daun salam secara konsisten menghasilkan nilai aroma dan tekstur tertinggi, sementara daun sirih menempati posisi terendah pada kedua atribut tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa daun salam memiliki kemampuan lebih baik dalam mempertahankan stabilitas mutu tape selama penyimpanan. Secara praktis, hasil ini memberikan dasar ilmiah bagi pemilihan kemasan tradisional yang lebih efektif dalam memperpanjang umur simpan serta meningkatkan kualitas produk fermentasi lokal.