Ameylia Puspita Rosa Dyah Ayu Arintyas
Universitas Mulawarman

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pemetaan Dampak Perubahan Iklim Terhadap Desa-Desa di Indonesia: Analisis Bibliometrik Gusti Naufal Rizky Perdana; Ameylia Puspita Rosa Dyah Ayu Arintyas; Dewi Risnawati
Jurnal Masyarakat dan Desa Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Masyarakat dan Desa
Publisher : Program Studi Pembangunan Masyarakat Desa (D3)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Krisis iklim menimbulkan dampak multidimensi di desa-desa Indonesia. Masalah pokok terletak pada kerentanan desa terhadap bencana hidrometeorologis dan terbatasnya kapasitas adaptif strategis, diperparah oleh rendahnya literasi iklim yang menganggap perubahan iklim sebagai "nasib alamiah". Tujuan penelitian ini adalah memetakan literatur ilmiah (tren, pola kolaborasi, dan kesenjangan tematik) terkait dampak perubahan iklim di desa Indonesia. Metode yang digunakan adalah analisis bibliometrik kualitatif terhadap 276 dokumen ilmiah dari basis data Scopus dalam rentang 1994–2025, dengan bantuan perangkat VOSviewer dan R-Studio. Hasil menunjukkan akselerasi publikasi yang tajam sejak 2017, menandakan kematangan bidang riset. Namun, terdapat bias tematik kuat pada isu mitigasi berbasis lahan (kehutanan/REDD+), didorong aktor internasional, yang menggeser fokus dari urgensi adaptasi sosial-ekonomi lokal. Kesenjangan utama adalah kurangnya formalisasi praktik adaptasi sosial-budaya ke dalam mekanisme kebijakan desa. Simpulan menegaskan perlunya pergeseran paradigma: desa sebagai subjek adaptasi berdaulat. Hal ini dicapai dengan memprioritaskan peningkatan literasi iklim dan melembagakan kearifan lokal untuk membangun ketahanan iklim yang berkelanjutan dan adil. Kata Kunci: Adaptasi, Analisis Bibliometrik, Desa Perubahan Iklim
From Hashtag to Policy: Viral Anger and Lawmaking in Indonesia’s Digital Democracy Ameylia Puspita Rosa Dyah Ayu Arintyas; Savira Aristi; Muhammad Asrul Maulana
Golden Ratio of Law and Social Policy Review Vol. 5 No. 2 (2026): January - June
Publisher : Manunggal Halim Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52970/grlspr.v5i2.1949

Abstract

This study analyzes how viral digital mobilization translated public anger into policy responses in Indonesia through the 2025 #BubarkanDPR and 17+8 Tuntutan Rakyat movements. While #BubarkanDPR (“Disband the House of Representatives”) emerged as a symbolic critique of legislative privilege and accountability deficits, the 17+8 platform converted diffuse online outrage into twenty-five structured reform demands. Using a qualitative case study integrating digital discourse analysis, media triangulation, and legal document review, the research examines the interaction between emotional mobilization, elite response, and constitutional constraints. The findings demonstrate that viral anger operated as political pressure producing three outcomes: institutional concessions, including suspension of housing allowances and transparency commitments; disciplinary sanctions against legislators after controversial remarks; and activation of oversight mechanisms such as ethics reviews and human rights investigations. However, the core demand to dissolve parliament was constitutionally barred under Article 7C of the amended 1945 Constitution, underscoring structural limits. The study argues that in Indonesia’s digital democracy, virality constitutes contingent political legitimacy, capable of triggering short-term accountability but insufficient to transform entrenched power structures.