Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Analisis Penentuan Dolus dan Culpa dalam Penyebaran Hoax Melalui Digital Muhammad Asrul Maulana; Savira Aristi
Jurnal Multidisiplin West Science Vol 3 No 10 (2024): Jurnal Multidisiplin West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jmws.v3i10.1612

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis kesalahan pidana, khususnya dolus (kesengajaan) dan culpa (kelalaian), dalam penyebaran hoaks melalui media digital dengan metode normatif pendekatan perundang-undangan (statute approach), hasil penelitian mengkaji undang-undang terkait antara dolus ditentukan ketika seseorang dengan sengaja menyebarkan informasi palsu yang diketahui dapat merugikan, sementara culpa timbul dari kelalaian memverifikasi kebenaran informasi. Analisis ini membantu membedakan antara penyebar hoaks yang disengaja dan yang lalai, serta memberikan kerangka hukum yang jelas terkait sanksi pidana yang sesuai.
Implikasi Hukum Kontrak Elektronik Internasional Berbasis Blockchain pada Platform Illuvium Muhammad Asrul Maulana; Khalisah Leticia Ailani
Simbur Cahaya Volume 32 Nomor 1, Juni 2025
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28946/sc.v32i1.4258

Abstract

Penelitian ini berfokus menganalisisa klausula baku transaksi elektronik non-fungible token pada platform illuvium dan mengungkap implikasi hukum antara para pihak dalam hukum transaksi elektronik. Penelitian ini menggunakan metode normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach). Hasil penelitian ditemukan klausula baku transaksi elektronik Non-Fungible Token (NFT) pada platform Illuvium menekankan pentingnya kepastian hukum, kehati-hatian, dan iktikad baik dalam penggunaan teknologi informasi, di mana pengguna diharapkan bertanggung jawab atas setiap transaksi. Selain itu, pengguna harus memahami dan menerima risiko yang terkait dengan fluktuasi harga tinggi serta ketidakpastian hukum, dan menyadari bahwa pemilik platform tidak bertanggung jawab atas interaksi antara pengguna atau konten yang diunggah. Dengan demikian, pengguna diharapkan tidak menggunakan layanan untuk aktivitas ilegal atau merugikan pihak lain dan menjaga keamanan informasi serta aset digital mereka.
From Hashtag to Policy: Viral Anger and Lawmaking in Indonesia’s Digital Democracy Ameylia Puspita Rosa Dyah Ayu Arintyas; Savira Aristi; Muhammad Asrul Maulana
Golden Ratio of Law and Social Policy Review Vol. 5 No. 2 (2026): January - June
Publisher : Manunggal Halim Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52970/grlspr.v5i2.1949

Abstract

This study analyzes how viral digital mobilization translated public anger into policy responses in Indonesia through the 2025 #BubarkanDPR and 17+8 Tuntutan Rakyat movements. While #BubarkanDPR (“Disband the House of Representatives”) emerged as a symbolic critique of legislative privilege and accountability deficits, the 17+8 platform converted diffuse online outrage into twenty-five structured reform demands. Using a qualitative case study integrating digital discourse analysis, media triangulation, and legal document review, the research examines the interaction between emotional mobilization, elite response, and constitutional constraints. The findings demonstrate that viral anger operated as political pressure producing three outcomes: institutional concessions, including suspension of housing allowances and transparency commitments; disciplinary sanctions against legislators after controversial remarks; and activation of oversight mechanisms such as ethics reviews and human rights investigations. However, the core demand to dissolve parliament was constitutionally barred under Article 7C of the amended 1945 Constitution, underscoring structural limits. The study argues that in Indonesia’s digital democracy, virality constitutes contingent political legitimacy, capable of triggering short-term accountability but insufficient to transform entrenched power structures.
Harmonisasi Regulasi Insentif Penanaman Modal Kabupaten Sidoarjo Pasca Berlakunya Undang-undang Nomor 6 Tahun 2023 Tentang Cipta Kerja Swastika Maya Pramesti; Muhammad Asrul Maulana; Ni Ketut Indhira Maharani
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9 No 1 (2026)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/ganaya.v9i1.5223

Abstract

The background of this research is to examine and analyze the legitimacy of the Regional Government in regulating investment incentives and facilities based on the principles of legality and hierarchy of laws and regulations, analyzing the suitability of the practice of providing investment incentives and facilities in Sidoarjo with the basic principles of investment, including the principle of non-discrimination, international obligations, and compliance with national law. The purpose of this research is to formulate more integrated policy recommendations between the central and regional governments in order to create a more inclusive fiscal policy system in terms of investment. This research method uses a normative approach with a statute approach and a conceptual approach. The results of this study show that Sidoarjo Regency Regional Regulation Number 5 of 2014 and Regent Regulation Number 58 of 2015 have become the basis for providing incentives do not fully reflect the basic principles of investment stated in the latest national laws such as Law Number 6 of 2023 concerning Job Creation, and have not been integrated with Indonesia's international obligations in global investment agreements. This inconsistency creates the risk of legal uncertainty and has the potential to reduce investor confidence, both domestic and foreign. The conclusion of this research is that legal protection is needed for investors related to incentives through reporting, evaluation, guidance and supervision mechanisms, as well as government incentive products that can be utilized by investors.
Ius Constituendum Urun Dana untuk Badan Usaha Non-Badan Hukum Muhammad Asrul Maulana; Gabriella Novena Winarta
Jurnal Hukum Positum Vol. 10 No. 2 (2025): Jurnal Hukum Positum
Publisher : Prodi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35706/positum.v10i2.13269

Abstract

The development of crowdfunding in Indonesia presents legal challenges related to organizer regulations that do not comply with existing provisions, especially for non-legal entities such as social communities, maatschap, or faith-based organizations. Financial Services Authority Regulation No. 57/POJK.04/2020 requires crowdfunding organizers to be established as Indonesian legal entities such as Limited Liability Companies (PT) or cooperatives. However, many crowdfunding practices are carried out by non-formal entities that are not legally recognized, creating a legal vacuum that has the potential to lead to legal uncertainty, misuse of funds, and violations of investor rights. This article proposes the importance of ius constituendum to regulate non-legal entities in crowdfunding activities, with an approach that is more responsive to social and technological dynamics. More flexible regulations are needed to align socio-economic practices with the existing legal system, thereby creating a fair and inclusive legal environment for all forms of crowdfunding activities.
Permohonan Surat Keterangan Bebas Pajak Penghasilan Peralihan Hak Atas Tanah Hibah dan Waris Muhammad Asrul Maulana; Henin Dyah Syafrina; Ni Ketut Indhira Maharani; Paskah Febiola Dwi Gonstary; Rizqi Puspita Sari
Notaire Vol. 9 No. 1 (2026): NOTAIRE
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/ntr.v9i1.80649

Abstract

Penelitian ini membahas penolakan Surat Keterangan Bebas (SKB) Pajak Penghasilan atas peralihan hak atas tanah melalui hibah dan waris. Metode penelitian menggunakan normatif dengan statute approach dan conceptual approach. Hasil penelitian menunjukkan adanya kekosongan hukum terkait standar penilaian penerimaan atau penolakan SKB, terutama dalam aspek kelengkapan administrasi, NJOP, status SPT, dan kendala bagi pewaris tanpa NPWP. Ketidakjelasan tersebut menimbulkan ketidakpastian hukum, menurunkan kepatuhan pajak, serta membuka peluang penyalahgunaan diskresi pejabat pajak. Sebagai saran, diperlukan pedoman teknis yang jelas, harmonisasi standar antar-KPP, digitalisasi prosedur, serta mekanisme keberatan yang transparan agar tercipta kepastian hukum dan keadilan fiskal.
UPAYA ADMINISTRASI PENGGELAPAN PAJAK PT ASIAN AGRI GROUP TERHADAP DAMPAK KERUGIAN NEGARA Muhammad Asrul Maulana; Salsabila Sqizinova Pora
Repertorium: Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan Vol. 14 No. 2 (2025): Repertorium
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28946/rpt.v14i2.5116

Abstract

Penelitian ini mengkaji upaya administrasi terkait penggelapan pajak oleh PT Asian Agri Group (AAG) yang menimbulkan kerugian negara dalam jumlah besar. Secara hukum, tindakan AAG memenuhi unsur pidana perpajakan berdasarkan UU KUP dan berpotensi terkait rezim anti-pencucian uang. Penelitian ini menggunakan metode normatif dengan pendekatan perundang-undangan, kasus, dan konseptual. Hasil analisis menunjukkan bahwa penyelesaian perkara dapat dilakukan melalui mekanisme administratif, sebagaimana diatur dalam Pasal 44B UU No. 28 Tahun 2007, sepanjang wajib pajak melunasi kewajiban pajak dan sanksi. Namun, hambatan muncul karena aset AAG yang disita telah diagunkan, serta belum adanya pengaturan tegas terkait pemidanaan korporasi. Temuan ini menekankan pentingnya transparansi kepemilikan, pengawasan pajak ketat, dan kerja sama internasional.