Abstract: Slum settlements remain a major challenge in rural development across Indonesia. In Gampong Keude Meukek, South Aceh, poor waste management and inadequate drainage systems have contributed to environmental degradation and deteriorating living standards. This study examines how integrating community-based tourism can serve as a sustainable strategy for transforming slum areas. Using a mixed-method approach combining quantitative scoring and SWOT analysis, the research assesses the characteristics of slums and the potential of the village’s coastal and culinary assets. The findings highlight those localized interventions, such as integrated waste facilities, eco-enzyme application, and community engagement can support the revitalization of slum areas through marine and culinary tourism. The study proposes a design-based framework to transform the settlement into a more organized, productive, and environmentally sustainable space, while fostering inclusive local economic development. Abstrak: Permukiman kumuh masih menjadi tantangan utama dalam pembangunan pedesaan di seluruh Indonesia. Di Gampong Keude Meukek, Aceh Selatan, pengelolaan sampah yang buruk dan sistem drainase yang tidak memadai telah menyebabkan degradasi lingkungan dan penurunan taraf hidup. Studi ini mengeksplorasi bagaimana integrasi pariwisata berbasis masyarakat dapat berfungsi sebagai strategi berkelanjutan untuk mengubah daerah kumuh. Dengan menggunakan pendekatan metode campuran yang menggabungkan penilaian kuantitatif dan analisis SWOT, penelitian ini menilai karakteristik permukiman kumuh dan potensi aset pesisir dan kuliner desa. Temuan tersebut menyoroti bahwa intervensi lokal, seperti fasilitas sampah terpadu, aplikasi eko-enzim, dan keterlibatan masyarakat dapat mendukung revitalisasi daerah kumuh melalui wisata bahari dan kuliner. Studi ini mengusulkan kerangka kerja berbasis desain untuk mengubah permukiman menjadi ruang yang lebih terorganisasi, produktif, dan berkelanjutan secara lingkungan, sekaligus mendorong pembangunan ekonomi lokal yang inklusif.