Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Substituting star grass with corn fodder in Bali Heifer Diets: Impact on intake, digestibility, nitrogen balance, and blood profile JALALUDIN JALALUDIN; TARA TIBA NIKOLAUS; DIANA MELIANI SABAT; NI MADE PARAMITA SETYANI
Asian Journal of Agriculture Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : Smujo International

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13057/asianjagric/g090254

Abstract

Abstract. Jalaludin, Nikolaus TT, Sabat DM, Setyani NMP. 2025. Substituting star grass with corn fodder in Bali Heifer Diets: Impact on intake, digestibility, nitrogen balance, and blood profile. Asian J Agric 9: 881-888. This study aimed to evaluate the substitution of Star Grass Silage (SGS) with hydroponic Corn Fodder (CF) in the diets of Bali heifers, with a focus on feed intake, nutrient digestibility, nitrogen retention, and blood profile parameters. Hydroponic corn fodder was assessed as a sustainable alternative to star grass silage for Bali heifers, which are typically raised in dry tropical regions characterized by seasonal forage scarcity. Previous studies on the use of corn fodder have predominantly focused on dairy cattle, buffaloes, or goats; therefore, this study provides novel information on Bali heifers in terms of intake, digestibility, nitrogen retention, and blood profiles to determine the optimal substitution level. The experiment employed a 4 × 4 Latin square design with four dietary treatments, consisting of the replacement of SGS with CF at levels of 0%, 20%, 40%, and 60%. The results showed that CF substitution significantly affected (P < 0.05) nitrogen intake and nitrogen retention, with the highest values observed at the 20% CF substitution level, while increasing the substitution to 60% resulted in reduced nitrogen intake and retention. In contrast, CF substitution had no significant effect (P > 0.05) on dry matter, organic matter, and crude protein intake, nutrient digestibility, or blood profile parameters. It was concluded that hydroponic corn fodder can effectively replace star grass silage at substitution levels of 20-40% of the forage portion without impairing nutrient utilization or physiological balance. These findings highlight the potential of hydroponic corn fodder as a forage resource to support the sustainability of Bali cattle production in tropical regions with limited forage availability, particularly during the dry season.
ANALISIS KOMPARATIF PENDAPATAN DAN KELAYAKAN FINANSIAL USAHA AYAM BROILER POLA KEMITRAAN DAN MANDIRI DI KABUPATEN KUPANG ROMAN Diana Meliani Sabat; Morin Mediviani Sol’uf
Kandang : Jurnal Peternakan Vol. 18 No. 1 (2026): Edisi Januari - Juni Tahun 2026
Publisher : Prodi Ilmu Peternakan Universitas Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32534/jkd.v18i1.8566

Abstract

Usaha ayam broiler merupakan salah satu usaha di sektor peternakan yang berkembang pesat di Indonesia seiring dengan meningkatnya permintaan protein hewani. Di Kabupaten Kupang, usaha ayam broiler dijalankan melalui dua pola usaha yaitu pola mandiri dan pola kemitraan. Kedua pola tersebut memiliki karakteristik pengelolaan resiko serta potensi keuntungan yang berbeda sehingga menimbulkan perdebatan mengenai pola usaha yang lebih menguntungkan bagi peternak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan pendapatan dan kelayakan finansial usaha ayam broiler pada pola mandiri dan kemitraan di Kabupaten Kupang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei tahun 2024 menggunakan metode survey dengan teknik pengambilan sampel multistage sampling. Responden penelitian terdiri dari 26 peternak yang terdiri atas 6 peternak pola mandiri dan 20 peternak pola kemitraan. Data dianalisis menggunakan analisis biaya, penerimaan, pendapatan serta analisis kelayakan usaha yang meliputi R/C ratio, dan Break Event Point (BEP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan usaha ayam broiler pola mandiri sebesar Rp11.392.237,50 per periode produksi, lebih tinggi dibandingkan pola kemitraan sebesar Rp.2.948.826,60. Nilai R/C ratio pada pola mandiri sebesar 1,96 sedangkan pada pola kemitraan sebesar 1,03. Analisis BEP menunjukkan bahwa usaha pola mandiri mencapai titik impas pada penjualan 47 ekor dengan harga Rp23.302,11 per kg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua pola usaha layak dijalankan, namun pola mandiri memberikan tingkat keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan pola kemitraan di Kabupaten Kupang.