p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Dieksis ID
Siti Mahmudah Noorhayati
Institut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Studi Komparatif Pemikiran Al-Ghazali dan John Dewey dalam Konteks Pendidikan Kontemporer Siti Zainab; Istul Maula; Mohammad Thoyib Maulana; Abdul Muhaimin Akhmadi; Siti Mahmudah Noorhayati
Jurnal Dieksis ID Vol. 6 No. 1 (2026): Januari - Juni 2026
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54065/dieksis.6.1.2026.1132

Abstract

Urgensi penelitian ini untuk menjembatani pemikiran pendidikan klasik Islam Al-Ghazali dan filsafat pendidikan progresif John Dewey guna merumuskan pendekatan pendidikan kontemporer yang holistik, kontekstual, dan relevan dengan tantangan zaman. Pendidikan kontemporer menghadapi tantangan serius akibat globalisasi, digitalisasi, dan perubahan struktur sosial yang mendorong orientasi pragmatis sekaligus berpotensi mereduksi dimensi reflektif dan kemanusiaan. Artikel ini bertujuan menganalisis secara komparatif pemikiran Al-Ghazali dan John Dewey dalam konteks pendidikan kontemporer untuk menawarkan perspektif alternatif yang lebih holistik. Penelitian ini menggunakan metode kajian literatur dengan sumber data primer berupa karya Al-Ghazali Ihya’ ‘Ulum al-Din dan Ayyuha al-Walad, serta karya John Dewey Democracy and Education, yang didukung oleh literatur ilmiah nasional dan internasional bereputasi dalam sepuluh tahun terakhir. Analisis dilakukan melalui pendekatan interpretatif, komparatif, dan kontekstual. Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Ghazali memandang pendidikan sebagai proses penyucian jiwa dan pembentukan akhlak yang berorientasi pada kebahagiaan duniawi dan ukhrawi, sedangkan John Dewey menekankan pendidikan sebagai proses pertumbuhan berkelanjutan berbasis pengalaman, refleksi kritis, dan partisipasi demokratis. Meskipun berbeda secara epistemologis dan metafisik, kedua tokoh sama-sama menolak pendidikan yang bersifat mekanistik dan reduksionistik. Artikel ini menegaskan pentingnya sintesis nilai spiritual-etik dan pendekatan pragmatis-humanistik sebagai landasan pengembangan paradigma pendidikan kontemporer yang integratif, kontekstual, dan berorientasi pada pemanusiaan.
Kritik Akal dan Sumber Pengetahuan dalam Perspektif Al-Ghazali dan Kant Hadi Supratman; Muhammad Basith A; Masdar Helmi; Zamzami Islamy; Siti Mahmudah Noorhayati
Jurnal Dieksis ID Vol. 6 No. 1 (2026): Januari - Juni 2026
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54065/dieksis.6.1.2026.1185

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk menganalisis kritik akal dan sumber pengetahuan dalam perspektif Al-Ghazali dan Immanuel Kant sebagai dua tokoh penting dalam tradisi filsafat Islam dan filsafat Barat. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perbedaan paradigma epistemologis antara pemikiran Islam yang mengintegrasikan wahyu dan rasio dengan pemikiran Barat modern yang menempatkan akal sebagai pusat pengetahuan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan komparatif-filosofis. Data diperoleh dari karya-karya utama Al-Ghazali dan Immanuel Kant serta literatur pendukung yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Ghazali mengajukan kritik terhadap keterbatasan akal manusia dengan menegaskan peran wahyu dan intuisi spiritual sebagai sumber pengetahuan yang sah, sementara Kant melakukan kritik terhadap akal melalui penetapan batas-batas rasio dalam memperoleh pengetahuan metafisis. Perbedaan pandangan ini menunjukkan karakter epistemologi yang khas dan berimplikasi pada cara memahami kebenaran, moralitas, dan proses pendidikan. Kajian ini menyimpulkan bahwa meskipun Al-Ghazali dan Kant sama-sama melakukan kritik terhadap akal, keduanya berangkat dari landasan filosofis yang berbeda, sehingga menghasilkan konsep sumber pengetahuan yang tidak sama namun sama-sama relevan sebagai bahan refleksi dalam pengembangan pemikiran pendidikan yang kritis dan etis.