Nizma Armila
International Open University, Banjul, The Gambia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Negotiating Text and Context: The Hadith on the Prohibition of Women’s Travel Without a Maḥram in the Social and Legal Histories of Saudi Arabia and Indonesia Nizma Armila; Mega Satria Nurul Falah
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 20, No. 1 : Al Qalam (January 2026 - Special Edition: Islamic Studies)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/aq.v20i1.5883

Abstract

This study investigates the differing interpretations and applications of the hadith prohibiting women from traveling without a maḥram in Saudi Arabia and Indonesia. Through a comparative analysis grounded in historical, legal, and socio-cultural contexts, the research reveals that Saudi Arabia traditionally applies the hadith in a strict, textualist manner, rooted in the Ḥanbalī legal tradition and guardianship system. Indonesia, influenced by pluralistic scholarship and social realities, adopts a more flexible, contextualist approach through ijtihād by religious organizations. Despite these differences, the study affirms that the original ruling remains valid: a woman traveling without a maḥram is impermissible (ḥarām) unless in rare, necessity-based exceptions. The presence of a maḥram is not merely ideal but a critical safeguard upheld throughout Islamic legal history to protect women’s dignity (ʿirḍ) and safety (nafs). In modern contexts where security may seem assured, Muslim women must still prioritize obedience to Allah and His Messenger, over social convenience or personal autonomy. Modern adaptations must not override divine directives. Thus, the hadith's relevance continues, and contextual flexibility must remain within the bounds of Sharīʿah—aimed at upholding the protective purpose of Islamic law rather than promoting unrestricted freedom.
Ketenangan Emosional Ibu Postpartum Dalam Perspektif Al-Qur’an Dan Psikologi Modern Nusaibah Rosyidah; Andino Maseleno; Nizma Armila
Jurnal Humaniora, Ekonomi Syariah dan Muamalah Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Humaniora, Ekonomi Syariah dan Muamalah (April - Juni 2026)
Publisher : Siber Nusantara Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jhesm.v4i2.862

Abstract

Masa pascapersalinan melibatkan perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang dapat memengaruhi stabilitas emosi ibu. Research gap penelitian ini menunjukkan bahwa kajian terdahulu mengenai kisah Maryam lebih banyak membahas depresi, baby blues, terapi, dan resiliensi, sedangkan ketenangan emosional ibu postpartum belum secara khusus dibandingkan dengan perspektif psikologi modern. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep ketenangan emosional dalam Surah Maryam ayat 23-26, menjelaskan konsep terkait dalam psikologi modern, dan membandingkan kedua perspektif. Penelitian menggunakan studi kepustakaan kualitatif dengan analisis isi dan komparatif terhadap ayat, tafsir, dan literatur psikologi. Hasil menunjukkan empat tema utama dalam kisah Maryam: pengakuan terhadap pengalaman emosional, dukungan spiritual dan pertolongan Allah, pemenuhan kebutuhan fisik-psikologis, serta pengaturan interaksi sosial secara kontekstual. Dalam psikologi modern, tema tersebut beririsan dengan regulasi emosi, strategi koping, dukungan sosial, kesejahteraan psikologis, spiritualitas, dan kebermaknaan hidup. Kedua perspektif memiliki titik temu fungsional, tetapi berbeda dalam landasan epistemologis. Temuan ini mendukung pemahaman multidimensional terhadap ketenangan emosional ibu pascapersalinan tanpa menyamakan perspektif Al-Qur’an dengan teori psikologi modern