Keaktifan murid merupakan salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Namun, pembelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah masih sering didominasi oleh metode ceramah sehingga keterlibatan murid dalam kegiatan belajar belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi model Cooperative Learning dengan teknik Think Pair Square, mendeskripsikan keaktifan murid setelah penerapan model tersebut, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaannya pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila di kelas X SMAN 8 Malang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan subjek penelitian murid kelas X serta guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Cooperative Learning dengan teknik Think Pair Square mampu meningkatkan keaktifan murid yang ditandai dengan meningkatnya partisipasi dalam diskusi, keberanian mengemukakan pendapat, kemampuan bekerja sama, keterlibatan dalam pemecahan masalah, serta antusiasme selama proses pembelajaran. Keberhasilan implementasi model didukung oleh perencanaan pembelajaran yang baik, peran guru sebagai fasilitator, dan kerja sama antarmurid. Adapun faktor penghambat meliputi perbedaan kemampuan murid, keterbatasan waktu pembelajaran, dan masih rendahnya kepercayaan diri sebagian murid. Dengan demikian, model Cooperative Learning dengan teknik Think Pair Square dapat menjadi alternatif pembelajaran yang efektif untuk menciptakan pembelajaran Pendidikan Pancasila yang aktif, kolaboratif, dan berpusat pada murid.