Akhmad Dalil Rohman
Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK MI/SD DI ERA DIGITAL DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN PAI DALAM KURIKULUM MERDEKA Akhmad Dalil Rohman; Uki Adi Prasetiya; Tri Unggul Sari Asih; Mochamad Iskarim; Nanang Hasan Susanto
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.12833

Abstract

The development of MI/SD students in the digital era requires the adjustment of learning strategies that align with students’ cognitive, affective, and psychomotor characteristics. However, the implementation of the Merdeka Curriculum still faces challenges in accommodating the diversity of these characteristics, particularly in Islamic Religious Education (PAI) learning. This study is based on the argument that the alignment between learning strategies and students’ developmental stages influences the effectiveness of PAI learning. This research employs a qualitative approach using a library research method. Data were obtained from various relevant literature sources and analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldana, which includes data condensation, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that MI/SD students are in the concrete operational stage, characterized by being active, social, and requiring direct learning experiences. Consequently, PAI learning should be designed to be concrete, interactive, collaborative, and value- and experience-based. Furthermore, the flexibility of the Merdeka Curriculum enables the implementation of differentiated learning that is adaptive to students’ needs. Therefore, integrating an understanding of student development with appropriate learning strategies is key to improving the quality of PAI learning. ABSTRAK Perkembangan peserta didik MI/SD di era digital menuntut penyesuaian strategi pembelajaran yang selaras dengan karakteristik kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa. Namun, implementasi Kurikulum Merdeka masih menghadapi kendala dalam mengakomodasi keberagaman karakteristik tersebut, khususnya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Penelitian ini didasarkan pada argumentasi bahwa kesesuaian antara strategi pembelajaran dan tahap perkembangan peserta didik berpengaruh terhadap efektivitas pembelajaran PAI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari berbagai literatur relevan dan dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana melalui tahapan kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik MI/SD berada pada tahap operasional konkret dengan karakteristik aktif, sosial, dan membutuhkan pengalaman belajar langsung. Implikasinya, pembelajaran PAI perlu dirancang secara konkret, interaktif, kolaboratif, serta berbasis nilai dan pengalaman. Selain itu, fleksibilitas dalam Kurikulum Merdeka memungkinkan penerapan pembelajaran diferensiatif yang adaptif terhadap kebutuhan peserta didik. Dengan demikian, integrasi pemahaman perkembangan peserta didik dengan strategi pembelajaran yang tepat menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas pembelajaran PAI.    
INTEGRASI TEKNOLOGI AUGMENTED REALITY DAN PENDEKATAN CONTEXTUAL LEARNING SEBAGAI INOVASI PEMBELAJARAN IPAS DALAM PENGUATAN LITERASI SAINS SISWA SEKOLAH DASAR Akhmad Dalil Rohman; Tri Unggul Sari Asih; Uki Adi Prasetiya; Umi Mahmudah
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i1.9366

Abstract

The low scientific literacy of elementary school students in Indonesia remains a crucial issue, as confirmed by PISA 2022 data, with an average score of 383, significantly lower than the OECD average of 476. This deficit is caused by the dominance of conventional learning that fails to visualize abstract concepts and the lack of relevance of the material to real life. This study aims to analyze the integration of Augmented Reality (AR) technology and the Contextual Learning approach as an innovation strategy for science learning. Using library research methods, this study conducted a content analysis of various academic literature from the last ten years through the stages of data collection, classification, and synthesis. The findings indicate that AR effectively increases student engagement through interactive visualization, while Contextual Learning strengthens understanding by linking material to everyday contexts. However, previous studies have only applied these two aspects partially. The analysis results confirm that the systematic integration of AR visualization and the contextual approach can develop scientific literacy holistically, encompassing aspects of content, process, and context. It is concluded that the synergy of these two approaches is highly recommended as an adaptive learning model to improve students' conceptual understanding and scientific reasoning in the digital era. ABSTRAK Rendahnya literasi sains siswa sekolah dasar di Indonesia masih menjadi permasalahan krusial, yang terkonfirmasi oleh data PISA 2022 dengan capaian skor rata-rata 383, tertinggal jauh dari rata-rata OECD sebesar 476. Defisit ini disebabkan oleh dominasi pembelajaran konvensional yang gagal memvisualisasikan konsep abstrak serta kurangnya relevansi materi dengan kehidupan nyata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi teknologi Augmented Reality (AR) dan pendekatan Contextual Learning sebagai strategi inovasi pembelajaran IPAS. Menggunakan metode library research, penelitian ini melakukan analisis isi terhadap berbagai literatur akademik sepuluh tahun terakhir melalui tahapan koleksi, klasifikasi, dan sintesis data. Temuan menunjukkan bahwa AR efektif meningkatkan keterlibatan siswa melalui visualisasi interaktif, sementara Contextual Learning memperkuat pemahaman melalui pengaitan materi dengan konteks keseharian. Kendati demikian, studi terdahulu masih menerapkan kedua aspek ini secara parsial. Hasil analisis menegaskan bahwa integrasi sistematis antara visualisasi AR dan pendekatan kontekstual mampu mengembangkan literasi sains secara holistik, meliputi aspek konten, proses, dan konteks. Disimpulkan bahwa sinergi kedua pendekatan ini sangat direkomendasikan sebagai model pembelajaran adaptif untuk meningkatkan pemahaman konsep dan penalaran ilmiah siswa di era digital.