Suparno
Program Studi Magister Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta, Indonesia

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

EFEKTIVITAS MEDIA VIDEO EDUKATIF BERBASIS BIMBINGAN KELOMPOK TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA DENGAN KESULITAN BELAJAR DI SMP Nindy Az Zahrawaani; Suparno
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.13871

Abstract

Learning motivation is an important factor influencing students' success in the learning process, particularly for those with learning difficulties. Low learning motivation may reduce students' participation, self-confidence, and engagement in both classroom learning and guidance services. This study aimed to describe the improvement in the learning motivation of students with learning difficulties after participating in group guidance services using educational video media at SMP Negeri 2 Muara Wahau. The study employed a quantitative approach using a pre-experimental method with a One Group Pretest–Posttest Design. The participants consisted of three seventh-grade students selected through purposive sampling based on classroom observations and recommendations from the school counselor and homeroom teachers. Data were collected using a learning motivation questionnaire administered before and after the intervention and analyzed using the N-Gain Score. The findings showed that the average learning motivation score increased from 64 in the pretest to 78 in the posttest. The obtained N-Gain score of 0.690 was categorized as moderate, indicating an improvement in students' learning motivation following the implementation of group guidance services using educational video media. In addition, students demonstrated greater participation, self-confidence, and engagement during the guidance sessions. These findings suggest that educational video media has the potential to support group guidance services in enhancing the learning motivation of students with learning difficulties at the junior high school level. ABSTRAK Motivasi belajar merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran, terutama bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar. Rendahnya motivasi belajar dapat berdampak pada kurangnya partisipasi, kepercayaan diri, dan keterlibatan siswa selama mengikuti pembelajaran maupun layanan bimbingan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan motivasi belajar siswa dengan kesulitan belajar setelah mengikuti layanan bimbingan kelompok menggunakan media video edukatif di SMP Negeri 2 Muara Wahau. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pra-eksperimen melalui desain One Group Pretest–Posttest. Subjek penelitian berjumlah tiga siswa kelas VII yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan hasil observasi serta rekomendasi guru bimbingan dan konseling dan wali kelas. Data dikumpulkan menggunakan angket motivasi belajar yang diberikan sebelum dan sesudah perlakuan, kemudian dianalisis menggunakan uji N-Gain Score. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor motivasi belajar meningkat dari 64 pada pretest menjadi 78 pada posttest. Nilai N-Gain sebesar 0,690 berada pada kategori sedang, yang mengindikasikan adanya peningkatan motivasi belajar setelah siswa mengikuti layanan bimbingan kelompok menggunakan media video edukatif. Selain itu, siswa juga menunjukkan peningkatan keaktifan, kepercayaan diri, dan partisipasi selama mengikuti layanan. Temuan ini menunjukkan bahwa media video edukatif berpotensi mendukung pelaksanaan layanan bimbingan kelompok dalam meningkatkan motivasi belajar siswa dengan kesulitan belajar di Sekolah Menengah Pertama.
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGENAL KONSEP BILANGAN MELALUI MEDIA WORDWALL INTERAKTIF PADA ANAK LAMBAN BELAJAR KELOMPOK A DI TK Mersiana Wonda; Suparno
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.13876

Abstract

This study was motivated by the low number concept recognition ability of young children, particularly a slow learner, who experienced difficulties in recognizing number symbols, sequencing numbers, writing numerals, and matching quantities with the appropriate number symbols. These conditions require engaging and interactive learning experiences to support children's understanding. This study aimed to improve number concept recognition through the implementation of interactive Wordwall media. The study employed Classroom Action Research (CAR) using the Kemmis and McTaggart model, consisting of planning, action, observation, and reflection stages across three cycles. The research involved 15 children in Group A of TK Negeri 1 Muara Wahau as the classroom action participants, while the primary analysis focused on one slow learner who experienced difficulties in understanding number concepts. Data were collected through observation, performance assessment, and documentation, and analyzed using descriptive quantitative and qualitative techniques. The findings showed that the implementation of interactive Wordwall media improved the slow learner's number concept recognition, as reflected in better ability to recognize number symbols, sequence numbers, write numerals, and match quantities with the corresponding symbols. Improvements were also observed in the child's attention, motivation, and active participation during the learning process. Therefore, the implementation of interactive Wordwall media was able to improve number concept recognition among young children, particularly slow learners. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan mengenal konsep bilangan pada anak usia dini, khususnya anak slow learner, yang ditunjukkan oleh kesulitan mengenal lambang bilangan, mengurutkan angka, menulis lambang bilangan, serta menghubungkan jumlah benda dengan simbol angka yang sesuai. Kondisi tersebut memerlukan pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif agar anak memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kemampuan mengenal konsep bilangan melalui penerapan media Wordwall interaktif. Penelitian menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi dalam tiga siklus. Penelitian dilaksanakan pada 15 anak Kelompok A TK Negeri 1 Muara Wahau sebagai kelas tindakan, dengan analisis utama difokuskan pada satu anak slow learner yang mengalami kesulitan dalam mengenal konsep bilangan. Data dikumpulkan melalui observasi, penilaian unjuk kerja, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan media Wordwall interaktif mampu meningkatkan kemampuan mengenal konsep bilangan pada anak slow learner, yang ditandai dengan peningkatan kemampuan mengenal lambang bilangan, mengurutkan angka, menulis lambang bilangan, serta mencocokkan jumlah benda dengan simbol bilangan. Peningkatan juga terlihat pada keterlibatan anak selama pembelajaran, seperti perhatian, motivasi, dan keaktifan dalam mengikuti kegiatan. Dengan demikian, penerapan media Wordwall interaktif mampu meningkatkan kemampuan mengenal konsep bilangan pada anak usia dini, khususnya anak slow learner.
IMPLEMENTASI KONSELING TERPADU (BEHAVIORISTIK–HUMANISTIK) DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI MEMBACA SISWA SLOW LEARNER Nina Apriyouastuty; Suparno
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.13877

Abstract

Low reading motivation remains one of the major challenges experienced by slow learner students, requiring counseling services that address both their academic needs and psychological development. One promising approach is integrated counseling that combines behavioral and humanistic approaches to foster positive reading behaviors while enhancing students' self-awareness and self-confidence. This study aimed to describe the implementation of integrated counseling based on behavioral and humanistic approaches to improve the reading motivation of a slow learner student at SMP Negeri 1 Rantau Pulung. The study employed a qualitative approach using a case study design. The research subject was one slow learner student with low reading motivation, while supporting informants included the school counselor, homeroom teacher, Indonesian language teacher, and the student's parent. Data were collected through classroom observations, in-depth interviews, and documentation and were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, including data reduction, data display, and conclusion drawing. Trustworthiness was ensured through triangulation, member checking, prolonged engagement, peer debriefing, and the criteria of transferability, dependability, and confirmability. The findings showed that the integrated counseling program was implemented through the stages of problem identification, planning, implementation, evaluation, and follow-up by integrating behavioral and humanistic approaches. The implementation of the counseling program was associated with positive changes in the student's reading motivation, reflected in increased interest in reading, persistence in completing reading tasks, self-confidence, independent reading habits, and consistent reading behavior. The findings suggest that integrated behavioral–humanistic counseling provides a positive contribution to supporting the improvement of reading motivation among slow learner students and may serve as an alternative counseling service in schools. ABSTRAK Motivasi membaca yang rendah masih menjadi salah satu permasalahan yang sering dialami siswa slow learner, sehingga memerlukan layanan bimbingan dan konseling yang mampu mengakomodasi kebutuhan akademik sekaligus aspek psikologis siswa. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah konseling terpadu yang mengintegrasikan pendekatan behavioristik dan humanistik untuk membantu membangun perilaku membaca yang positif serta meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri siswa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi konseling terpadu (behavioristik–humanistik) dalam meningkatkan motivasi membaca siswa slow learner di SMP Negeri 1 Rantau Pulung. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Subjek penelitian adalah satu siswa slow learner yang memiliki motivasi membaca rendah, sedangkan informan pendukung meliputi guru Bimbingan dan Konseling, wali kelas, guru Bahasa Indonesia, dan orang tua. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi, member check, ketekunan pengamatan, peer debriefing, serta uji transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi konseling terpadu dilaksanakan melalui tahapan identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut dengan mengintegrasikan pendekatan behavioristik dan humanistik. Penerapan layanan tersebut menunjukkan perubahan positif pada motivasi membaca siswa yang ditandai dengan meningkatnya ketertarikan membaca, ketekunan dalam menyelesaikan bacaan, kepercayaan diri, kemandirian, serta konsistensi perilaku membaca. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penerapan konseling terpadu (behavioristik–humanistik) memberikan kontribusi positif dalam mendukung peningkatan motivasi membaca siswa slow learner serta dapat menjadi salah satu alternatif layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah.
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGHITUNG SISWA SLOW LEARNER KELAS VI MELALUI PEMBELAJARAN MULTISENSORIK DI SDN Cific Paradis Nurul Warvina; Suparno
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.13878

Abstract

Low counting ability remains a common challenge among slow learner students due to limitations in processing information and understanding abstract mathematical concepts. This condition requires learning approaches that provide concrete learning experiences by engaging multiple senses. This study aimed to improve the counting ability of slow learner students through the implementation of Visual, Auditory, Kinesthetic, and Tactile (VAKT)-based multisensory learning. The study employed Classroom Action Research (CAR) conducted in three cycles. The participants were two sixth-grade students at SDN 013 Bengalon identified as slow learners, namely JO and MK. Data were collected through classroom observations, counting ability tests administered at the end of each cycle, and documentation. Data were analyzed using descriptive qualitative and quantitative techniques by comparing students' progress across the three cycles. The pre-action results indicated low counting ability, with JO scoring 30% and MK scoring 40%. Following the implementation of VAKT-based multisensory learning, the students' counting ability improved progressively. In Cycle I, JO's score increased to 64% and MK's to 76%; in Cycle II, the scores improved to 80% and 86%; and in Cycle III, they reached 90% and 96%, respectively. The findings indicate that VAKT-based multisensory learning improved the counting ability of slow learner students and enabled them to exceed the school's Minimum Learning Mastery Criteria (KKTP). ABSTRAK Rendahnya kemampuan menghitung masih menjadi salah satu permasalahan yang sering dialami siswa slow learner karena keterbatasan dalam memproses informasi dan memahami konsep matematika yang bersifat abstrak. Kondisi tersebut memerlukan pembelajaran yang memberikan pengalaman belajar konkret melalui keterlibatan berbagai indera. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menghitung siswa slow learner melalui penerapan pembelajaran multisensori berbasis Visual, Auditori, Kinestetik, dan Taktil (VAKT). Penelitian menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam tiga siklus. Subjek penelitian terdiri atas dua siswa kelas VI SDN 013 Bengalon yang terindikasi sebagai slow learner, yaitu JO dan MK. Data dikumpulkan melalui observasi aktivitas pembelajaran, tes kemampuan menghitung pada setiap akhir siklus, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan membandingkan perkembangan hasil belajar pada setiap siklus. Hasil pra tindakan menunjukkan kemampuan menghitung kedua subjek masih rendah, yaitu JO memperoleh skor 30% dan MK 40%. Setelah penerapan pembelajaran multisensori berbasis VAKT, kemampuan menghitung meningkat secara bertahap. Pada Siklus I skor JO meningkat menjadi 64% dan MK menjadi 76%, pada Siklus II menjadi 80% dan 86%, serta pada Siklus III mencapai 90% dan 96%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran multisensori berbasis VAKT dapat meningkatkan kemampuan menghitung siswa slow learner hingga melampaui Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP).
Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Siswa Gangguan Pemusatan Perhatian (GPP) melalui Media Buku Bergambar Kelas II SDN 003 Long Mesangat Aminah; Suparno
Tunas Cendekia : Jurnal Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 9 No. 2 (2026): Tunas Cendekia : Jurnal Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini
Publisher : Universitas Islam Negeri Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/tunascendekia.v9i2.12147

Abstract

Kemampuan membaca permulaan merupakan fondasi penting bagi keberhasilan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran di sekolah dasar, namun sebagian peserta didik masih mengalami kesulitan dalam ketepatan membaca, pelafalan, intonasi, dan kelancaran. Pembelajaran membaca yang belum mengoptimalkan keterlibatan berbagai modalitas sensorik menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kebutuhan belajar peserta didik dengan kesulitan membaca belum sepenuhnya terakomodasi. Meskipun metode multisensori telah banyak digunakan dalam pembelajaran membaca, penerapannya yang mengintegrasikan dukungan teknologi dengan media buku bergambar dalam konteks pembelajaran kelas rendah sekolah dasar masih memerlukan bukti empiris berbasis tindakan kelas. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kemampuan membaca permulaan peserta didik kelas II SDN 003 Long Mesangat melalui metode multisensori berbasis teknologi menggunakan media buku bergambar. Penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas model Kemmis dan McTaggart dalam dua siklus yang meliputi perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian terdiri atas 33 peserta didik, dengan tujuh peserta didik yang mengalami kesulitan membaca permulaan sebagai fokus tindakan. Data diperoleh melalui observasi, tes kemampuan membaca permulaan, dan dokumentasi serta dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan PTK dipilih karena memungkinkan perbaikan pembelajaran dilakukan secara sistematis dan reflektif berdasarkan kesulitan membaca yang ditemukan dalam kondisi kelas aktual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor kemampuan membaca permulaan tujuh peserta didik fokus meningkat dari 53 pada Siklus I Pertemuan 1 menjadi 68 pada Siklus I Pertemuan 2, 77 pada Siklus II Pertemuan 1, dan 91 pada Siklus II Pertemuan 2. Pada tingkat kelas, rata-rata hasil belajar meningkat dari 72,64 pada pra-siklus menjadi 88,58 pada akhir tindakan, sedangkan ketuntasan klasikal meningkat dari 78,79% menjadi 100%. Peningkatan juga terlihat pada perhatian, motivasi, keaktifan, dan kepercayaan diri peserta didik selama pembelajaran. Kebaruan praktis penelitian ini terletak pada integrasi stimulasi multisensori, dukungan teknologi, dan media buku bergambar dalam tindakan pembelajaran yang adaptif bagi peserta didik dengan kesulitan membaca permulaan tanpa memisahkan mereka dari pembelajaran kelas reguler. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan tersebut dapat menjadi alternatif pembelajaran membaca permulaan yang adaptif dan inklusif pada kelas rendah sekolah dasar.