p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Sangkala
Mahfud Mahfud
Pendidikan Sejarah, FKIP, Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Transformasi Tradisi Adat Keboan di Desa Aliyan: Kajian Historis dan Sosial Budaya Rino Dwi Saputra; I Kadek Yudiana; Mahfud Mahfud
JURNAL SANGKALA Vol 5 No 2 (2026): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v5i2.1100

Abstract

Tradisi adat Keboan di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, merupakan warisan budaya masyarakat Osing yang lahir dari relasi erat antara manusia, alam, dan siklus pertanian. Berakar dari ajaran Buyut Wongso Kenongo, pendiri desa, tradisi ini diselenggarakan setiap bulan Suro sebagai wujud syukur atas hasil bumi sekaligus permohonan keselamatan dan kesuburan lahan. Penelitian ini bertujuan mengkaji transformasi tradisi Keboan, nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya, serta upaya pelestariannya di tengah arus modernisasi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan teori simbolik kebudayaan Clifford Geertz, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumen terhadap tiga narasumber kunci (tokoh adat, pelaku ritual, dan generasi muda desa), lalu dianalisis dengan teknik triangulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Keboan Aliyan mulai dari prosesi selamatan desa, ider bumi, hingga peragaan tingkah laku menyerupai kerbau oleh pelaku yang mengalami kesurupan mengandung lapisan makna religius, agraris, dan relasional yang berfungsi memperkuat kohesi sosial dan identitas kolektif masyarakat Osing. Tradisi ini sempat mengalami kemunduran pada dekade 1990-an akibat gesekan sosial-politik, namun berhasil dihidupkan kembali berkat dukungan warga, keterlibatan generasi muda, serta integrasi ke dalam agenda Banyuwangi Festival oleh pemerintah daerah. Perubahan bentuk pelaksanaan akibat modernisasi dan festivalisasi budaya tidak menghilangkan esensi sakral tradisi ini, melainkan menjadi bentuk reinterpretasi budaya yang mempertahankan eksistensinya sekaligus memperluas pengenalannya kepada masyarakat luas
Tradisi Tumpengan dan Takir Sewu Bulan Suro sebagai Bentuk Penghormatan terhadap Prabu Tawang Alun di Desa Sraten, Banyuwangi Febri Indah Lestari; Mahfud Mahfud; I Kadek Yudiana
JURNAL SANGKALA Vol 5 No 2 (2026): Jurnal Sangkala
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62734/js.v5i2.1121

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan sejarah dan proses pelaksanaan Tradisi Tumpengan dan Takir Sewu Bulan Suro di Desa Sraten, Banyuwangi, mengidentifikasi makna simbolik serta nilai sosial-budaya yang terkandung di dalamnya, dan menganalisis persepsi masyarakat terhadap tradisi tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada Prabu Tawang Alun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian lapangan karena paling sesuai untuk mengkaji makna simbolik dan persepsi masyarakat secara langsung melalui keterlibatan peneliti di lokasi penelitian, sehingga data yang diperoleh merefleksikan pengalaman dan pandangan masyarakat secara nyata. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi pustaka dengan informan yang dipilih secara purposive. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data diperkuat melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini mengandung nilai religius, sosial, dan kultural. Tumpeng dimaknai sebagai ungkapan syukur, sedangkan takir merepresentasikan kebersamaan dan gotong royong masyarakat. Pasca pandemi COVID-19, keterlibatan Lembaga Adat Desa dalam tata kelola tradisi pada 2024 beriringan dengan menurunnya partisipasi generasi muda. Pada 2026, masyarakat berupaya mengembalikan tradisi ke bentuk semula sebagai langkah restorasi identitas budaya dan kohesi sosial