Dwi Andina Farzani
Universitas Muhammadiyah Makassar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Principles of Normal Childbirth Care in Obstetrics and Gynecology Literature Dwi Andina Farzani
Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2026): January
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/mpk.v3i1.5424

Abstract

This study aims to explore and synthesize the Principles of Normal Delivery Care (Asuhan Persalinan Normal—APN) within the context of obstetric and gynecological literature to identify key concepts, clinical standards, and their practical implications for maternal and neonatal health. Using a qualitative descriptive approach through a library-based study, data were collected from peer-reviewed articles, clinical guidelines, and national midwifery standards published between 2015 and 2025. Data were analyzed inductively through thematic identification, reduction, categorization, and interpretation to generate a comprehensive understanding of APN principles. The findings reveal that normal delivery care emphasizes the physiological nature of childbirth, prioritizing safety, minimal intervention, and positive maternal experience. Recommended practices include the use of partographs, freedom of movement, non-pharmacological pain management, continuous support, delayed cord clamping, and immediate skin-to-skin contact. Conversely, routine interventions such as enemas, pubic shaving, and fundal pressure are discouraged. Psychosocial aspects—such as emotional support, hypnobirthing, and calm birthing environments—are shown to significantly improve labor outcomes. However, discrepancies persist in the consistency of APN implementation, influenced by systemic, behavioral, and institutional factors. This study concludes that effective APN practice requires not only clinical competence but also cultural sensitivity, organizational reform, and woman-centered care frameworks. The results contribute to strengthening obstetric practice standards and guiding future research toward more holistic, evidence-based maternity care.
Analisis Komprehensif Faktor Penggunaan AKDR dan Suntikan 3 Bulan di Puskesmas Pundata Baji Dwi Andina Farzani; Dara Ugi Aras; Nuralya Rezki Putri Yusuf
JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Vol 5, No 3 (2024)
Publisher : UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jih.v5i3.20795

Abstract

Kontrasepsi merupakan upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) adalah suatu alat plastik atau logam kecil yang dimasukkan ke uterus melalui kanalis servikalis. AKDR terdiri dari dua macam, yaitu yang mengandung obat dan yang tidak mengandung obat. Efek samping lainnya mencakup perdarahan uterus abnormal, dismenorea, ekspulsi, atau perforasi uterus. Depo Provera adalah 6-alfa-medroksiprogesteron yang digunakan untuk kontrasepsi parenteral, memiliki efek progestagen yang kuat dan sangat efektif. Obat ini juga termasuk obat depot. Noristerat termasuk golongan kontrasepsi suntikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) dengan suntik 3 bulan di Puskesmas Pundata Baji. Penelitian ini menggunakan penelitian analitik observasional berbasis cross-sectional dengan pendekatan retrospektif, dengan jumlah sampel sebanyak 405 ibu, terdiri dari 115 ibu pengguna AKDR dan 290 ibu pengguna suntik tiga bulan di Puskesmas Pundata Baji. Dari penelitian didapatkan, akseptor usia 15-19 tahun dan 20-24 tahun lebih banyak menggunakan suntik 3 bulan. Akseptor dengan 2 anak dan 2 anak lebih banyak menggunakan suntik 3 bulan. Akseptor dengan usia anak terkecil lebih banyak menggunakan suntik 3 bulan. Akseptor yang memilih metode karena kemudahan lebih banyak menggunakan suntik 3 bulan. Akseptor dengan tingkat pendidikan menengah dan tinggi lebih banyak menggunakan suntik 3 bulan. Akseptor yang hanya sebagian ibu rumah tangga lebih banyak menggunakan suntik 3 bulan, sementara yang memiliki pekerjaan lebih banyak menggunakan AKDR. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu perbandingan terhadap AKDR dan suntik 3 bulan terdapat pada faktor kemudahan metode pemasangan, tingkat pendidikan, dan pekerjaan.