Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Teknik Pendederan Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer) di Balai Benih Ikan Laut Pulau Tidung, Kepulauan Seribu Provinsi DKI Jakarta Fharisa Nabila Rizvi; Mona Uli
South East Asian Aquaculture Vol. 3 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/seaqu.3.2.35-38

Abstract

Ikan kakap putih (Lates calcarifer) merupakan ikan yang mempunyai nilai ekonomis dan nilai gizi yang tinggi sebagai ikan konsumsi. Pelaksanaan kerja praktik ini bertujuan untuk menambah wawasan mengenai Teknik pendederan ikan kakap. Kegiatan Kerja Praktik (KP) dilaksanakan pada 5 Januari – 26 Januari 2024 di Balai Benih Ikan Laut Pulau Tidung, Kepulauan Seribu Provinsi DKI Jakarta. Metode yang digunakan dalam kegiatan kerja praktik yaitu metode praktek langsung dan metode mentor, pada proses pendederan ikan kakap putih diawali dengan tahapan persiapan wadah budidaya, penebaran benih, pemberian pakan, sampling dan grading, pengelolaan kualitas air (suhu, ph, salinitas), pencegahan hama dan penyakit, serta pengamatan pertumbuhan dan kelulushidupan ikan kakap putih. Di BBIL Pulau Tidung dilakukan di bak fiber sebanyak 4 buah dengan ke dalam 70 cm dan diameter 150 cm. Kemudian penyakit yang sering terjadi pada saat pemeliharaan yaitu black body yang ciri-ciri nya yaitu ikan mulai berubah warna menjadi hitam dan berenang ke permukaan. Suhu yang didapatkan yaitu 28-30 ºC, salinitas 29-33 ppt, dan pH 7,6-8,5.
Teknik Identifikasi Virus Koi Herves Virus pada Ikan Mas (Cyprinus carpio) dengan Metode Polymerase Chain Reaction (PCR) di Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM) Padang Algi Fari Fikri; Annisa Meliana; Fharisa Nabila Rizvi; Ronal Kurniawan; Okta Rizal Karsih
South East Asian Aquaculture Vol. 3 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/seaqu.3.2.54-59

Abstract

Ikan mas (Cyprinus carpio) adalah salah satu jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Budidaya ikan mas di Indonesia tidak terlepas dari beberapa permasalahan, antara lain disebabkan oleh serangan penyakit. Penyakit ikan merupakan faktor pembatas dalam suatu usaha budidaya ikan karena dapat menyebabkan kematian. Kegiatan magang ini bertujuan untuk mengetahui teknik identifikasi Virus Koi Herves Virus pada ikan mas dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Praktik Magang telah dilaksanakan pada bulan Januari hingga  Februari 2024 di Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM) Padang. Metode yang digunakan pada praktek magang ini adalah PCR untuk mendapatkan data primer. Sedangkan untuk data sekunder diperoleh dari instansi terkait yang berhubungan dengan data yang diperlukan, serta ditambahkan melalui studi pustaka dari buku-buku, jurnal dan literatur yang mendukung lainnya. Gejala klinis pada ikan mas yang terserang KHV yaitu insang berwarna pucat putih dan produksi lendir berlebih. Hasil deteksi ikan mas pada sampel dari pembudidaya, Padang menunjukkan hasil negatif, sampel pada ikan tidak muncul pada pita (band) yang spesifik dengan KHV 333 bp dan tidak sejajar dengan kontrol positif (+). Koi Herpes Virus (KHV) atau yang dikenal juga dengan Cyprinid Herpes Virus 3 (CyHV-3) adalah jenis virus yang mengifeksi ikan mas dan koi dan dapat menyebabkan kematian massal Infeksi KHV mewabah hampir di semua negara di dunia, termasuk Indonesia
Teknik Isolasi dan Identifikasi Bakteri Patogen pada Ikan Bawal Bintang (Trachinotus blochii) di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung Reski Ramanda; Okta Rizal Karsih; Fharisa Nabila Rizvi; Annisa Meliana; Ronal Kurniawan
South East Asian Aquaculture Vol. 3 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/seaqu.3.2.39-47

Abstract

Ikan bawal bintang (Trachinotus blochii) merupakan komoditas budidaya laut bernilai ekonomis tinggi yang rentan terhadap infeksi bakterial, khususnya dari genus Vibrio. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri patogen pada ikan bawal bintang yang dibudidayakan di Keramba Jaring Apung (KJA) Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung. Sampel penelitian terdiri dari tiga ekor ikan bawal bintang yang menunjukkan gejala klinis infeksi bakteri. Isolasi bakteri dilakukan dari organ target (hati, ginjal, dan limpa) menggunakan media Tryptic Soy Agar (TSA) dan Thiosulfate Citrate Bile Sucrose (TCBS). Identifikasi bakteri dilakukan melalui uji morfologi koloni, pewarnaan Gram, dan uji biokimia meliputi uji oksidase, katalase, motilitas, serta identifikasi menggunakan Microbact Kit 2000. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel BB1 terinfeksi Vibrio parahaemolyticus (98,78%) pada organ hati, sedangkan sampel BB2 dan BB3 terinfeksi V.alginolyticus (98,95% dan 97,12%) pada organ ginjal. Tidak ditemukan pertumbuhan bakteri pada organ limpa. Gejala klinis yang teramati meliputi penurunan nafsu makan, pergerakan lamban, mata dan tubuh luka, serta pembengkakan organ internal. Simpulan dari kegiatan ini menunjukkan bahwa vibriosis merupakan ancaman signifikan dalam budidaya ikan bawal bintang dan memerlukan strategi pengendalian yang komprehensif.
Teknik Identifikasi White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Menggunakan Metode Polymerase Chain Reaction (PCR) di Balai Perikanan Budidaya Air Payau Ujung Batee Nurul Rahmiza; Fharisa Nabila Rizvi; Okta Rizal Karsih; Ronal Kurniawan; Annisa Meliana
South East Asian Aquaculture Vol. 3 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/seaqu.3.2.48-53

Abstract

White Spot Syndrome Virus (WSSV) merupakan patogen viral yang menyebabkan mortalitas massal hingga 100% pada budidaya udang vannamei (Litopenaeus vannamei) dalam waktu 3-10 hari pasca infeksi. Deteksi dini menggunakan teknik molekuler menjadi krusial dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengaplikasikan teknik identifikasi WSSV menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) konvensional di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Ujung Batee. Kegiatan dilaksanakan selama dua bulan (Januari-Maret 2024) dengan sampel udang vannamei calon induk berusia 1 bulan. Prosedur diagnostik meliputi preparasi sampel (organ insang dan pleopoda), ekstraksi DNA menggunakan lysis buffer, amplifikasi dengan thermocycler, dan elektroforesis untuk visualisasi produk PCR. Hasil pengujian dari 4 sampel menunjukkan 2 sampel positif WSSV dan 2 sampel negatif, diidentifikasi berdasarkan kemunculan pita DNA pada posisi 941 bp yang sesuai dengan kontrol positif. Metode PCR terbukti sensitif, spesifik, dan efisien untuk deteksi WSSV pada fase subklinis sebelum munculnya gejala klinis. Implementasi protokol biosekuriti ketat dan pemeriksaan rutin menggunakan PCR sangat direkomendasikan untuk mencegah outbreak WSSV dalam sistem budidaya intensif udang vannamei
Teknik Pembesaran Ikan Koi (Cyprinus carpio) di UPTD Balai Benih Ikan (BBI) Padang Panjang Provinsi Sumatera Barat Anandasya Suci Nabila Syam; Annisa Meliana; Okta Rizal Karsih; Fharisa Nabila Rizvi; Ronal Kurniawan
South East Asian Aquaculture Vol. 3 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/seaqu.3.2.60-63

Abstract

Ikan koi (Cyprinus Carpio) adalah salah satu ikan hias yang banyak diminati masyarakat untuk dipelihara. Permintaan ikan koi untuk kebutuhan para penggemar ikan hias semakin meningkat dari tahun ketahun, seiring dengan permintaan pasar. Tujuan dilaksanakan praktek ini adalah untuk mengetahui teknik pembesaran ikan koi di UPTD Balai Benih Ikan (BBI) Padang Panjang, Sumatera barat. Praktek ini telah dilaksanakan pada tanggal 10 Januari s.d. 10 Februari 2024 di UPTD Balai Benih Ikan (BBI) Padang Panjang, Sumatera Barat. Tujuan praktek inivadalah untuk mengetahui teknik pembesaran ikan koi. Metode yang digunakan dalam praktek ini adalah praktek langsung yaitu melibatkan diri secara langsung dan berpartisipasi aktif mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan teknik pembesaran ikan koi. Kegiatan pembesaran ikan koi dilakukan di kolam semi beton selama 21 hari menghasilkan pertumbuhan panjang mutlak ikan 2,05 cm, pertumbuhan bobot mutlak ikan adalah 3,43 g, laju pertumbuhan spesifik ikan 1%, FCR ikan yaitu 1,6, serta tingkat kelulushidupan ikan 100%.
Isolasi Bakteri pada Kepiting Bakau (Scylla serrata) di Balai Besar Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Jawa Tengah Devi Nur Intan Febrianti; Fharisa Nabila Rizvi; Okta Rizal Karsih
South East Asian Aquaculture Vol. 4 No. 1 (2026): Juli
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/seaqu.4.1.26-30

Abstract

Kepiting bakau (Scylla serrata) merupakan salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomis tinggi yang banyak ditemukan di kawasan pesisir dan hutan mangrove, terutama di wilayah tropis dan subtropis seperti Indonesia, Filipina, dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya. Oleh karena itu, untuk menjaga ketersediaan dan keberlanjutan produksi kepiting bakau, diperlukan sinergi antara teknologi budidaya, konservasi ekosistem mangrove, serta regulasi yang berpihak pada keberlanjutan sumber daya pesisir. Kegiatan praktek dilakukan pada bulan Januari s.d. April 2025 bertempat di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPABP) Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Metode yang digunakan adalah metode secara langsung terhadap objek yang diamati. Dari hasil isolasi dan identifikasi yang dilakukan pada sampel kepiting bakau ditemukan bakteri Vibrio alginoliticus dan V.harveyi
Evaluasi Pembenihan Ikan Bawal Bintang (Trachinotus blochii) di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung Amalia Suci Wardana; Fharisa Nabila Rizvi; Ronal Kurniawan; Okta Rizal Karsih
South East Asian Aquaculture Vol. 4 No. 1 (2026): Juli
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/seaqu.4.1.22-25

Abstract

Ikan bawal bintang (Trachinotus blochii) merupakan salah satu ikan hasil introduksi dari Taiwan. Produksi ikan bawal bintang pada tahun 2015 mencapai 140,16% yaitu dengan capaian produksi 2.663 ton dari target produksi 1.900 ton. Praktik magang ini dilaksanakan pada bulan Februari s.d.Maret 2022, bertempat di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung. Tujuan kegiatan ini yaitu untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan dapat mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi dalam kegiatan pembenihan ikan bawal bintang. Metode pemijahan ikan bawal bintang yaitu secara alami. Pemijahan yang dilakukan menghasilkan 908.000 butir telur dengan nilai Fertilization Rate (FR) 72% serta Hatching Rate (HR) 92%, jumlah larva yang ditebar pada bak pemeliharan sebanyak 200.000 ekor/bak. Pakan yang diberikan pada larva yaitu Nannochloropsis sp. Survival Rate (SR%) pada benih Ikan bawal bintang berumur 25 hari sebesar 75%. Pakan yang diberikan untuk benih yaitu pakan alami Artemia sp., dan pakan buatan dengan merk dagang LL, KAIO dan EP.
Pembesaran Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Sistem Bioflok di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat Kurnia Utami; Fharisa Nabila Rizvi; Ronal Kurniawan; Okta Rizal Karsih
South East Asian Aquaculture Vol. 4 No. 1 (2026): Juli
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/seaqu.4.1.16-21

Abstract

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan komoditas ikan air tawar yang banyak digemari masyarakat Indonesia dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Ikan nila memiliki toleransi yang luas terhadap lingkungan hidupnya, memiliki kemampuan tumbuh yang baik, serta dapat bertumbuh dengan baik dalam budidaya intensif. Kegiatan ini dilakukan selama 4 bulan mulai 26 Agustus s.d. 20 Desember 2024. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui secara langsung proses pembesaran ikan nila pada sistem bioflok. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini yaitu partisipasi aktif dan ikut serta dalam kegiatan pembesaran nila sistem bioflok. Proses pembesaran ikan nila pada sistem bioflok dilakukan dengan tahapan yang meliputi, seperti: persiapan wadah, pengisian air, penebaran benih, quality control, aplikasi media bioflok, pemberian pakan, pengecekan flok, sampling, dan pemanenan. Pada kegiatan pembesaran ikan nila pada sistem bioflok memperoleh hasil tingkat kelulushidupan 94%, laju pertumbuhan spesifik (LPS) 1,12 g, dan FCR 1,07 kg.
Teknik Pembenihan dan Pemeliharaan Larva Ikan Kerapu Bebek (Chromileptes altivelis) di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung Almatika Sari; Fharisa Nabila Rizvi; Okta Rizal Karsih; Ronal Kurniawan
South East Asian Aquaculture Vol. 4 No. 1 (2026): Juli
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/seaqu.4.1.10-15

Abstract

Indonesia merupakan Negara yang terdiri dari beberapa pulau yang dikelilingi oleh lautan, sehingga tidak mengherankan jika kekayaan baharinya melimpah. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal Agustus - Desember 2024 yang bertempat di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah melakukan pengamatan dan mengikuti secara langsung di lapangan pada kegiatan pembenihan dan pemeliharaan larva ikan kerapu bebek. Hasil kegiatan ini terdiri dari 2 kegiatan yaitu: Pemeliharaan induk (persiapan wadah, seleksi induk, manajemen pakan induk, pengelolaan kualitas air, pemijahan, penanganan telur) dan pemeliharaan larva (persiapan wadah pemeliharaan, penebaran, manajemen pakan, pengecekan perkembangan larva, pemanenan dan pengelolaan kualitas air). Jumlah telur yang didapatkan yaitu sebanyak 200.000 butir telur, FR 82%, (164.166 ekor) dan HR 86% (14.250 ekor). Pemanenan dilakukan setelah 45 hari pemeliharaan, dengan panjang larva 16,42 mm dengan SR 9,5% (14.250 ekor). SR yang di dapat sudah sesuai dengan cara pembenihan ikan yang baik karena berdasarkan SNI No 6487.3 tahun 2011 tentang produksi Kerapu Bebek di sebut bahwa SR Kerapu Bebek umur 45-50 hari >5%.
Business Communication by the Riau Coconut Bonsai Community (BKR) in Attracting Business Interest during the Pandemic Among Ornamental Plant Enthusiasts in Pekanbaru Reza Hermawan; Fharisa Nabila Rizvi; Ronal Kurniawan; Okta Rizal Karsih; Annisa Meliana
South East Asian Management Concern Vol. 3 No. 2 (2026): May
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/seamac.3.2.52-56

Abstract

Communication plays a vital role in the operation and success of businesses whether multinational, micro, or medium-sized and the communication activities carried out within a business help achieve its objectives. The objective of this study is to determine how the Riau Coconut Bonsai Community uses business communication to attract the interest of ornamental plant enthusiasts in Pekanbaru during the pandemic. This study was conducted from August to December 2021. Observations were carried out at the BKR Secretariat, Jl. Patria Sari No. 57, Rumbai, Pekanbaru. The research was conducted through face-to-face interviews in accordance with health protocol standards. This study employed a descriptive method with a qualitative approach. Data were collected through observation, interviews, and documentation with informants who are members of the BKR community. The results of the study indicate that the business communication employed by the BKR community utilizes the marketing mix strategy (4Ps): place (selection of strategic locations), price (setting affordable and competitive prices), product (providing unique coconut bonsai products with high aesthetic value), and promotion (promotion through social media and exhibition activities). Additionally, interpersonal communication among members and potential customers plays a crucial role in building trust and increasing public interest in joining the business