Fikri Ahmad Islami
Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Keadilan Material dan Immaterial dalam Poligami: Kajian Etika dan Estetika dalam Perspektif Filsafat Hukum Islam Abdul Rahman Ramadhan; Fikri Ahmad Islami; M. Syamsul Ma’arif; Moh. Ziad Farhan Fahri; Rizky Arif Santoso
Al-Zaujiyyah: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 2 No 2 (2025): December
Publisher : PT Syamilah Literasi Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Praktik poligami telah lama menjadi topik perdebatan dalam hukum keluarga Islam. Meskipun diperbolehkan dengan syarat tertentu, penerapan keadilan dalam poligami seringkali terbatas pada aspek material, seperti nafkah dan pembagian waktu, sementara aspek emosional dan psikologis sering terabaikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keadilan dalam poligami dari perspektif filsafat hukum Islam, dengan menekankan pada prinsip etika dan estetika. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggali dimensi keadilan material dan immateriil yang sering kali tidak mendapatkan perhatian yang setara dalam praktik poligami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun keadilan material lebih mudah diukur dan diterapkan, keadilan immateriil yang mencakup perhatian emosional dan psikologis terhadap para istri merupakan elemen yang penting namun sulit untuk diterapkan secara objektif. Filsafat hukum Islam dengan dasar prinsip etika dan estetika menawarkan pendekatan yang lebih holistik dalam penerapan keadilan yang tidak hanya menekankan pada aspek material, tetapi juga kesejahteraan emosional istri. Penelitian ini menyarankan perlunya reformasi regulasi poligami untuk mengakomodasi kedua dimensi keadilan tersebut, guna mewujudkan hubungan yang lebih adil dan harmonis dalam praktik poligami.
Between Recognition and Legitimization: Women’s and Children’s Rights in Indonesia’s Extra-Judicial Divorce Muhammad Nasrulloh; Navisatul Zahro; Fikri Ahmad Islami; Faridatus Suhadak; Zummy Humairoh; Rafeah Saidon
USRATY : Journal of Islamic Family Law Vol. 4 No. 1 (2026): USRATY : Journal of Islamic Family Law
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/usraty.v4i1.11110

Abstract

This study aims to examine the tension between the religious recognition of extra-judicial divorce under Islamic jurisprudence and its legitimization under Indonesia’s positive law, concerning the protection of women’s and children’s rights. The study employs normative legal research using statutory, conceptual, and case approaches, supported by qualitative analysis based on maṣlaḥah and maqāṣid al-sharī‘ah. The findings demonstrate that the dualism between Islamic jurisprudence, which recognizes the religious consequences of divorce pronounced outside the court, and positive law, which requires divorce to be determined by a court, creates legal uncertainty concerning marital status, maintenance, child custody, ‘iddah, remarriage, and family law administration. This uncertainty affects women and children by weakening the enforceability of post-divorce rights and obligations. The analysis establishes that religious recognition of divorce occurring outside the court should not be equated with legitimization, because legitimization may undermine judicial oversight and protection of vulnerable members. Judicial confirmation of divorce can instead function as a restorative mechanism that provides legal certainty concerning an occurred divorce without legitimizing extra-judicial divorce as a lawful form. The study concludes that maintaining a clear distinction between recognition and legitimization is essential for reconciling Islamic legal consequences with Indonesia’s positive law while safeguarding women’s and children’s rights. Academically, the study contributes a maṣlaḥah- and maqāṣid al-sharī‘ah-based framework for family law that conceptualizes judicial confirmation of divorce as restorative recognition rather than legal legitimization, offering a rights-sensitive approach to resolving tensions surrounding extra-judicial divorce in Indonesia.