Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

HUBUNGAN PERILAKU MEROKOK DENGAN KEJADIAN TB PARU DI RW 02 DESA RANJI KULON KECAMATAN KASOKANDEL KABUPATEN MAJALENGKA TAHUN 2026 Perdiansah Perdiansah; Yophi Nugraha; Eti Wati; Rahayu Setyowati; Windri Dewi Ayu
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.60963

Abstract

Tuberkulosis (TB) Paru merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Salah satu faktor risiko yang diduga berkontribusi terhadap kejadian TB Paru adalah perilaku merokok, karena paparan zat berbahaya dalam rokok dapat menurunkan fungsi pertahanan saluran pernapasan, mengganggu sistem imun, serta meningkatkan kerentanan terhadap infeksi Mycobacterium tuberculosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku merokok dengan kejadian penyakit TB Paru di RW 02 Desa Ranji Kulon, Wilayah Kerja Puskesmas Kasokandel, Kabupaten Majalengka Tahun 2026. Penelitian menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 491 orang dan seluruh populasi dijadikan sampel melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher's Exact Test dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa sebanyak 383 responden (78,0%) memiliki perilaku merokok, sedangkan kejadian TB Paru ditemukan pada 9 responden (1,8%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa kejadian TB Paru pada kelompok perokok sebesar 1,8% (7 responden), sedangkan pada kelompok tidak merokok sebesar 1,9% (2 responden). Hasil uji Fisher's Exact Test memperoleh nilai p = 1,000 (p > 0,05), yang menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku merokok dengan kejadian TB Paru. Temuan ini mengindikasikan bahwa kejadian TB Paru pada lokasi penelitian kemungkinan lebih dipengaruhi oleh faktor lain, seperti kondisi lingkungan fisik rumah, kepadatan hunian, ventilasi, serta status imunitas individu sebagai faktor penjamu (host).