Regina Suryadjaja
Program Studi S1 PWK, Fakultas Arsitektur, Perencanaan, dan Real Estat, Universitas Tarumanagara, Jakarta

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PENATAAN KAWASAN POLDER AIR HITAM UNTUK PENGUATAN FUNGSI PENGENDALI BANJIR DAN RUANG PUBLIK DI KOTA SAMARINDA Noviana Chrisnadytia Inuq; Susanti Widiastuti; Regina Suryadjaja
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37074

Abstract

Samarinda City is one of the urban areas in East Kalimantan thet experiences a high level of flood vulnerability due to lowlad topography, inadequate drainage systems, and pressures from urban development. The Air Hitam Polder was constructed as a flood control infrasructure; however, over time it has also demonstrated potential as an urban public space. This study aims to formulate a spatial planning concept for the Air Hitam Polder area that strengthens its hydrological function while simultaneously enhancing the quality of public space. The research employs a qualitative-descriptive method with a spatial approach, utilizing field observations, interviews with relevant stakeholders, andanalysis of planning and policy documents. The analysis was conducted through several stages, including identification of existing conditions, evaluation of hydrological and social functions, and formulation of a zoning-based planning concept. The result indicate that the main issues of the Air Hitam Polder area include limited public facilities, weak integration between the technical functions of the polder and social activities, and low quality of open spaces. The proposed spatial arrangement consist of a hydrogical core zone, a passive recreation zone, and public activity zone integrated with pedestrian pathways and supporting vegetation. This study demonstrates that strengthening flood control function can be achieved in parallel with improving public space quality through integrated spatial planning and sustainable management. Keywords: Flood Control; Polder; Public Space; Samarinda City; Spatial Planning Abstrak Kota Samarinda merupakan salah satu kota di Kalimantan Timur yang memiliki tingkat kerawanan banjir cukup tinggi akibat kondisi topografi dataran rendah, sistem drainase yang belum optimal, serta tekanan perkembangan kawasan perkotaan. Polder Air Hitam dibangun sebagai infrastruktur pengendali banjir, namun dalam perkembangannya juga memiliki potensi sebagai ruang publik perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan konsep penataan kawasan Polder Air Hitam mampu memperkuat fungsi hidrologis sekaligus meningkatkan kualitas ruang publik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan spasial, melalui observasi lapangan, wawancara dengan pemangku kepentingan terkait, serta analisis dokumen perencanaan dan kebijakan. Analisis dilakukan melalui tahapan identifikasi kondisi eksisting, evaluasi fungsi hidrologi dan sosial, serta perumusan konsep zonasi kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Polder Air Hitam memiliki permasalahan utama berupa keterbatasan fasilitas publik, kurangnya integrasi antara fungsi teknis polder dan aktivitas sosial, serta rendahnya kualitas ruang terbuka. Penataan kawasan diusulkan melalui pembagian zona inti hidrologi, zona rekreasi pasif, dan zona aktivitas publik yang terintegrasi dengan jalur pedestrian dan vegetasi penunjang. Penelitian ini menegaskan bahwa penguatan fungsi pengendali banjir dapat berjalan seiring dengan peningkatan kualitas ruang publik apabila didukung oleh konsep penataan terpadu dan pengelolaan berkelanjutan.
EVALUASI KETERSEDIAAN, KETERCUKUPAN, DAN PERSEBARAN FASILITAS SOSIAL DI KAWASAN APARTEMEN TOKYO RIVERSIDE PIK 2, KABUPATEN TANGERANG Jason Owen; Regina Suryadjaja; Susanti Widiastuti
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37075

Abstract

The growth of Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2) as a new residential area in Tangerang Regency demands the provision of adequate social facilities to support the quality of life and welfare of residents. Tokyo Riverside Apartment as one of the main vertical residential areas in PIK 2 has experienced a significant increase in population, thus directly impacting the need for social facilities, especially educational, health, and religious facilities. This study aims to evaluate the availability, adequacy, and distribution of social facilities around Tokyo Riverside Apartment based on existing conditions, and compare them with the applicable population needs standards in accordance with urban planning provisions. The research method used is a quantitative and qualitative descriptive approach through an analysis of facility adequacy based on the Indonesian National Standard (SNI), supported by field observations, spatial accessibility analysis, and a study of facility utilization patterns by residents. The results show that educational facilities and religious facilities, especially Christian churches, are still limited and not evenly distributed to meet the needs of the area's residents, especially in the projected population in 2030. Meanwhile, health facilities are relatively sufficient in quantity, but the capacity of clinical services is estimated to be unable to keep up with the rate of population growth in the future. Overall, this study emphasizes the need to increase the number, capacity, and distribution of social facilities to support the development of a sustainable, inclusive, and livable PIK 2 area. Keywords: Availability Evaluation; PIK 2;  Social Facilities; Tokyo Riverside Apartments Abstrak Pertumbuhan Kawasan Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2) sebagai kawasan hunian baru di wilayah Kabupaten Tangerang menuntut penyediaan fasilitas sosial yang memadai guna menunjang kualitas hidup dan kesejahteraan penghuni. Apartemen Tokyo Riverside sebagai salah satu kawasan hunian vertikal utama di PIK 2 mengalami peningkatan jumlah penduduk yang signifikan, sehingga berdampak langsung terhadap kebutuhan fasilitas sosial, khususnya fasilitas pendidikan, kesehatan, dan peribadatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketersediaan, ketercukupan, dan persebaran fasilitas sosial di sekitar Apartemen Tokyo Riverside berdasarkan kondisi eksisting, serta membandingkannya dengan standar kebutuhan penduduk yang berlaku sesuai dengan ketentuan perencanaan kawasan perkotaan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif melalui analisis ketercukupan fasilitas berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI), didukung dengan observasi lapangan, analisis aksesibilitas spasial, serta kajian terhadap pola pemanfaatan fasilitas oleh penghuni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fasilitas pendidikan dan fasilitas peribadatan, khususnya gereja Kristen, masih terbatas dan belum tersebar secara merata untuk memenuhi kebutuhan penduduk kawasan, terutama pada proyeksi jumlah penduduk tahun 2030. Sementara itu, fasilitas kesehatan secara kuantitas relatif telah mencukupi, namun kapasitas pelayanan klinik diperkirakan belum mampu mengimbangi laju pertumbuhan penduduk di masa mendatang. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan perlunya peningkatan jumlah, kapasitas, serta pemerataan fasilitas sosial guna mendukung pengembangan kawasan PIK 2 yang berkelanjutan, inklusif, dan layak huni.
EVALUASI HIERARKI PUSAT PELAYANAN PERKOTAAN MENGGUNAKAN ANALISIS SKALOGRAM DAN AKSESIBILITAS DI KOTA TANGERANG: KECAMATAN TANGERANG, KARAWACI DAN CIBODAS Shalsadilla Amelia; Susanti Widiastuti; Regina Suryadjaja
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37076

Abstract

Abstract Tangerang City faces increasing demand for urban service centers that can provide equitable services in line with urban growth. This study evaluates the hierarchy of urban service centers by integrating scalogram analysis and transportation accessibility in Sub-Planning Area (SWP) A (Tangerang District) and SWP B (Karawaci and Cibodas Districts). The scalogram method and Centrality Index are used to assess facility completeness, while the Rank–Size Rule analyzes population distribution. The results indicate that Tangerang District has the highest level of facility completeness and is classified as an urban service center (order I), whereas Karawaci and Cibodas Districts are categorized as neighborhood-level service centers (order III). The integration of scalogram and transportation accessibility analyses shows that areas with more complete facilities tend to have better accessibility, while areas with limited accessibility exhibit lower and less evenly distributed service levels. These findings highlight the critical role of transportation accessibility in strengthening service center functions and promoting more balanced urban service provision in Tangerang City. Keywords: Centrality Index; Rank-Size Rule; Road Network; Scalogram; Service Center Hierarchy; Tangerang City; Transportation Accessibility Abstrak Kota Tangerang menghadapi peningkatan kebutuhan pusat pelayanan perkotaan yang mampu melayani masyarakat secara merata seiring pertumbuhan kawasan perkotaan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi hierarki pusat pelayanan perkotaan melalui integrasi analisis skalogram dan aksesibilitas transportasi. Analisis dilakukan pada Sub Wilayah Perencanaan (SWP) A, yaitu Kecamatan Tangerang, serta SWP B yang meliputi Kecamatan Karawaci dan Cibodas. Metode skalogram dan Indeks Sentralitas digunakan untuk menilai kelengkapan fasilitas pelayanan, sedangkan Rank–Size Rule digunakan untuk menganalisis distribusi populasi wilayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kecamatan Tangerang memiliki tingkat kelengkapan fasilitas tertinggi dan dikategorikan sebagai pusat pelayanan perkotaan (orde I), sementara Kecamatan Karawaci dan Cibodas berada pada tingkat pusat pelayanan lingkungan (orde III). Integrasi hasil skalogram dan analisis aksesibilitas transportasi menunjukkan bahwa wilayah dengan fasilitas yang lebih lengkap cenderung memiliki aksesibilitas transportasi yang lebih baik, sedangkan wilayah dengan aksesibilitas transportasi terbatas menunjukkan tingkat pelayanan yang lebih rendah dan belum merata. Temuan ini menegaskan pentingnya peran aksesibilitas transportasi dalam memperkuat fungsi pusat pelayanan dan mendorong pemerataan pelayanan perkotaan di Kota Tangerang.
DINAMIKA PERUBAHAN KAWASAN BLOK M: STUDI KASUS PASARAYA GANG VIRAL Febi Amanda Riza; Regina Suryadjaja; Susanti Widiastuti
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37077

Abstract

Blok M in South Jakarta is an urban activity center that has undergone significant transformation in recent years. The area has changed not only through improved accessibility and mobility but also through the emergence of social interaction spaces that support youth expression and activities. This study analyzes the revitalization process with a focus on Pasar Raya Gang Viral, a corridor transformed from a formal trading space into a culinary, social, and creative hub. A qualitative descriptive method with a case study approach was employed, including field observation, interviews with managers, tenants, and visitors, as well as visual documentation. Findings indicate that Gang Viral acts as a catalyst for area activity, enhances social interaction, and strengthens Blok M’s appeal as an urban mobility and interaction hub. The presence of M Bloc Space is identified as a key factor driving revitalization and collaboration among stakeholders. These findings may serve as a reference for managing other urban areas to develop creative and sustainable interaction spaces. Keywords: Blok M; Gang Viral; Revitalization; Transformation Abstrak Blok M di Jakarta Selatan merupakan pusat aktivitas perkotaan yang mengalami transformasi signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kawasan ini berubah tidak hanya melalui peningkatan aksesibilitas dan mobilitas, tetapi juga melalui munculnya ruang interaksi sosial yang mendukung ekspresi dan aktivitas generasi muda. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses revitalisasi kawasan dengan fokus pada Pasar Raya Gang Viral, lorong yang berkembang dari ruang perdagangan formal menjadi pusat kuliner, sosial, dan kreatif. Penelitian ini menerapkan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus, menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi lapangan, wawancara dengan pengelola, tenant, dan pengunjung, serta pendokumentasian visual. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa Gang Viral berperan sebagai pemantik aktivitas kawasan, meningkatkan interaksi sosial, dan memperkuat daya tarik Blok M sebagai pusat mobilitas dan interaksi perkotaan. Kehadiran M Bloc Space juga terbukti menjadi faktor kunci yang mendorong revitalisasi dan kolaborasi antar-pelaku kawasan. Temuan ini dapat menjadi referensi bagi pengelolaan kawasan perkotaan lain dalam mengembangkan ruang interaksi yang kreatif dan berkelanjutan.
ANALISIS NILAI SPIRITUAL BUDAYA TERHADAP TATA LETAK CANDI PADA SUMBU AKSIS BUDAYA BOROBUDUR, PAWON, DAN MENDUT Krisna Mulyadi; Susanti Widiastuti; Regina Suryadjaja
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37078

Abstract

This study discusses the relation among three major temples in Magelang Regency, namely Borobudur Temple, Pawon Temple, and Mendut Temple, which are located on an imaginary line known as the Cultural Axis. The research aims to analyze the spatial, cultural, and spiritual relationships among the three temples in the context of pilgrimage trail tourism development. A qualitative approach was employed through field observation, interviews, and literature studies based on government documents. The findings indicate that the cultural axis holds significant potential to be developed as a sustainable spiritual tourism route that strengthens the cultural identity of the Borobudur area. Keywords: Borobudur; Cultural Axis; Mendu; Pawon; Pilgrimage Trail Abstrak Penelitian ini membahas hubungan tiga candi besar di Kabupaten Magelang, yaitu Candi Agung Borobudur, Candi Pawon, dan Candi Mendut, yang terletak pada satu garis imajiner yang disebut Sumbu Aksis Budaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan spasial, kultural, dan spiritual di antara ketiga candi tersebut dalam konteks pengembangan pariwisata berbasis ziarah (pilgrimage trail tourism). Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara, serta kajian literatur dan dokumen pemerintah daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan sumbu aksis budaya memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan sebagai jalur wisata spiritual berkelanjutan yang memperkuat identitas budaya kawasan Borobudur.
POTENSI PENGEMBANGAN PROPERTI DI SINGKAWANG, KALIMANTAN BARAT Hengky Hengky; Regina Suryadjaja; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37083

Abstract

Singkawang City is one of the cities in West Kalimantan Province that holds a strategic position and plays an important role in supporting regional economic growth. This study aims to examine the development and current condition of the property market in Singkawang City, including growth trends, types of properties developed, and the direction of urban development. The research employs a descriptive method with both qualitative and quantitative approaches, supported by spatial analysis. Research data were obtained from primary data such as field surveys, as well as secondary data sourced from government institutions, literature studies, and digital mapping using Google Maps and QGIS. The research variables include the location and spatial distribution of properties, types and functions of developed properties, growth in property supply, market demand, and the direction of area development. The analysis refers to the Appraisal Institute (2020), which states that property development and value are strongly influenced by location, accessibility, the intensity of economic activities, and their relationship with activity centers and infrastructure networks. These factors determine land use patterns and the direction of urban development. The results indicate that property development in Singkawang City is driven by the trade, service, and tourism sectors, supported by its strategic geographical position and infrastructure development. The highest increase in property supply occurred in 2022, with 16 new properties added. The property type experiencing the most significant growth was cafés, totaling 38 units. Furthermore, new property development tends to expand toward the North Singkawang area. In conclusion, Singkawang City has significant potential for property development and plays an important role in promoting balanced regional development. Keywords: Singkawang, property development, West Kalimantan, growth centers. Abstrak Kota Singkawang merupakan salah satu kota di Provinsi Kalimantan Barat yang memiliki posisi strategis dan berperan penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi regional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan dan kondisi pasar properti di Kota Singkawang, meliputi tren pertumbuhan, jenis properti yang berkembang, serta arah pengembangan wilayah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif, yang didukung oleh analisis spasial. Data penelitian diperoleh melalui data primer seperti  survei serta data sekunder yang bersumber dari instansi pemerintahan, studi literatur, dan pemetaan digital menggunakan Google Maps dan QGIS. Variabel penelitian meliputi lokasi dan sebaran properti, jenis dan fungsi properti yang berkembang, pertumbuhan supply properti, permintaan pasar, serta arah pengembangan wilayah. Analisis dilakukan dengan mengacu pada Appraisal Institute (2020) yang menyatakan bahwa perkembangan dan nilai properti sangat dipengaruhi oleh lokasi, aksesibilitas, intensitas aktivitas ekonomi, serta keterkaitannya dengan pusat kegiatan dan jaringan infrastruktur. Faktor-faktor tersebut menentukan pola pemanfaatan lahan dan arah pengembangan kawasan perkotaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan properti di Kota Singkawang didorong oleh sektor perdagangan, jasa, dan pariwisata, yang diperkuat oleh posisi geografis strategis serta perkembangan infrastruktur. Peningkatan supply properti tertinggi terjadi pada tahun 2022 sebanyak 16 properti baru, dengan jenis properti yang mengalami pertumbuhan terbesar berupa kafe sebanyak 38 unit. Arah pengembangan properti baru cenderung mengarah ke wilayah Singkawang Utara. Kesimpulannya, Kota Singkawang memiliki potensi perkembangan properti yang signifikan dan berperan dalam mendorong pemerataan pembangunan wilayah.
ANALISIS PERKEMBANGAN PASAR PROPERTI DI SEKITAR TEBET ECO PARK BERDASARKAN KORELASI JARAK DAN TINGKAT INFLASI Nico Febrianto Komala; Regina Suryadjaja; Priyendiswara Agustina Bella
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37085

Abstract

This study examines property market dynamics around Tebet Eco Park (TEP) following its revitalization, drawing on hedonic pricing theory, which argues that property values are influenced by locational characteristics and urban amenities such as public open spaces (Anderson & West, 2006). The study focuses on the relationship between property distance to the park and changes in land prices within the context of housing sector inflation in DKI Jakarta. A quantitative approach was applied using Pearson correlation analysis to measure the relationship between distance and land prices, supported by descriptive analysis comparing land price growth with housing inflation. Data were collected from property samples in Tebet Timur and Tebet Barat for two periods, 2018–2019 and 2024–2025. The results show a strong negative correlation between distance from Tebet Eco Park and land prices, with correlation coefficients of r = –0.7659 and r = –0.7313. However, land price growth in the study area reached only 7.69% during 2018–2025, remaining below the housing sector inflation rate of 15.24%. These findings indicate that while Tebet Eco Park functions as an urban amenity, its impact on property values remains moderate. Keywords:  inflation; land price Correlation; Property Market; Revitalization; Tebet Eco Park Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika pasar properti di sekitar Tebet Eco Park (TEP) pasca revitalisasi dengan merujuk pada teori hedonic pricing yang menyatakan bahwa nilai properti dipengaruhi oleh karakteristik lokasi dan keberadaan amenitas perkotaan seperti ruang publik (Anderson & West, 2006). Fokus penelitian adalah hubungan antara jarak properti terhadap taman dan perubahan nilai jual tanah dalam konteks inflasi sektor perumahan di DKI Jakarta. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui analisis korelasi Pearson untuk mengukur hubungan antara jarak dan harga tanah, serta analisis deskriptif untuk membandingkan kenaikan harga tanah dengan tingkat inflasi perumahan. Data diperoleh dari sampel properti di kawasan Tebet Timur dan Tebet Barat pada dua periode, yaitu 2018–2019 dan 2024–2025. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif yang kuat antara jarak properti terhadap Tebet Eco Park dengan harga tanah, dengan nilai koefisien korelasi r = –0,7659 pada periode 2018–2019 dan r = –0,7313 pada periode 2024–2025. Namun, kenaikan harga tanah di kawasan studi hanya mencapai 7,69% selama periode 2018–2025, lebih rendah dibandingkan inflasi sektor perumahan DKI Jakarta sebesar 15,24%. Temuan ini menunjukkan bahwa pengaruh Tebet Eco Park terhadap nilai pasar properti bersifat moderat dan belum menjadi faktor dominan dalam dinamika pasar properti perkotaan.