Suryono Herlambang
Program Studi S1 PWK, Fakultas Arsitektur, Perencanaan, dan Real Estat, Universitas Tarumanagara, Jakarta

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PRIVATELY OWNED PUBLIC SPACE (POPS) DALAM KAWASAN PUSAT PERBELANJAAN DI JAKARTA: STUDI IMPLEMENTASI REGULASI Mahda Alkaujani; Suryono Herlambang; Priyendiswara Agustina Bella
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37079

Abstract

Jakarta, as major center of urban growth, is required to fulfill its obligation to provide spaces that support residents’ comfort. Consequently, the government has developed various public spaces in collaboration with private entities, commonly referred to as Privately Owned Public Spaces (POPS). These are public spaces built on private land, owned and managed by private parties, but freely accessible to the public without restrictions on visitors. This phenomenon has become increasingly prevalent in Jakarta, particularly as open spaces on private land are often integrated with shopping mall complexes. In Jakarta, the government regulates POPS through Rencana Detail Tata Ruang 2022 (Pergub DKI 31/2022). However, the regulation provides no further specifications regarding the detailed provisions for POPS development. This study employs a case study approach using qualitative descriptive methods, including on-site observations, interviews with managers and users of the study objects, and literature review as data collection techniques. The research aims to identify the regulatory framework and detailed guidelines and physical characteristics of POPS that have developed in Jakarta. The study concludes with findings related to these objectives and recommendations for regulatory development to guide the future implementation of POPS. Keywords: Privately Owned Public Space; Public Space; Urban Planning Abstrak Kota Jakarta sebagai pusat pertumbuhan, dituntut untuk memenuhi kewajiban dalam penyediaan ruang yang mendukung kenyamanan warga. Maka dari itu, pemerintah telah membangun beragam ruang publik yang kolaborasi dengan pihak swasta yang dapat disebut dengan Privately Owned Public space (POPS), yaitu ruang publik yang berdiri di atas lahan privat, dimiliki, dan dikelola oleh pihak swasta, namun diperuntukan untuk publik secara bebas tanpa adanya batasan-batasan pengunjung. Fenomena ini sudah banyak terjadi di Jakarta, umumnya ruang terbuka pada lahan privat ini terintegrasi dengan kawasan pusat perbelanjaan. Di Jakarta pemerintah telah mengatur POPS dalam Rencana Detail Tata Ruang 2022 (Pergub DKI 31/2022). Namun, dalam peraturan tersebut tidak ada ketentuan lain mengenai pembangunan POPS lebih lanjut. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan metode deskriptif kualitatif, yaitu melakukan observasi pada objek studi, wawancara kepada pengelola dan pengguna objek studi, serta melakukan studi literatur sebagai teknik pengumpulan data. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui regulasi dan detail aturan, serta karakteristik fisik POPS yang sudah berkembang di Jakarta. Hasil akhir dari penelitian ini berupa kesimpulan dari tujuan tersebut serta saran pengembangan regulasi yang dapat dikembangkan untuk pembangunan POPS ke depannya.
EVALUASI KETERSEDIAAN DAN KELAYAKAN SARANA PRASARANA SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN KAWASAN WATERFRONT PARK STUDI KASUS SITU PEMDA, CIBINONG, KAB.BOGOR Khalsa Nurhanifah; Suryono Herlambang; Priyendiswara Agustina Bella
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37080

Abstract

Urban development in Cibinong has led to an increasing demand for adequate public open spaces, particularly blue spaces such as situ that serve ecological and social functions. Situ Pemda, located within the administrative center of Bogor Regency, has significant potential to be developed as a waterfront-based public space. However, the utilization of this area has not been optimal due to limitations and inadequacies in existing infrastructure when compared to urban public space standards. This study aims to evaluate the availability and feasibility of infrastructure facilities at Situ Pemda as a basis for the development of the Situ Front City area. The research employs a descriptive qualitative approach through field observations, interviews with relevant institutions, including BBWS, DPKPP, and Bappeda, and spatial analysis to assess physical conditions and accessibility. The results indicate that Situ Pemda benefits from a strategic location and good accessibility and is equipped with several basic facilities such as pedestrian paths, seating areas, toilets, and parking spaces. Nevertheless, the quality of these facilities does not yet fully meet the standards of comfort, safety, and sustainability required for waterfront public spaces. Limitations in material quality, pedestrian connectivity, facility cleanliness, and maintenance systems remain key challenges. Therefore, Situ Pemda can be classified as having a moderate level of readiness for waterfront public space development and requires targeted and sustainable improvements in infrastructure quality. Keywords: Accessibility; infrastructure facilities; green open space; waterfront; lake Abstrak Perkembangan kawasan perkotaan di Cibinong berimplikasi pada meningkatnya kebutuhan akan ruang terbuka publik yang layak, khususnya ruang biru seperti situ yang berfungsi secara ekologis dan sosial. Situ Pemda yang terletak di kawasan pusat pemerintahan Kabupaten Bogor memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai ruang publik berbasis waterfront. Namun demikian, pemanfaatan kawasan ini belum optimal akibat keterbatasan dan ketidaksesuaian sarana prasarana dengan standar ruang publik perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketersediaan dan kelayakan sarana prasarana di Situ Pemda sebagai dasar pengembangan kawasan Situ Front City. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui observasi lapangan, wawancara dengan instansi terkait, yaitu BBWS, DPKPP, dan Bappeda, serta analisis spasial untuk menilai kondisi fisik dan aksesibilitas kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Situ Pemda memiliki keunggulan dari aspek lokasi dan keterjangkauan, serta telah dilengkapi beberapa fasilitas dasar seperti jalur pedestrian, tempat duduk, toilet, dan area parkir. Meskipun demikian, kualitas fasilitas tersebut belum sepenuhnya memenuhi standar kenyamanan, keamanan, dan keberlanjutan ruang publik waterfront. Keterbatasan kualitas material, keterhubungan jalur pedestrian, kebersihan fasilitas, serta sistem pemeliharaan menjadi kendala utama. Dengan demikian, Situ Pemda berada pada tingkat kesiapan menengah untuk dikembangkan sebagai ruang publik waterfront dan memerlukan peningkatan kualitas sarana prasarana secara terarah dan berkelanjutan.
ANALISIS PENEMPATAN ZONA KOMERSIAL TERHADAP MOBILITAS PENUMPANG DI STASIUN MANGGARAI, JAKARTA SELATAN Raden Bayu Diasmaya; Suryono Herlambang; Priyendiswara Agustina Bella
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37081

Abstract

Manggarai Station, strategically located in South Jakarta, has transformed from a mere transportation node into a multimodal hub that also integrates significant commercial functions. This phenomenon reflects a global trend where modern stations are playing a dual role as mobility nodes and commercial retail, aiming to enhance the passenger experience, generate non-fare revenue, and support the local economy. This research focuses on analyzing the placement and spatial distribution of commercial locations at Manggarai Station, evaluating how interactions between tenants and passenger movement patterns influence purchasing behavior, and identifying implications for operational efficiency and overall station comfort. Observations include mapping tenant locations, identifying business types, analyzing passenger flow patterns, and recording density and interactions in the commercial zone. The findings indicate that commercial locations in Manggarai are significantly dominated by fast food & beverage retailers and minimarkets. These tenants are strategically placed in prime areas and platform accesses with high passenger traffic density. This placement effectively leverages the dense passenger movement flow to encourage impulse purchases and meet on-the-go needs, where speed of service and location are key drivers. Furthermore, the lack of comfortable seating areas and the limited diversity of tenants in certain locations are issues. Further optimization requires a more thorough analysis of passenger flow for strategic tenant placement and the creation of commercial zones that do not disrupt the main traffic flow. Keywords: commercial; Manggarai Station; passenger movement Abstrak Stasiun Manggarai, yang terletak strategis di Jakarta Selatan, telah bertransformasi dari sekadar simpul transportasi menjadi sebuah pusat aktivitas multimoda yang juga mengintegrasikan fungsi komersial yang signifikan. Fenomena ini mencerminkan tren global di mana stasiun modern berperan ganda sebagai simpul mobilitas dan ritel komersial, bertujuan untuk meningkatkan pengalaman penumpang, menciptakan pendapatan non-tarif, dan mendukung ekonomi lokal. Penelitian ini berfokus pada analisis penempatan dan distribusi spasial lokasi komersial di Stasiun Manggarai, mengevaluasi bagaimana interaksi antara penyewa dan pola pergerakan penumpang mempengaruhi perilaku pembelian, serta mengidentifikasi implikasi terhadap efisiensi operasional dan kenyamanan stasiun secara keseluruhan. Observasi mencakup pemetaan lokasi penyewa, identifikasi jenis usaha, analisis pola aliran penumpang, serta pencatatan kepadatan dan interaksi di zona komersial. Hasil temuan menunjukkan bahwa lokasi komersial di Manggarai didominasi secara signifikan oleh ritel makanan & minuman siap saji dan minimarket. Penyewa ini secara strategis ditempatkan di area utama dan akses peron dengan kepadatan lalu lintas penumpang tinggi. Penempatan ini secara efektif memanfaatkan alur pergerakan penumpang yang padat untuk mendorong pembelian impulsif dan memenuhi kebutuhan on-the-go, di mana kecepatan layanan dan lokasi menjadi faktor pendorong utama. Selain itu, kurangnya area duduk yang nyaman dan diversifikasi penyewa yang masih terbatas di lokasi tertentu menjadi isu. Optimalisasi lebih lanjut memerlukan analisis flow penumpang yang lebih cermat untuk penempatan penyewa yang strategis serta penciptaan zona komersial yang tidak mengganggu arus mobilitas utama.
EVALUASI PENGELOLAAN TAMAN BALEKAMBANG PASCA REVITALISASI DALAM MENDUKUNG FUNGSI RTH KOTA SURAKARTA Ayu Anton; Suryono Herlambang; Priyendiswara Agustina Bella
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37082

Abstract

This study evaluates the management of Balekambang Park after revitalization in supporting its function as an urban green open space in Surakarta City. The revitalization carried out during 2022–2023 resulted in significant improvements in physical conditions, facilities, and the park’s role as a public and cultural space. However, physical improvements must be supported by effective management to ensure optimal ecological, social, and aesthetic functions. This research aims to assess post-revitalization park management by comparing conditions before and after revitalization and identifying factors influencing management effectiveness. The methods include field observation, interviews with park managers and stakeholders, and descriptive-comparative analysis of facilities, vegetation, visitor activities, and green space functions. The results show that revitalization improved physical quality and visitor use, yet management challenges remain, particularly in vegetation maintenance, activity zoning, and visitor control during peak periods. Integrated and sustainable management is still limited. The study concludes that stronger, collaborative, and long-term management strategies are required to optimize the park’s role as an urban green space. Keywords: park management; revitalization; urban green space; city park Abstrak Penelitian ini mengevaluasi pengelolaan Taman Balekambang pasca revitalisasi dalam mendukung fungsi ruang terbuka hijau (RTH) Kota Surakarta. Revitalisasi yang dilakukan pada periode 2022–2023 membawa perubahan signifikan pada kondisi fisik taman, penambahan fasilitas, serta peningkatan daya tarik kawasan sebagai ruang publik dan destinasi budaya. Namun, perubahan fisik tersebut perlu diimbangi dengan sistem pengelolaan yang efektif agar fungsi ekologis, sosial, dan estetika taman dapat berjalan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kondisi pengelolaan Taman Balekambang setelah revitalisasi dengan membandingkan kondisi sebelum dan pasca revitalisasi, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengelolaannya. Metode penelitian yang digunakan meliputi observasi lapangan, wawancara dengan pengelola dan pihak terkait, serta analisis deskriptif-komparatif terhadap aspek fasilitas, vegetasi, aktivitas pengunjung, dan fungsi RTH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa revitalisasi berhasil meningkatkan kualitas fisik taman dan intensitas pemanfaatannya oleh masyarakat, namun pengelolaan pasca revitalisasi masih menghadapi kendala pada aspek perawatan vegetasi, pengaturan zonasi aktivitas, dan pengendalian jumlah pengunjung pada waktu tertentu. Pengelolaan yang ada belum sepenuhnya terintegrasi dan berkelanjutan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan sistem pengelolaan yang terpadu, kolaboratif, dan berorientasi jangka panjang diperlukan agar Taman Balekambang dapat berfungsi optimal sebagai RTH kota.
POTENSI PENGEMBANGAN PROPERTI DI SINGKAWANG, KALIMANTAN BARAT Hengky Hengky; Regina Suryadjaja; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37083

Abstract

Singkawang City is one of the cities in West Kalimantan Province that holds a strategic position and plays an important role in supporting regional economic growth. This study aims to examine the development and current condition of the property market in Singkawang City, including growth trends, types of properties developed, and the direction of urban development. The research employs a descriptive method with both qualitative and quantitative approaches, supported by spatial analysis. Research data were obtained from primary data such as field surveys, as well as secondary data sourced from government institutions, literature studies, and digital mapping using Google Maps and QGIS. The research variables include the location and spatial distribution of properties, types and functions of developed properties, growth in property supply, market demand, and the direction of area development. The analysis refers to the Appraisal Institute (2020), which states that property development and value are strongly influenced by location, accessibility, the intensity of economic activities, and their relationship with activity centers and infrastructure networks. These factors determine land use patterns and the direction of urban development. The results indicate that property development in Singkawang City is driven by the trade, service, and tourism sectors, supported by its strategic geographical position and infrastructure development. The highest increase in property supply occurred in 2022, with 16 new properties added. The property type experiencing the most significant growth was cafés, totaling 38 units. Furthermore, new property development tends to expand toward the North Singkawang area. In conclusion, Singkawang City has significant potential for property development and plays an important role in promoting balanced regional development. Keywords: Singkawang, property development, West Kalimantan, growth centers. Abstrak Kota Singkawang merupakan salah satu kota di Provinsi Kalimantan Barat yang memiliki posisi strategis dan berperan penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi regional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan dan kondisi pasar properti di Kota Singkawang, meliputi tren pertumbuhan, jenis properti yang berkembang, serta arah pengembangan wilayah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif, yang didukung oleh analisis spasial. Data penelitian diperoleh melalui data primer seperti  survei serta data sekunder yang bersumber dari instansi pemerintahan, studi literatur, dan pemetaan digital menggunakan Google Maps dan QGIS. Variabel penelitian meliputi lokasi dan sebaran properti, jenis dan fungsi properti yang berkembang, pertumbuhan supply properti, permintaan pasar, serta arah pengembangan wilayah. Analisis dilakukan dengan mengacu pada Appraisal Institute (2020) yang menyatakan bahwa perkembangan dan nilai properti sangat dipengaruhi oleh lokasi, aksesibilitas, intensitas aktivitas ekonomi, serta keterkaitannya dengan pusat kegiatan dan jaringan infrastruktur. Faktor-faktor tersebut menentukan pola pemanfaatan lahan dan arah pengembangan kawasan perkotaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan properti di Kota Singkawang didorong oleh sektor perdagangan, jasa, dan pariwisata, yang diperkuat oleh posisi geografis strategis serta perkembangan infrastruktur. Peningkatan supply properti tertinggi terjadi pada tahun 2022 sebanyak 16 properti baru, dengan jenis properti yang mengalami pertumbuhan terbesar berupa kafe sebanyak 38 unit. Arah pengembangan properti baru cenderung mengarah ke wilayah Singkawang Utara. Kesimpulannya, Kota Singkawang memiliki potensi perkembangan properti yang signifikan dan berperan dalam mendorong pemerataan pembangunan wilayah.
PENGARUH GEDUNG HIJAU TERHADAP EFISIENSI ENERGI GEDUNG Pieter Kevin Kristanto; Susanti Widiastuti; Suryono Herlambang
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v8i1.37084

Abstract

As advancements in technology and increasing spatial demands reshape the built environment, building management practices have undergone substantial adjustments, particularly in relation to growing environmental concerns. Within the property sector, issues of energy utilization and cost efficiency have become significantly more prominent over the past fifteen years. Rising operational requirements have driven the adoption of assessment frameworks such as Green Building certification, which evaluates the extent to which a building adheres to comprehensive sustainability principles. Beyond improving the environmental quality experienced by occupants, this certification supports building owners and managers in reducing operational expenditures through enhanced energy performance and the implementation of more efficient systems. Nevertheless, the measurable impact of such certification varies across buildings, influenced by climatic conditions, occupancy behavior, and daily facility management practices. This study seeks to assess the contribution of Green Building certification to energy efficiency, with particular emphasis on the Indonesian context, characterized by a tropical climate and high levels of electricity and water consumption. The analysis further examines the role of building facilities, utilities, and operational procedures in shaping energy use, and incorporates benchmarking comparisons between certified and non-certified buildings. The findings are expected to offer more definitive insights into the actual effectiveness of green building practices and to inform the development of more sustainable and renewable energy management strategies for future building operations. Keywords:   energy efficiency; green building;  property management Abstrak Seiring berkembangnya teknologi dan kebutuhan akan ruang, pengelolaan gedung mengalami banyak penyesuaian, salah satunya ialah meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan. Dalam sektor properti, perhatian terhadap penggunaan energi dan efisiensi biaya semakin menonjol dalam lima belas tahun terakhir. Peningkatan kebutuhan operasional mendorong munculnya standar penilaian seperti sertifikasi Green Building, yang berfungsi menilai apakah sebuah bangunan telah menerapkan prinsip keberlanjutan secara menyeluruh. Sertifikasi ini tidak hanya memberikan kualitas lingkungan yang lebih nyaman bagi penyewa, tetapi juga membantu pemilik dan pengelola gedung menekan biaya operasional melalui penghematan energi serta pemanfaatan sistem yang lebih efisien. Meski demikian, dampak sertifikasi tidak selalu sama pada setiap gedung, karena hasilnya sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim, pola penggunaan ruang, serta cara pengelolaan fasilitas sehari-hari. Penelitian ini bertujuan menilai sejauh mana sertifikasi Green Building berkontribusi pada efisiensi energi, khususnya dalam konteks Indonesia yang memiliki iklim tropis dan intensitas penggunaan energi listrik dan air yang sangat tinggi. Analisis juga mencakup pengaruh fasilitas, utilitas, dan prosedur operasional terhadap konsumsi energi, serta perbandingan kinerja energi antara gedung bersertifikat dan non-sertifikat melalui metode benchmarking. Temuan pada penelitian diharapkan dapat memberi penjelasan yang lebih baik dan lengkap mengenai efektivitas penerapan konsep bangunan hijau dan membantu menyusun strategi pengelolaan energi yang lebih berkelanjutan dan terbarukan di masa depan.