Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

From Structural Violence to Criminal Event: A Cross-National Synthesis of Femicide Reporting in Media Discourse Ratna Puspita
Lingkar Studi Komunikasi (LISKI) Vol 12 No 1 (2026): FEBRUARI 2026
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/liski.v12i1.10760

Abstract

This study examines the gap between the increasing visibility of femicide in media coverage and the limited recognition of its structural dimensions. It synthesizes 16 international studies (2016–2025) to develop an analytical framework for examining femicide reporting, with relevance to the Indonesian context. Using a narrative literature review, the study integrates findings on terminology, framing, representation, discursive authority, and sensationalism. The findings show that femicide reporting operates along a continuum between structural politicization and individual depoliticization. Across contexts, coverage is characterized by de-gendered terminology, episodic and legal-procedural focus, victim-blaming, perpetrator rationalization, reliance on institutional sources, and sensationalism. These patterns suggest that increased media visibility does not necessarily enhance recognition of structural gender inequality, but often reinforces individualized interpretations of violence. The study proposes six analytical dimensions as a systematic framework for cross-context analysis and more gender-sensitive journalism.
KEPUASAN GENERASI Z TERHADAP HOMELESS MEDIA VERSUS MEDIA BERITA DI INSTAGRAM (Analisis Uses and Gratification terhadap Generasi Z di Jabodetabek) Ratna Puspita
Jurnal Komunikasi, Masyarakat dan Keamanan Vol. 7 No. 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31599/sdfshb56

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tingkat kepuasan pengguna Generasi Z terhadap akun Instagram milik homeless media, yakni Folkative, USS Feeds, Cretivox, dan media berita konvensional, yakni Detikcom, IDN Times, Kompas.com, dalam memenuhi kebutuhan informasi. Dengan menggunakan pendekatan uses and gratifications model nilai harapan, penelitian ini menganalisis perbedaan antara Gratification Sought (GS) dan Gratification Obtained (GO) berdasarkan lima indikator: kenyamanan, pencarian informasi, hiburan, identitas pribadi, dan interaksi sosial. Survei dilakukan terhadap 100 responden Generasi Z di Universitas Pembangunan Jaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa homeless media lebih unggul dalam aspek kenyamanan dan hiburan, sementara media berita lebih dipercaya dalam pencarian informasi. Namun, kedua jenis media ini belum optimal dalam aspek interaksi sosial. Temuan ini mengindikasikan adanya pergeseran pola konsumsi informasi pada Generasi Z, dan menunjukkan perlunya adaptasi strategi konten oleh media konvensional agar tetap relevan dalam lanskap media digital yang terus berkembang. 
AKTIVISME DIGITAL PERSPEKTIF : GAMBAR BUAH SEMANGKA SEBAGAI INTERAKSI SIMBOLIK BAGI PALESTINA Algooth Putranto; Ratna Puspita
Jurnal Komunikasi & Media Digital Vol. 1 No. 2 (2023): Jurnal Komunikasi & Media Digital
Publisher : Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70611/jkmd.v1i2.13

Abstract

Social media platforms have the ability to facilitate international condemnation of Israel's attacks on the Gaza region since October 8, 2023. However, social media, especially Facebook and Instagram, secretly carried out censorship actions which triggered user resistance to simultaneously use the image of a watermelon fruit as a representation of the Palestinian flag. Simultaneously with the circulation of watermelon images on social media platforms, Palestinian sympathizers distributed campaign information for the emancipatory Boycott, Divestment and Sanctions (BDS) movement. The use of the watermelon symbol or watermelon resistance as sympathy for the Palestinian movement is a symbolic interaction in digital activism through social media
Menerjemahkan Teror, Membangun Ketakutan: Mediatisasi Dan Bias Jurnalisme Keamanan Di Era Digital Ratna Puspita; Titis Nurwulan Suciati; Nurul Fauziah
Jurnal Komunikasi, Masyarakat dan Keamanan Vol. 7 No. 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31599/vq8tk935

Abstract

Media massa memiliki peran ganda sebagai penyampai informasi sekaligus medium penyebaran pesan terorisme. Salah satu genre yang berkembang pasca tragedi 7/7 London adalah jurnalisme keamanan yang menggarisbawahi bagaimana media menerjemahkan peristiwa terorisme serta membentuk persepsi publik tentang ancaman. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji jurnalisme kemanan dan mengkritisi model-model jurnalisme keamanan yang selama ini berfokus pada framing teks berita, dengan menambahkan dimensi mediatisasi digital, proses media translation, dan bias struktural media dalam memberitakan isu-isu terorisme kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode literatur review naratif terhadap 21 artikel jurnal akademik yang dipublikasikan di tandfonline.com periode 2015–2024.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mediatisasi dalam jurnalisme keamanan membentuk kondisi konflik yang termediasi secara digital, yang disebut diffused war yang sulit diprediksi. Studi ini menyimpulkan bahwa praktik jurnalisme keamanan saat ini masih menyisakan kesenjangan dalam memahami dampak mediatisasi, bias framing, serta etika penerjemahan pesan ekstremis di media. Penelitian ini merekomendasikan perlunya media massa menerapkan praktik jurnalistik yang lebih seimbang, kontekstual, dan etis dalam melaporkan isu-isu terorisme guna menghindari stereotipe dan polarisasi publik.