Tuberkulosis paru (TB paru) merupakan penyakit menular dengan angka mortalitas tinggi dan Indonesia menjadi negara dengan beban kasus kedua terbesar di dunia setelah India. Capaian indikator program penanggulangan TB masih menghadapi banyak kendala sehingga diperlukan pemetaan karakteristik pasien sebagai dasar intervensi. Penelitian ini bertujuan menggambarkan profil pasien TB paru yang menjalani pengobatan di Poliklinik Paru Rumah Sakit Bhayangkara Bandarlampung meliputi jenis kelamin, usia, indeks massa tubuh (IMT), gejala klinis, hasil laboratorium sputum, dan penyakit penyerta (komorbid). Desain penelitian menggunakan metode deskriptif observasional dengan teknik consecutive sampling terhadap 65 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Data diperoleh secara sekunder melalui rekam medis dan register, kemudian dianalisis menggunakan SPSS. Hasil menunjukkan mayoritas pasien berada pada kelompok usia produktif (35–50 tahun) dengan distribusi 40 laki-laki dan 25 perempuan. Sebanyak 25 pasien memiliki IMT <18,5 (underweight). Gejala klinis dominan berupa batuk (60 pasien), diikuti hemoptisis (19), sesak (20), keringat malam (30), demam (17), dan penurunan berat badan (25). Pemeriksaan sputum menunjukkan 44 pasien positif BTA. Komorbid terbanyak adalah diabetes mellitus (14 pasien), hipertensi (11), HIV/AIDS (6), PPOK (5), hepatitis B/C (3), gagal ginjal kronis (2), sedangkan 18 pasien tanpa komorbid. Disimpulkan bahwa pasien TB paru didominasi laki-laki usia produktif dengan status gizi rendah, gejala klinis khas, serta komorbid yang berpotensi memengaruhi keberhasilan terapi.