Udi Wahyudi
Poltekkes Kemenkes Bandung

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengembangan Model Pelatihan Entrepreneurship Berbasis Digital dalam Peningkatan Sosial Ekonomi Keluarga terhadap Pencegahan Stunting Udi Wahyudi; Subandi Subandi; Ita Pursitasari; Riyanto Riyanto
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 7 No. 5 (2025): Oktober 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i5.400

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pelatihan entrepreneurship berbasis digital dalam meningkatkan kondisi sosial ekonomi keluarga sebagai upaya pencegahan stunting di Kota Bogor. Stunting masih menjadi permasalahan serius di Indonesia, termasuk di Bogor, yang erat kaitannya dengan rendahnya pendapatan keluarga, keterbatasan akses pangan bergizi, serta kurangnya literasi kewirausahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas model pelatihan entrepreneurship berbasis digital dalam meningkatkan social ekonomi keluarga terhadap pencegahan stunting. Metode penelitian yang digunakan adalah research and development (R\&D) dengan pendekatan mixed methods yang meliputi studi literatur, analisis kebutuhan masyarakat, penyusunan modul pelatihan digital, uji coba terbatas, dan evaluasi efektivitas model. Responden terdiri dari keluarga dengan anak balita dan calon pasangan usia subur yang mengikuti program pelatihan. Instrumen penelitian berupa kuesioner, wawancara mendalam, serta observasi partisipatif. Pengujian signifikan efektivitas model pelatihan entrepreneurship berbasis digital dalam meningkatkan social ekonomi keluarga menggunakan uji sampel paired t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pelatihan entrepreneurship berbasis digital efektif meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta motivasi keluarga dalam mengelola usaha kecil berbasis rumah tangga. Peningkatan pendapatan keluarga berdampak pada kemampuan memenuhi kebutuhan gizi anak, mengurangi risiko kekurangan gizi kronis, serta memperkuat ketahanan ekonomi keluarga. Model yang dikembangkan memadukan pembelajaran daring interaktif, pendampingan usaha berbasis komunitas, serta akses pada jejaring pemasaran digital. Keunggulan model ini adalah fleksibilitas waktu belajar, keterjangkauan, serta relevansi materi dengan kebutuhan keluarga di era digital. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa pelatihan entrepreneurship berbasis digital merupakan strategi inovatif yang berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan keluarga sekaligus mendukung upaya pencegahan stunting.
Gambaran Karakteristik, Interaksi Sosial, dan Tingkat Adiksi pada Remaja dengan Game Online Riyanto Riyanto; Udi Wahyudi
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 7 No. 5 (2025): Oktober 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i5.590

Abstract

Fenomena adiksi game online pada remaja menjadi isu yang semakin mengkhawatirkan seiring dengan meningkatnya akses terhadap teknologi digital. Karakteristik individu dan kualitas interaksi sosial diduga berperan penting dalam memengaruhi tingkat kecenderungan remaja terhadap adiksi game online. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran karakteristik remaja, interaksi sosial, dan tingkat adiksi game online. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif. Sampel sebanyak 47 remaja berusia 13–18 tahun dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan tiga instrument yang sudah diuji dan dinyatakan valid dan reliabel. Instrumen tersebut meliputi: kuesioner karakteristik demografis, skala Analisis data dilakukan dengan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah laki-laki (81,0%), bermain game selama lebih dari 3 jam per hari (77,0%), dan menggunakan perangkat smartphone sebagai media utama. Tingkat interaksi sosial remaja berada pada kategori gangguan (64,0%), sedangkan tingkat adiksi game online berada pada kategori berat (77,0%). Kesimpulan: Remaja dengan interaksi sosial yang rendah cenderung memiliki tingkat adiksi game online yang lebih tinggi. Faktor karakteristik seperti jenis kelamin, durasi bermain, dan media bermain juga berkontribusi terhadap kecenderungan adiktif.  
Analisis tentang Pendidikan Seksual Dini pada Anak Usia 5-6 Tahun: Sebuah Metode Kualitatif Studi Kasus Ningning Sri Ningsih; Ida Farida; Amid Salmid; Ekberth Mandaku; Udi Wahyudi
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 8 No. 3 (2026): Juni 2026, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v8i3.2277

Abstract

Pendidikan seksual pada anak usia dini sangat penting untuk melindungi mereka dari kekerasan seksual dan membantu memahami batasan terhadap tubuhnya. Namun, pendidikan ini masih dianggap tabu oleh sebagian masyarakat. Salah satu metode yang dinilai efektif adalah media audio visual, khususnya melalui lagu edukatif. Lagu “Ku Jaga Tubuhku” dipilih untuk mendukung pemahaman anak secara interaktif dan menyenangkan. Studi ini dilakukan untuk menganalisis pengetahuan anak usia 5–6 tahun tentang pendidikan seksual dini. Metode yang digunakan yaitu menggunakan metode kualitatif studi kasus dengan jumlah responden sebanyak lima anak usia 5–6 tahun. Teknik analisis data yang dilakukan yaitu dilakukan secara interaktif, berkesinambungan sampai sempurna hingga datanya jenuh. Data dikumpulkan dengan cara melakukan wawancara secara mendalam kepada lima orang anak dan dengan cara observasi. Hasil penelitian didapatkan ada tiga orang responden yang mengalami tingkat pengetahuan cukup, dimana setelah dilakukan pemberian edukasi melalui media audio visual mengalami peningkatan tingkat pengetahuan. Kesimpulan: video lagu “Ku Jaga Tubuhku” terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan anak usia 5–6 tahun mengenai pendidikan seksual dini, sehingga media audio visual dapat menjadi metode edukasi yang menarik dan mudah dipahami anak.