Nuraeni S
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Significance of Lontara Bilang as Local Historiography in the Kingdom of Gowa Susmihara Susmihara; Nuraeni S; Lidya Megawati; Ahmad Habib Akramullah
Tarikhuna: Journal of History and History Education Vol 7, No 1 (2025): May 2025
Publisher : UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/thje.v7i1.11034

Abstract

As a living archive of the past, Indonesian history serves as a bridge connecting the past and present to reveal the wisdom and diversity of its people across the archipelago. South Sulawesi, as an integral part of this historical inheritance, has developed its own distinct narrative, including the existence of the Gowa Kingdom as a preserver of ancient traditions. Therefore, this research aims to further investigate and promote the Lontara Bilang script to enhance and broaden awareness of the history and values inherent in the cultural heritage of South Sulawesi, particularly within the context of the Gowa Kingdom. This research is a qualitative exploration employing descriptive analysis techniques. Data were collected through library research, involving the analysis of materials from library sources. The research process comprised Heuristics, Source Criticism, Interpretation and Historiography. The finsings of this investigation indicate that the significance of Lontara Bilang extends beyond its use in writing within the kingdom. More significantly, Lontara Bilang has played a crucial role in maintaining, reinforcing and preserving Gowa’s rich and historic cultural identity. The preservation of Lontara Bilang, as a custodian of the history and cultural heritage of the people of the archipelago, particularly the people of Gowa, must be preserved for the future. It should serve as a cultural symbol that embodies the unique identity of the people of South Sulawesi, especially Makassar or the Kingdom of Gowa at that time. Therefore, Lontara Bilang provodes a solid foundation and reference for the development of knowledge and science in the future.
Integration Of Islam With Local Culture: A Study Of Maudhu Lompoa Tradition Syarifah Fauziyah; Nuraeni S; Marwati; Muh Kadril
Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Vol 7 No 2 (2026): Education and Islamic Studies
Publisher : STAI DDI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55623/au.v7i2.678

Abstract

Penelitian ini membahas tentang integrasi budaya Islam dengan budaya lokal dalam tradisi Maudhu Lompoa di Kabupaten Gowa. Tujuan penelitian ini adalah untuk merekonstruksi sejarah integrasi Islam dengan budaya lokal. Penelitian ini mendeskripsikan dan menganalisis integrasi Islam dalam prosesi tradisional, integrasi Islam ke dalam nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi, dan dampak integrasi Islam terhadap kehidupan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data yang dianalisis adalah data lapangan dengan menggunakan pendekatan historis dan antropologis terhadap agama. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, photovoice, dokumentasi, dan data kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi Maudhu Lompoa mulai diterapkan setelah Islam menjadi agama resmi Kerajaan Gowa pada tahun 1605. Maudhu Lompoa (ulang tahun besar), yaitu ulang tahun Nabi Muhammad SAW, dilaksanakan sebagai metode penyebaran Islam di mana unsur-unsur lokal menjadi bagian penting dari tradisi tersebut, seperti benda-benda tradisional yang terdiri dari bahan-bahan dasar yang diyakini memiliki makna simbolis sebagai harapan untuk mencapai kemakmuran. Dalam perkembangannya, tradisi ini dilaksanakan setiap tahun sebagai bukti cinta kepada Nabi Muhammad SAW dan rasa syukur kepada Allah SWT. Tradisi Maudhu Lompoa memiliki serangkaian kegiatan di mana integrasi Islam berada pada tahap persiapan dan pelaksanaan. Tradisi ini bukan hanya peringatan ulang tahun tetapi juga bentuk rasa syukur kepada Allah SWT dan simbol harapan masyarakat untuk mencapai kemakmuran. Nilai-nilai budaya Islam dan budaya lokal yang terintegrasi dalam tradisi ini meliputi dimensi spiritual, dimensi sosial dan komunitas serta dimensi seni dan hiburan. Integrasi Islam dalam tradisi ini berdampak pada kehidupan masyarakat, antara lain; Meningkatkan religiusitas masyarakat dan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi.