Ummul Muchlisho
Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pemberdayaan Literasi Masyarakat Melalui Program Warung Literasi dan Bimbingan Belajar Cerdas Ceria Shobibatur Aulia; Achmad Wicaksono; Intan Firdaus; Nimas Azimatur Rohmah; Ummul Muchlisho; M. Faizal Abdillah
Nusantara Community Empowerment Review Vol. 4 No. 1 (2026): Nusantara Community Empowerment Review
Publisher : LPPM UNUSIDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55732/pqvy2587

Abstract

Program Warung Literasi dan Bimbingan Belajar Cerdas Ceria dilaksanakan di Dusun Luwung, Desa Sarirogo, sebagai upaya pemberdayaan literasi masyarakat melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR). Latar belakang dilaksanakannya kegiatan ini adalah kurangnya akses bahan bacaan, minimnya ruang belajar non formal, serta rendahnya tingkat pendampingan belajar anak-anak. Program Warung Literasi menyediakan ruang baca terbuka dengan berbagai koleksi buku mulai dari buku cerita, komik edukasi, dan bacaan umum, sedangkan Cerdas Ceria memberikan bimbingan belajar interaktif dengan metode kreatif dan menyenangkan sehingga anak-anak dapat lebih menikmati proses pembelajaran. Hasil dari pelaksanaan program ini menunjukkan adanya peningkatan minat baca, kemampuan memahami bacaan, serta keterampilan menulis anak-anak. Selain itu, program ini juga berhasil mendorong partisipasi aktif masyarakat, mulai dari orang tua, perangkat desa, guru, hingga tokoh masyarakat dalam mendukung keberlangsungan kegiatan. Dengan demikian, program berbasis komunitas ini terbukti mampu meningkatkan budaya literasi sekaligus memperkuat pendidikan nonformal di lingkungan pedesaan. The "Smart and Cheerful" Literacy Shop and Tutoring Program was implemented in Luwung Hamlet, Sarirogo Village, as an effort to empower community literacy through a Participatory Action Research (PAR) approach. The background to this activity was the lack of access to reading materials, the lack of non-formal learning spaces, and the low level of learning assistance for children. The "Smart and Cheerful" Literacy Shop provides an open reading space with a variety of book collections ranging from storybooks, educational comics, and general reading, while "Smart and Cheerful" provides interactive tutoring with creative and fun methods so that children can enjoy the learning process more. The results of this program implementation showed an increase in reading interest, reading comprehension skills, and writing skills of children. In addition, this program also succeeded in encouraging active community participation, from parents, village officials, teachers, to community leaders in supporting the sustainability of the activity. Thus, this community-based program has proven to be able to improve literacy culture while strengthening non-formal education in rural areas.
PENGARUH MODEL EXPERIENTIAL LEARNING TERHADAP KETERAMPILAN PEMECAHAN MASALAH SISWA PADA MATERI PERUBAHAN WUJUD BENDA Ummul Muchlisho; Arie Widya Murni; Ika Silvi Anisa
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.14682

Abstract

Science learning in elementary schools needs to provide learning experiences that enable students to understand phenomena directly while developing problem-solving skills. However, teacher-centered instruction may limit students' involvement in observing, analyzing, and solving problems based on real experiences. This condition indicates the need for a learning model that connects concrete experiences with reflection, concept formation, and knowledge application. This study aimed to analyze the effect of the Experiential Learning model on the problem-solving skills of fourth-grade students at SDN Bendotretek I on the topic of changes in states of matter. The study employed a quantitative approach using a pre-experimental method with a One Group Pretest-Posttest design. The participants were 19 fourth-grade students. Data were collected through problem-solving skill tests and observations of learning activities. The results showed an improvement in students' problem-solving skills after the implementation of the Experiential Learning model. The students' mean score increased from 46.0 in the pretest to 74.7 in the posttest, and the Paired Sample t-test indicated a significant difference between the two measurements. The improvement suggests that concrete experiences, reflection, concept formation, and knowledge application in Experiential Learning can help students understand problems and determine solutions based on their learning experiences. Therefore, the Experiential Learning model can be used as an alternative science learning model to develop elementary students' problem-solving skills, particularly on the topic of changes in states of matter. ABSTRAK Pembelajaran IPA di sekolah dasar perlu memberikan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa memahami fenomena secara langsung sekaligus mengembangkan keterampilan pemecahan masalah. Namun, pembelajaran yang masih berpusat pada guru dapat membatasi keterlibatan siswa dalam mengamati, menganalisis, dan menyelesaikan permasalahan berdasarkan pengalaman nyata. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya model pembelajaran yang menghubungkan pengalaman konkret dengan proses refleksi, pembentukan konsep, dan penerapan pengetahuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model Experiential Learning terhadap keterampilan pemecahan masalah siswa kelas IV SDN Bendotretek I pada materi perubahan wujud benda. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pre-experimental dan desain One Group Pretest-Posttest. Subjek penelitian berjumlah 19 siswa kelas IV. Data dikumpulkan melalui tes keterampilan pemecahan masalah dan observasi aktivitas pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan keterampilan pemecahan masalah setelah penerapan model Experiential Learning. Rata-rata kemampuan siswa meningkat dari 46,0 pada pretest menjadi 74,7 pada posttest, dan hasil uji Paired Sample t-test menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kedua hasil pengukuran. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman konkret, refleksi, pembentukan konsep, dan penerapan pengetahuan dalam Experiential Learning dapat membantu siswa memahami permasalahan dan menentukan penyelesaian berdasarkan pengalaman belajar yang diperoleh. Dengan demikian, model Experiential Learning dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran IPA untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah siswa sekolah dasar, khususnya pada materi perubahan wujud benda.