Al-Qur'an menggunakan uslub tasybih sebagai salah satu strategi retorika yang paling menonjol dalam ayat-ayat Makkiyah, namun kajian yang secara khusus mengintegrasikan fungsi estetika dan argumentatif dari gaya bahasa ini masih relatif terbatas, sebab mayoritas penelitian balāgah cenderung memisahkan kedua dimensi tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola stilistika serta fungsi ganda uslub tasybih dalam ayat-ayat Makkiyah melalui pendekatan stilistika Al-Qur'an yang integratif. Penelitian menggunakan metode kualitatif kepustakaan (library research) dengan teknik analisis isi terhadap sepuluh ayat Makkiyah yang mengandung struktur tasybih, dianalisis berdasarkan rukun balāgah (musyabbah, musyabbah bih, adat al-tasybīh, dan wajh al-syabah) serta ditriangulasi dengan kitab-kitab balāgah klasik dan literatur stilistika kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi tasybih dalam ayat-ayat Makkiyah mengikuti pola tematik yang terprogram, meliputi tema eskatologi, kritik terhadap perilaku orang kafir, dan argumentasi tauhid, yang secara empiris mengonfirmasi tiga kategori fungsi tasybih: burhānī (pembuktian), tashwīrī (penggambaran), dan naqdī (kritik). Temuan utama menegaskan bahwa fungsi estetika dan argumentatif uslub tasybih bekerja secara simultan dan saling menguatkan: citraan yang dibangun melalui kontras, alur peristiwa, dan pemilihan diksi tidak berhenti pada capaian keindahan bahasa semata, tetapi menentukan kadar kekuatan argumen yang disampaikan. Penelitian ini berkontribusi menawarkan model analisis stilistika-balāgah yang integratif bagi pengembangan kajian retorika Al-Qur'an di Indonesia.