Rangga Saptya Mohamad Permana
Program Studi Televisi dan Film, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PERAN, FUNGSI, DAN KAUSALITAS MANUSKIP MANTRA DI ERA GENERASI Z Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 7 No 1 (2025): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Februari, 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v7i1.299

Abstract

Cukup menarik memang, apabila tinggalan budaya nenek moyang masa lampau digali, diungkap, diteliti, bahkan dikaji terkait kearifan lokal budaya Sunda yang terpendam dalam manuskrip mantra. Mengapa manuskrip, khususnya manuskrip mantra dianggap penting untuk dikaji? Karena sebagai dokumen budaya isinya berguna bagi perkembangan peradaban suatu masyarakat. Hal ini dimengerti, karena eksistensinya masih dapat diimplementasikan di era generasi Z saat ini. Dari dulu mantra dipercayai memiliki kekuatan gaib, sehingga masyarakat pengamal mantra sangat bergantung terhadapnya. Pandangan masyarakat terhadap mantra, memunculkan beraneka ragam persepsi. Peran, fungsi, dan kausalitas manuskrip mantra secara garis besar digunakan sebagai perlindungan, kekuatan, dan pengobatan. Secara sepintas, karena keterbatasan kemampuan manusia, mantra merupakan keuntungan bagi masyarakat pengamalnya sesuai dengan peran, fungsi, dan kausalitasnya. Kedudukan manuskrip mantra dari dulu sampai sekarang, dalam tulisan ini berupaya diungkap, sehingga didapatkan bagaimana seluk beluk, peran, fungsi, dan kausalitasnya di masyarakat, khususnya di era generasi Z. Tulisan ini termasuk ke dalam penelitian kualitatif, dikaji menggunakan metode penelitian deskriptif analisis, melalui metode pendekatan dan kajian hermeneutik, yang tidak terlepas dari kajian filologi, baik secara kodikologis maupun tekstologis, sosiologis sastra, serta kajian budaya. Diharapkan tulisan ini bermanfaat sebagai referensi literasi bagi ilmu lain secara multidisiplin.
STRATEGI PRA-PRODUKSI DALAM PROSES AUDISI PROGRAM INDONESIAN IDOL JUNIOR 2018 DI RCTI: ANALISIS PERAN PRECASTER DALAM PEMBENTUKAN KONTEN TALENT SEARCH Rangga Saptya Mohamad Permana; Alya Nurdina Nareswari
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 7 No 1 (2025): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Februari, 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v7i1.315

Abstract

Artikel ini membahas proses pra-produksi dalam program talent search Indonesian Idol Junior 2018 yang ditayangkan di RCTI, dengan fokus pada peran strategis precaster sebagai bagian dari tim produksi dalam menyeleksi peserta audisi. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini menyajikan bagaimana strategi publikasi off-air, proses seleksi precaster, dan manajemen konten dikembangkan dalam konteks menjaga kualitas program serta pencapaian rating dan share. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara dengan staf produksi, serta dokumentasi dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa precaster berfungsi tidak hanya sebagai penyaring bakat berdasarkan kemampuan vokal, tetapi juga sebagai kurator konten yang mampu membangun daya tarik dramatik dan emosional program televisi. Strategi ini menunjukkan praktik komodifikasi konten dan audiens dalam industri televisi Indonesia. Penelitian ini berkontribusi dalam kajian produksi media, khususnya dalam konteks televisi realitas di era industri hiburan modern. Audisi; pra-produksi; televisi; precaster; talent show; Indonesian Idol Junior
BAHASA DAN SENI SUNDA DI ERA GEN Z Elis Suryani; Rangga Saptya Mohamad Permana
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 7 No 2 (2025): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v7i2.335

Abstract

Every nation and even every ethnic group on Earth—possesses a culture that continually evolves in line with technological advances, the rapid growth of scientific knowledge, and the progression of time. Therefore, as the next generation, we must actively preserve, protect, and sustain our cultural heritage, particularly the customs, traditions, and ancestral legacies passed down from previous generations. These artistic elements should be preserved and further developed in the present day to prevent their extinction, especially in the domains of language and the arts. In the current Generation Z era, the acceleration of civilization and its supporting aspects is difficult to contain. If the younger generation shows indifference toward their own local linguistic and artistic wisdom, particularly that of Sundanese heritage, the current cultural wealth and diversity will gradually erode and may ultimately vanish. This is the motivation behind this study: to encourage Generation Z to become more familiar with, learn about, and actively engage in preserving Sundanese language and arts, so they are not lost to time. This study adopts a qualitative approach, utilizing descriptive-analytical methods through sociolinguistic, hermeneutic, and cultural studies frameworks. Hopefully, this work will provide valuable insights and contribute to other academic disciplines in a multidisciplinary manner
KRITIK SOSIAL DALAM FILM-FILM KABAYAN DI ERA ORDE BARU: KETIMPANGAN DESA-KOTA, PERILAKU MATERIALISTIS DAN DAMPAK GLOBALISASI Rangga Saptya Mohamad Permana; Elis Suryani Nani Sumarlina; Undang Ahmad Darsa
KABUYUTAN Vol 4 No 1 (2025): Kabuyutan, Maret 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i1.316

Abstract

Artikel ini membahas representasi kritik sosial dalam dua film Kabayan produksi awal 1990-an, yaitu Si Kabayan Saba Metropolitan (1992) dan Si Kabayan Mencari Jodoh (1994), yang hadir di tengah situasi sosial-politik Orde Baru Indonesia. Kedua film ini tidak hanya menawarkan hiburan komedi, tetapi juga menyisipkan kritik terhadap ketimpangan pembangunan antara desa dan kota, perubahan nilai-nilai masyarakat desa, serta penetrasi budaya global akibat arus modernisasi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menerapkan metode analisis naratif dan semiotik untuk menelaah simbol, dialog, sinematografi, serta representasi karakter dalam kedua film tersebut. Temuan menunjukkan bahwa karakter Kabayan digunakan sebagai metafora dari masyarakat desa yang lugu namun cerdas, yang harus berhadapan dengan kompleksitas modernitas kota. Isu-isu seperti gagap teknologi, stereotip sosial, materialisme, dan disorientasi nilai ditampilkan melalui konflik naratif dan simbol visual, seperti eskalator, jembatan penyeberangan, dan jam tangan. Narasi jenaka yang digunakan menjadi strategi efektif untuk menyampaikan kritik secara halus (polite criticism), mengingat ketatnya sensor budaya pada masa Orde Baru. Penelitian ini menyimpulkan bahwa film Kabayan tidak hanya menjadi cermin dari realitas sosial saat itu, tetapi juga menjadi arsip budaya yang mencatat transformasi ideologis masyarakat Indonesia dalam menghadapi ketimpangan dan globalisasi. Dengan demikian, film populer dapat berfungsi sebagai media perlawanan kultural yang penting dalam studi pembangunan dan komunikasi.