Pendidikan moral keagamaan pada anak usia dini seringkali disampaikan melalui metode ceramah yang berpusat pada guru, sehingga kurang melibatkan anak secara aktif dan kurang efektif dalam menanamkan nilai-nilai abstrak seperti kejujuran, empati, tanggung jawab, dan saling menghormati. Data awal di TK Mentari menunjukkan rata-rata capaian nilai moral keagamaan anak hanya sekitar 30% dari seluruh indikator. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh integrasi metode bermain peran dan mendongeng terhadap peningkatan pemahaman nilai moral keagamaan anak usia dini. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart yang dilakukan dalam dua siklus, masing-masing terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah 20 anak usia 5-6 tahun di kelompok B TK Mentari. Pengumpulan data melalui observasi partisipan, wawancara mendalam dengan guru dan orang tua, serta dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña dengan penjaminan keabsahan data melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada semua indikator: kejujuran dari 31% menjadi 83%, empati dari 27% menjadi 76%, tanggung jawab dari 22% menjadi 71%, dan saling menghormati dari 34% menjadi 88%. Peningkatan tertinggi terjadi pada indikator saling menghormati. Faktor pendukung keberhasilan meliputi penggunaan cerita lokal, penguatan diskusi reflektif, serta keterlibatan orang tua dalam penguatan nilai di rumah. Dapat disimpulkan bahwa integrasi metode bermain peran dan mendongeng efektif menanamkan nilai moral keagamaan secara kontekstual dan menyenangkan, serta layak diadopsi sebagai alternatif strategi pembelajaran di PAUD.