ABSTRACT Erythrocyte sedimentation rate (ESR) is a hematological parameter widely used to assess inflammatory processes, including chronic inflammation in patients with type 2 diabetes mellitus. Although 3.8% sodium citrate is recommended as the standard anticoagulant for the Westergren ESR method, EDTA is more commonly used in clinical laboratories because of its practicality, which may influence ESR measurements. Therefore, this study aimed to compare ESR values obtained using EDTA and 3.8% sodium citrate anticoagulants in patients with type 2 diabetes mellitus. This comparative observational study with a cross-sectional design involved 34 patients with type 2 diabetes mellitus selected through purposive sampling. ESR measurements were performed using the Westergren method on paired blood samples collected in EDTA and 3.8% sodium citrate anticoagulants. The results showed that the mean ESR value was 34.32 ± 20.85 mm/hour (median: 32 mm/hour) for EDTA samples and 32.59 ± 21.57 mm/hour (median: 31 mm/hour) for 3.8% sodium citrate samples. Statistical analysis using the paired sample t-test revealed a significant difference between the two anticoagulants (p = 0.016). These findings indicate that the type of anticoagulant significantly affects ESR measurements in patients with type 2 diabetes mellitus. Therefore, 3.8% sodium citrate remains the preferred anticoagulant for the Westergren ESR method because it better preserves the physiological characteristics of blood samples and supports more accurate clinical interpretation of ESR results. ABSTRAK Pemeriksaan laju endap darah (LED) merupakan salah satu parameter hematologi yang sering digunakan untuk menilai proses inflamasi, termasuk pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang umumnya mengalami inflamasi kronis. Meskipun natrium sitrat 3,8% direkomendasikan sebagai antikoagulan standar pada pemeriksaan LED metode Westergren, penggunaan EDTA masih banyak dijumpai di laboratorium karena lebih praktis sehingga berpotensi menghasilkan perbedaan nilai pemeriksaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan hasil pemeriksaan LED menggunakan antikoagulan EDTA dan natrium sitrat 3,8% pada pasien diabetes melitus tipe 2. Penelitian menggunakan desain observasional komparatif dengan rancangan cross-sectional yang melibatkan 34 pasien diabetes melitus tipe 2 yang dipilih secara purposive. Pemeriksaan LED dilakukan menggunakan metode Westergren pada sampel darah yang mengandung antikoagulan EDTA dan natrium sitrat 3,8%. Hasil penelitian menunjukkan rerata nilai LED sebesar 34,32 mm/jam dengan median 32 mm/jam pada sampel EDTA, sedangkan pada natrium sitrat 3,8% diperoleh rerata sebesar 32,59 mm/jam dengan median 31 mm/jam. Hasil uji Paired Sample t-Test menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,016 (p < 0,05), yang menandakan adanya perbedaan signifikan antara hasil pemeriksaan LED menggunakan kedua antikoagulan. Temuan ini menunjukkan bahwa jenis antikoagulan memengaruhi hasil pemeriksaan LED, sehingga natrium sitrat 3,8% tetap lebih direkomendasikan untuk pemeriksaan LED metode Westergren karena mampu mempertahankan kondisi sampel yang lebih mendekati keadaan fisiologis dan mendukung ketepatan interpretasi hasil laboratorium pada pasien diabetes melitus tipe 2.