Edy Haryanto
Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Surabaya

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERBANDINGAN NILAI LED MENGGUNAKAN ANTIKOAGULAN EDTA DENGAN NATRIUM SITRAT 3,8% PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 Nurul Aini Maghfiroh; Edy Haryanto; Wisnu Istanto; Gesang Jukadiarko
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.13514

Abstract

ABSTRACT Erythrocyte sedimentation rate (ESR) is a hematological parameter widely used to assess inflammatory processes, including chronic inflammation in patients with type 2 diabetes mellitus. Although 3.8% sodium citrate is recommended as the standard anticoagulant for the Westergren ESR method, EDTA is more commonly used in clinical laboratories because of its practicality, which may influence ESR measurements. Therefore, this study aimed to compare ESR values obtained using EDTA and 3.8% sodium citrate anticoagulants in patients with type 2 diabetes mellitus. This comparative observational study with a cross-sectional design involved 34 patients with type 2 diabetes mellitus selected through purposive sampling. ESR measurements were performed using the Westergren method on paired blood samples collected in EDTA and 3.8% sodium citrate anticoagulants. The results showed that the mean ESR value was 34.32 ± 20.85 mm/hour (median: 32 mm/hour) for EDTA samples and 32.59 ± 21.57 mm/hour (median: 31 mm/hour) for 3.8% sodium citrate samples. Statistical analysis using the paired sample t-test revealed a significant difference between the two anticoagulants (p = 0.016). These findings indicate that the type of anticoagulant significantly affects ESR measurements in patients with type 2 diabetes mellitus. Therefore, 3.8% sodium citrate remains the preferred anticoagulant for the Westergren ESR method because it better preserves the physiological characteristics of blood samples and supports more accurate clinical interpretation of ESR results. ABSTRAK Pemeriksaan laju endap darah (LED) merupakan salah satu parameter hematologi yang sering digunakan untuk menilai proses inflamasi, termasuk pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang umumnya mengalami inflamasi kronis. Meskipun natrium sitrat 3,8% direkomendasikan sebagai antikoagulan standar pada pemeriksaan LED metode Westergren, penggunaan EDTA masih banyak dijumpai di laboratorium karena lebih praktis sehingga berpotensi menghasilkan perbedaan nilai pemeriksaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan hasil pemeriksaan LED menggunakan antikoagulan EDTA dan natrium sitrat 3,8% pada pasien diabetes melitus tipe 2. Penelitian menggunakan desain observasional komparatif dengan rancangan cross-sectional yang melibatkan 34 pasien diabetes melitus tipe 2 yang dipilih secara purposive. Pemeriksaan LED dilakukan menggunakan metode Westergren pada sampel darah yang mengandung antikoagulan EDTA dan natrium sitrat 3,8%. Hasil penelitian menunjukkan rerata nilai LED sebesar 34,32 mm/jam dengan median 32 mm/jam pada sampel EDTA, sedangkan pada natrium sitrat 3,8% diperoleh rerata sebesar 32,59 mm/jam dengan median 31 mm/jam. Hasil uji Paired Sample t-Test menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,016 (p < 0,05), yang menandakan adanya perbedaan signifikan antara hasil pemeriksaan LED menggunakan kedua antikoagulan. Temuan ini menunjukkan bahwa jenis antikoagulan memengaruhi hasil pemeriksaan LED, sehingga natrium sitrat 3,8% tetap lebih direkomendasikan untuk pemeriksaan LED metode Westergren karena mampu mempertahankan kondisi sampel yang lebih mendekati keadaan fisiologis dan mendukung ketepatan interpretasi hasil laboratorium pada pasien diabetes melitus tipe 2.
AKURASI KADAR LDL METODE INDIRECT TERHADAP METODE DIRECT Marina Putri Rahajeng; Anik Handayati; Musholli Himmatun Nabilah; Edy Haryanto
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14483

Abstract

Lipid profile examination is used to help assess the risk of cardiovascular disease. LDL level examination can be performed using the indirect method (Friedewald Formula) and the direct method (homogeneous test). The indirect method is more economical and is still frequently used in laboratories, but its accuracy is starting to be questioned at high triglyceride levels. This study aims to determine the accuracy of LDL levels using the indirect method (Friedewald Formula) compared to the direct method (homogeneous test) at triglyceride levels of 200-300 mg/dL. This study used a comparative analytical quantitative design with a paired cross-sectional approach. The study sample used primary data, namely the serum of patients with triglyceride levels of 200-300 mg/dL examined using the indirect and direct methods on the same sample. Data analysis was performed using the Wilcoxon test, mean %Bias, Bland-Altman, and linear regression. The results showed that there was no significant difference between the indirect and direct methods with a significance value (p > 0.05). The average %Bias value of -0.3962% still meets the acceptance limits of the National Cholesterol Education Program (NCEP). Bland-Altman analysis showed that most of the data were within the limits of agreement. Based on the results of the study, the indirect method (Friedewald Formula) has good accuracy and relatively comparable results with the direct method (homogeneous testing) at triglyceride levels of 200-300 mg/dL. ABSTRAK Pemeriksaan profil lipid digunakan untuk membantu menilai risiko penyakit kardiovaskular. Pemeriksaan kadar LDL dapat dilakukan menggunakan metode indirect (Friedewald Formula) dan metode direct (homogeneous assay). Metode indirect lebih ekonomis dan masih sering digunakan di laboratorium, tetapi akurasinya mulai diragukan pada kadar trigliserida tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui akurasi kadar LDL metode indirect (Friedewald Formula) terhadap metode direct (homogeneous assay) pada kadar trigliserida 200–300 mg/dL. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik komparatif dengan pendekatan cross-sectional berpasangan. Sampel penelitian menggunakan data primer, yaitu serum pasien dengan kadar trigliserida 200–300 mg/dL yang diperiksa menggunakan metode indirect dan metode direct pada sampel yang sama. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon, mean %Bias, dan Bland-Altman. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna antara metode indirect dan metode direct dengan nilai signifikansi (p > 0,05). Nilai mean %Bias sebesar -0,3962% masih memenuhi batas keberterimaan National Cholesterol Education Program (NCEP). Analisis Bland-Altman menunjukkan sebagian besar data berada dalam batas kesepakatan. Berdasarkan hasil penelitian, metode indirect (Friedewald Formula) memiliki akurasi yang baik dan hasil yang relatif sebanding dengan metode direct (homogeneous assay) pada kadar trigliserida 200-300 mg/dL.
PERBEDAAN KADAR ELEKTROLIT MENGGUNAKAN BAHAN UJI SERUM DENGAN BAHAN UJI PLASMA HEPARIN Linatur Rosyidah; Edy Haryanto; Anik Handayati; Gesang Jukadiarko
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14622

Abstract

Electrolyte examination is performed to assess the levels of the major electrolytes in the blood. This examination is used to help establish the diagnosis of fluid balance disorders and acid-base imbalances in the body. The test materials commonly used for electrolyte examination are serum and heparinized plasma. Differences in the type of test material may affect the results of electrolyte examinations. This study aimed to determine the differences in electrolyte levels, including sodium, potassium, chloride, and ionized calcium, between serum and heparinized plasma test materials. This study employed a quantitative approach with an analytical observational design and a cross-sectional design. A total of 15 samples were obtained from patients undergoing electrolyte examinations at Muhammadiyah Babat General Hospital in February 2026. Electrolyte examinations were performed using the Erba Electrolyte Analyzer with the direct Ion-Selective Electrode (ISE) method. The results showed that the mean sodium levels were 139.29 mmol/L in serum and 136.49 mmol/L in heparinized plasma, the mean potassium levels were 3.79 mmol/L in serum and 3.58 mmol/L in heparinized plasma, the mean chloride levels were 106.77 mmol/L in serum and 105.63 mmol/L in heparinized plasma, and the mean ionized calcium levels were 1.00 mmol/L in serum and 0.89 mmol/L in heparinized plasma. The examination results were analyzed using the paired t-test and the Wilcoxon signed-rank test according to the data distribution. The results showed significant differences in sodium, potassium, and ionized calcium levels between serum and heparinized plasma test materials, with significance values of p < 0.05. Meanwhile, chloride levels showed no significant difference between serum and heparinized plasma test materials, with a significance value of p > 0.05. Based on the data analysis that had been conducted, significant differences were found in sodium, potassium, and ionized calcium levels between serum and heparinized plasma test materials, whereas chloride levels showed no significant difference. ABSTRAK Pemeriksaan elektrolit merupakan pemeriksaan untuk menilai kadar elektrolit utama di dalam darah. Pemeriksaan ini digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis adanya gangguan keseimbangan cairan maupun ketidakseimbangan asam-basa dalam tubuh. Bahan uji yang umum digunakan pada pemeriksaan elektrolit adalah serum dan plasma heparin. Perbedaan jenis bahan uji dapat memengaruhi hasil pemeriksaan elektrolit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya perbedaan kadar elektrrolit, meliputi kadar natrium, kalium, klorida, dan kalsium terionisasi antara bahan uji serum dengan bahan uji plasma heparin. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif observasional analitik dengan desain cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 15 sampel dari pasien yang menjalani pemeriksaan elektrolit di RSU Muhammadiyah Babat pada bulan Februari 2026. Pemeriksaan elektrolit dilakukan menggunakan alat Erba Electrolyte Analyzer dengan metode Ion Selective Electrode (ISE) secara langsung. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa rerata kadar natrium pada serum sebesar 139,29 mmol/L dan plasma heparin sebesar 136,49 mmol/L, kadar kalium pada serum sebesar 3,79 mmol/L dan plasma heparin sebesar 3,58 mmol/L, kadar klorida pada serum sebesar 106,77 mmol/L dan plasma heparin sebesar 105,63 mmol/L, serta kadar kalsium terionisasi pada serum sebesar 1,00 mmol/L dan plasma heparin sebesar 0,89 mmol/L. Data hasil dari pemeriksaan elektrolit akan dianalisa menggunakan uji T-dependen dan uji Wilcoxon sesuai dengan distribusi data. Hasil uji pada kadar natrium, kalium, dan kalsium terionisasi antara bahan uji serum dengan bahan uji plasma heparin menunjukkan adanya perbedaan bermakna, dengan nilai signifikansi (p < 0,05). Sedangkan, pada kadar klorida tidak terdapat perbedaan bermakna antara bahan uji serum dan bahan uji plasma heparin dengan nilai signifikansi (p > 0,05). Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, ditemukan perbedaan yang bermakna pada kadar natrium, kalium, dan kalsium terionisasi antara bahan uji serum dengan plasma heparin, sedangkan kadar klorida tidak menunjukkan perbedaan bermakna.