Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penerimaan dan Dukungan Keluarga Penyandang Disabilitas Rungu Wicara: Studi Pada Unit Informasi dan Layanan (uils) Koja Shabrina Riana; Musahwi; Nurlaili Khikmawati
Jurnal Pelayanan Pastoral Jurnal Pelayanan Pastoral (JPP) Vol. 6 No. 2 Oktober 2025
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (UPPM), STP-IPI Malang.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53544/jpp.v6i2.747

Abstract

This study discusses how families deal with the reality that their children have speech disabilities or cannot speak normally. The main issue examined in this study is how families accept and support children with speech disabilities, as well as how social institutions such as the Koja Social Information and Service Unit (UILS) help families form new meanings for disability. This study aims to examine the process of acceptance and forms of family support for children with speech and hearing disabilities at the Social Information and Service Unit (UILS) in Koja. This study uses a qualitative approach with a case study method. The results of the study were obtained through observation and semi-structured interviews. The theory used in this study is George Herbert Mead's Mind, Self, and Society theory. The results of the study show that the family acceptance process takes place in stages, from rejection to full acceptance, influenced by economic, cultural, spiritual, and social stigma factors. From the perspective of George Herbert Mead's Mind, Self, and Society theory, the identity of the child and family is shaped through social interaction, symbols, and support received from the environment. The conclusion of this study is the importance of striving to create a supportive and positive environment for the acceptance of people with disabilities, specifically an environment like the social institution Unit Informasi dan Layanan Sosial (UILS) Koja as an agent of transformation in shaping collective meaning and family acceptance of hearing and speech disabilities.
FENOMENA CERAI GUGAT DALAM PERSPEKTIF GENDER DAN PERGESERAN AGENSI PEREMPUAN: STUDI TERHADAP BERKAS PERKARA PERCERAIAN DI KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2026 Sya’Airillah Az-Zahra Syaefudin Utami; Musahwi
SULTAN ADAM: Jurnal Hukum dan Sosial Vol 4 No 2 (2026): Juli-Desember 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/sultan.v4i2.2226

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam faktor pendorong mengapa kasus cerai gugat tampil jauh lebih dominan dibandingkan cerai talak melalui penelaahan berkas perkara di Pengadilan Agama Soreang pada tahun 2026. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian kualitatif deskriptif ini menerapkan teknik analisis dokumenter terhadap 24 berkas perkara perceraian (18 cerai gugat dan 6 cerai talak) yang diperoleh langsung oleh peneliti melalui program magang akademik. Penelitian kualitatif ini fokus mengeksplorasi alasan perceraian tertulis dalam dokumen hukum secara naratif, tanpa melibatkan pengujian statistik ataupun generalisasi data. Pengumpulan data telah dibatasi secara ketat pada pemanfaatan dokumen perkara untuk menghormati regulasi instansi serta menjaga kerahasiaan para pihak melalui prinsip anonimitas total. Penelitian ini menggunakan teknik analisis isi, di mana keabsahan datanya didukung oleh komparasi jurnal-jurnal terdahulu yang relevan. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa dominasi masif cerai gugat di Pengadilan Agama Soreang berakar pada lima kategori alasan yang saling berkelindan, yaitu kelalaian pemenuhan nafkah dan tuntutan kemandirian ekonomi istri, gangguan komunikasi dan sikap acuh (silent treatment), kekerasan verbal atau perilaku temperamental, perilaku menyimpang berupa judi online dan konsumsi zat adiktif, serta isu ketidaksetiaan yang tervalidasi secara digital. Kelima faktor tersebut menunjukkan peningkatan agensi sosial serta pergeseran paradigma perempuan kontemporer, yang kini mengutamakan kesejahteraan psikologis dan kemandirian personal ketimbang stigma sosial.