p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Al-Ibanah IJED
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Religiosity and PAI Learning Motivation in Adult Islamic Education: A Quantitative Correlational Study at Tamhiedul Muballighat, PD Persistri Bandung Regency Muthi Annisa Septyanti; Ela Komala
Islamic Journal of Education Vol. 4 No. 2 (2025): Ijed: Islamc Journal of Education
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/k65d7b85

Abstract

Islamic Religious Education (PAI) scholarship has almost exclusively examined the relationship between religiosity and learning motivation in formal school settings with adolescent learners. This study addresses a critical gap by investigating the same relationship in a non-formal adult Islamic education setting the Tamhiedul Muballighat programme of Pimpinan Daerah (PD) Persistri Kabupaten Bandung, West Java, Indonesia in which all participants are women aged 40 years and above. A quantitative correlational design was employed with total population sampling (n = 39), encompassing all Marhalah II participants enrolled in the 2023–2024 academic cohort. Variable X (religiosity) was operationalised across five Glock and Stark dimensions: religious belief (4.40), worship practice (4.15), religious experience (4.11), religious knowledge (3.84), and religious consequence (4.42), yielding an overall mean of 4.18 (High qualification). Variable Y (PAI learning motivation) was operationalised across five Hamzah B. Uno dimensions: desire and will to succeed (3.42), drive and learning need (3.72), future aspiration (3.73), engaging learning activities (3.57), and conducive learning environment (3.22), yielding an overall mean of 3.53 (High qualification, at the lower boundary of the High interval). Pearson Product Moment correlation analysis yielded r = 0.632 (High positive correlation), a coefficient of determination of 39.9% (KP = r² × 100), and t-hitung = 4.958 substantially exceeding t-tabel = 1.687 at α = 5%, dk = 37. The regression equation Y = 7.45 + 0.75X confirms a positive directional relationship. The 60.1% of unexplained variance reflects the distinctive challenges of adult learning: declining cognitive capacity, limited educational backgrounds, physiological constraints, and restricted study time. The findings provide the first quantitative evidence on the religiosity–learning motivation relationship for adult Muslim women in a non-formal education context, with implications for andragogical curriculum design, adult Islamic education policy, and motivational support strategies for late-life learners
Implementasi Kurikulum Pesantren Muadalah dalam Bingkai Kurikulum Merdeka: Analisis Kebijakan dan Adaptasi Pedagogis Achmad Muharam Basyari; Ela Komala; Anie Rohaeni
AL-IBANAH Vol. 11 No. 2 (2026): Journal Al-Ibanah (Artikel on progres)
Publisher : Institut Agama Islam Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54801/hbkxyp77

Abstract

Integrasi nilai positif Kurikulum Merdeka ke dalam ekosistem pesantren muadalah merupakan kondisi ideal pendidikan holistik, namun realitas di lapangan menunjukkan kesenjangan berupa dilema pedagogis dan beban kognitif guru dalam mengadaptasi pembaruan tersebut ke dalam struktur tradisional yang kaku. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana guru memaknai dan mengadaptasi kebijakan kurikulum dalam praktik sehari-hari, serta merumuskan model implementasi kontekstual. Menggunakan pendekatan kualitatif interpretif dengan desain multiple case study, data dikumpulkan dari Pondok Pesantren Al Basyariyah dan Darussalam melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, Focus Group Discussion (FGD), dan studi dokumentasi, dengan instrumen berbasis kerangka Policy Enactment dan Pedagogical Content Knowledge (PCK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun tidak mengadopsi label administratif Kurikulum Merdeka, kedua pesantren secara organik menyerap esensinya—seperti pembelajaran berdiferensiasi dan berbasis projek—ke dalam kurikulum terpadu 24 jam melalui praktik otentik seperti Fathul Kutub dan Amaliyah Tadris. Guru bertransformasi menjadi navigator kultural yang memanfaatkan kekuatan ekologi relasional untuk menavigasi keterbatasan regulasi makro. Temuan ini berkontribusi pada khazanah keilmuan dengan membuktikan konsep Third Space (hibriditas), di mana modernitas pedagogis dan tradisi salaf-khalaf berpadu harmonis tanpa kehilangan jati diri. Implikasi penelitian menegaskan perlunya pemberian otonomi epistemologis bagi pesantren untuk mengakui asesmen kinerja tradisional sebagai ekuivalen kompetensi nasional yang sah. Selain itu, negara perlu menyediakan dukungan sistemik guna mencegah kelelahan profesional guru, alih-alih memaksakan standarisasi administratif yang kaku yang berpotensi menggerus identitas spiritual lembaga.