Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Optimalisasi Kurikulum Kemampuan Bertempur Taruna Akademi Militer Dalam Rangka Mendukung Pengamanan Daerah Rawan Papua Wahyu Hendra Saputra; Martinus DAW; Slamet Sarjianto
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol. 5 No. 2 (2026): September 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v5i2.8889

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kompleksitas ancaman keamanan di wilayah Papua yang menuntut kesiapan personel TNI AD, khususnya perwira muda lulusan Akademi Militer (Akmil), dalam menghadapi kondisi geografis, sosial, dan taktis yang sangat dinamis. Dalam konteks ini, optimalisasi kemampuan bertempur taruna Akmil menjadi kebutuhan strategis guna memastikan efektivitas pengamanan di daerah rawan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis sistem pendidikan dan pelatihan di Akmil, menilai tingkat kemampuan tempur taruna, serta merumuskan strategi optimalisasi yang relevan dengan tuntutan operasi di Papua. Rumusan masalah difokuskan pada tiga aspek utama: (a) bagaimana sistem pendidikan dan pelatihan taruna Akmil diterapkan, (b) bagaimana kemampuan tempur taruna saat ini, dan (c) bagaimana langkah optimalisasi dilakukan untuk mendukung kesiapan pengamanan di daerah rawan Papua. Penelitian ini menggunakan metode mixed-method dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, kuesioner, dokumentasi, dan observasi lapangan. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif menggunakan pendekatan IFAS, EFAS, serta analisis SWOT dan POAC untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan strategi pengembangan sistem pelatihan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pendidikan Akmil memiliki struktur kurikulum komprehensif berbasis knowledge–skill–attitude, namun relevansi materi terhadap karakteristik operasi Papua masih perlu diperkuat. Kemampuan tempur taruna tergolong baik dalam aspek teknis dan fisik, tetapi masih memerlukan peningkatan pada aspek mental, adaptasi taktis, dan situational awareness. Optimalisasi disarankan melalui pembentukan Papua Readiness Module, penerapan teknologi simulasi modern, serta sinergi umpan balik antara Akmil dan satuan operasional di Papua. Penelitian ini menyimpulkan bahwa transformasi pendidikan militer menuju sistem adaptif, kontekstual, dan berbasis teknologi merupakan kunci dalam menyiapkan perwira muda yang tangguh dan siap menghadapi dinamika pertahanan nasional.
Strategi Kesejahteraan dan Dukungan Psikologis dalam Penguatan Moril Prajurit Satgas Garuda pada Misi UNIFIL di Lebanon Wahyuansyah Negya Hadi; Martinus Dwi Arjanto Widodo; Slamet Sarjianto
JURNAL SYNTAX IMPERATIF : Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. 7 No. 3 (2026): Jurnal Syntax Imperatif: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan
Publisher : CV RIFAINSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/syntaximperatif.v7i3.1155

Abstract

Keberhasilan Satgas Garuda dalam misi perdamaian UNIFIL di Lebanon tidak hanya ditentukan oleh kemampuan taktis dan kepatuhan terhadap mandat PBB, tetapi juga oleh kesejahteraan, dukungan psikologis, kepemimpinan, dan kohesi satuan yang menopang moril prajurit. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi kesejahteraan dan dukungan psikologis dalam penguatan moril prajurit Satgas Garuda selama penugasan di Lebanon. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain sekuensial eksplanatori yang diperdalam melalui studi kasus kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi terbatas, angket, dan studi dokumentasi terhadap prajurit pelaksana, unsur komando, pembina mental, serta pejabat kebijakan terkait. Analisis dilakukan dengan model Miles, Huberman, dan Saldaña, serta diperkuat melalui SWOT, IFAS, EFAS, dan SFAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesejahteraan berupa tunjangan, akomodasi, logistik, layanan kesehatan, rekreasi, dan akses komunikasi keluarga menjadi fondasi rasa aman prajurit. Dukungan psikologis melalui pembinaan mental, konseling, kepemimpinan suportif, dan kekompakan tim menjaga stabilitas emosional. Namun, masih terdapat tantangan berupa ketidakmerataan fasilitas antarpos, konseling yang belum terstruktur, dan tekanan akibat jarak keluarga serta dinamika keamanan. Kesimpulannya, moril prajurit dapat diperkuat melalui integrasi kesejahteraan, dukungan psikologis, kepemimpinan empatik, dan kohesi satuan secara berkelanjutan.