Daniel Sinaga
Universitas Maritim Raja Ali Haji

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EFFECTS OF MAGGOT MEAL AND GONGGONG SHELL MEAL ON MOLTING AND GROWTH PERFORMANCE OF MUD CRAB (Scylla serrata) Daniel Sinaga; Jannesa Nasmi; Benny Manullang
Vol 15 No 6 (2025): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v15i6.1989

Abstract

Feed efficiency and mineral adequacy to support molting and growth are major challenges in the cultivation of mud crab (Scylla serrata). This study aimed to evaluate the effect of supplementing maggot meal (Hermetia illucens) and gonggong shell meal in feed formulations on molting frequency, growth performance, and survival rate of mud crabs. The experiment was conducted using a Completely Randomized Design (CRD) consisting of three treatments: A (control—trash fish), B (feed + 5% maggot meal + 1% gonggong shell meal), and C (feed + 10% maggot meal + 3% gonggong shell meal), each with five replications. The crabs were reared for 30 days and fed daily at 5% of the total biomass. Parameters observed included absolute weight gain, specific growth rate (SGR), molting frequency, survival rate, proximate composition of the feed, and water quality. The results showed that treatment C produced the highest growth performance (absolute weight gain of 39.00 g; SGR 1.30%/day) compared to treatment B (18.00 g; 0.60%/day) and A (6.60 g; 0.22%/day). Proximate analysis indicated an increase in protein (36.42%) and ash content (12.35%) in the formulation containing gonggong shell meal. The survival rate remained high across treatments (A = 100%, B = 87%, C = 93%), while no individuals underwent molting during the study period. In conclusion, the supplementation of 10% maggot meal and 3% gonggong shell meal effectively improved the growth performance of S. serrata but was not sufficient to stimulate molting.
Nanoteknologi dalam Nutrisi Ikan: Tinjauan Sistematis Penggunaan Selenium Nanopartikel sebagai Suplemen Mikronutrien pada Pakan Nancy Willian; Sri Novalina Amrizal; Dwi Septiani Putri; Daniel Sinaga
Marinade Vol 9 No 01 (2026): April, 2026
Publisher : Fisheries Product Technology Department, Faculty of Marine Science and Fisheries, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/marinade.v9i01.8247

Abstract

Selenium (Se) merupakan mikronutrien esensial dalam nutrisi ikan yang berperan dalam pertahanan antioksidan, regulasi sistem imun, fungsi metabolisme, dan peningkatan performa pertumbuhan. Namun, sumber selenium konvensional, baik dalam bentuk anorganik maupun organik, memiliki keterbatasan terkait bioavailabilitas, rentang dosis aman yang sempit, serta potensi toksisitas pada dosis berlebih. Perkembangan nanoteknologi telah memperkenalkan nanopartikel selenium atau selenium nanoparticles (SeNPs) sebagai alternatif suplemen pakan yang menjanjikan karena ukuran partikelnya yang kecil, luas permukaan yang tinggi, dan aktivitas biologis yang lebih baik. Kajian sistematis ini bertujuan mengevaluasi peran SeNPs dalam pakan ikan serta pengaruhnya terhadap performa pertumbuhan, status antioksidan, bioavailabilitas, kualitas daging, dan risiko toksisitas pada spesies akuakultur. Kajian dilakukan dengan pendekatan PRISMA melalui analisis artikel ilmiah bereputasi yang diterbitkan pada periode 2015–2025. Studi yang dianalisis terutama mencakup penelitian in vivo pada berbagai spesies ikan budidaya. Hasil sintesis menunjukkan bahwa suplementasi SeNPs pada dosis rendah hingga sedang meningkatkan laju pertumbuhan spesifik, efisiensi konversi pakan, aktivitas enzim antioksidan seperti GPx, SOD, dan CAT, serta ketahanan terhadap stres oksidatif dan infeksi patogen. Selain itu, SeNPs meningkatkan retensi selenium pada jaringan otot, profil protein, stabilitas oksidatif lipid, dan preservasi asam lemak tak jenuh ganda. Dibandingkan dengan sumber selenium konvensional, SeNPs umumnya menunjukkan bioavailabilitas yang lebih tinggi. Namun, gejala toksisitas dilaporkan pada dosis berlebih, sehingga standardisasi ukuran partikel, formulasi dosis, dan evaluasi keamanan jangka panjang diperlukan sebelum aplikasi komersial skala luas.