Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gangguan Fungsi Kognitif pada Pasien HIV / AIDS di Layanan Rawat Jalan RSCM dan Faktor yang Memengaruhinya Gabriela Ellenzy; Kristiana Siste Kurniasanti; Profitasari Kusumaningrum; Gina Anindyajati
Bahasa Indonesia Vol 24 No 3 (2025): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v24i3.6647

Abstract

Pendahuluan: Kemajuan teknologi medis dan akses yang lebih luas terhadap terapi antiretroviral (ART) telah meningkatkan angka harapan hidup orang dengan HIV. Namun, gangguan neurokognitif masih sering ditemukan dan dapat berdampak negatif terhadap kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan penurunan fungsi kognitif pada pasien HIV/AIDS di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Metode: Penelitian potong lintang dilakukan pada Mei 2022 hingga Januari 2024 di RSCM. Subjek penelitian adalah pasien HIV berusia 18–59 tahun, berbahasa Indonesia, dan sedang menjalani ART. Pasien dengan gangguan fisik atau mental berat dikecualikan. Sebanyak 121 subjek direkrut menggunakan metode pengambilan sampel acak sederhana. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik demografis, komorbiditas fisik, kondisi kesehatan mental, penggunaan zat, waktu inisiasi ART, durasi infeksi HIV, durasi penggunaan ART, kepatuhan pengobatan, dan dukungan sosial. Fungsi kognitif dinilai menggunakan Montreal Cognitive Assessment versi Indonesia (MoCA-INA). Analisis regresi linear dilakukan untuk mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan gangguan kognitif. Hasil: Rerata usia subjek adalah 40,25 ± 8,42 tahun dan mayoritas berjenis kelamin laki-laki. Prevalensi gangguan kognitif sebesar 55,4%. Pada analisis multivariat, keterlambatan inisiasi ART dan riwayat meningitis berhubungan secara signifikan dengan penurunan skor MoCA-INA. Setiap keterlambatan satu tahun inisiasi ART berhubungan dengan penurunan skor MoCA-INA sebesar 0,3 poin (p<0,05), sedangkan riwayat meningitis berhubungan dengan penurunan skor sebesar 2,63 poin (p<0,05). Simpulan: Keterlambatan inisiasi ART dan riwayat meningitis berhubungan dengan penurunan fungsi kognitif pada pasien HIV. Inisiasi ART sedini mungkin dan penapisan kognitif secara berkala perlu ditekankan untuk meningkatkan luaran jangka panjang.
SKRINING DAN EDUKASI KESEHATAN MENTAL LANSIA MELALUI PHQ-9 DAN GAD-7 DI HARI KESEHATAN MENTAL SEDUNIA 2025 Veli Sungono; Rohana Siregar; Darien Cipta; Gabriela Ellenzy
Jurnal Sinergitas PKM & CSR Vol. 10 No. 3 (2026): June
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jspc.v10i3.10924

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, deteksi dini, dan literasi kesehatan mental pada lansia melalui skrining depresi dan kecemasan menggunakan Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9) dan Generalized Anxiety Disorder-7 (GAD-7), serta edukasi kesehatan jiwa. Kegiatan dilaksanakan di Tangerang, pada 10 Oktober 2025, bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia, melibatkan sekitar 30 peserta, dengan 14 orang lansia yang bersedia mengikuti skrining. Metode pelaksanaan mencakup pengisian kuesioner PHQ-9 dan GAD-7, penyampaian edukasi mengenai kesehatan mental lansia, dan sesi diskusi serta tanya jawab interaktif. Hasil skrining menunjukkan bahwa 64,3% responden memiliki gejala depresi ringan-minimal, sedangkan 64,3% menunjukkan tingkat kecemasan ringan-minimal. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi dalam sesi diskusi, dan sebagian menyampaikan pengalaman pribadi terkait stres, kesepian, dan gangguan tidur. Kegiatan ini menegaskan pentingnya deteksi dini gangguan mental di komunitas lansia. Edukasi yang tepat mampu meningkatkan pemahaman dan kesiapan individu serta keluarga dalam menjaga keseimbangan mental-emosional pada usia lanjut.