Kurniasanti, Kristiana Siste
Department Of Psychiatry, Faculty Of Medicine, Universitas Indonesia, Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Efektivitas Prototipe Gim Berbasis Komputer Indonesia terhadap Peningkatan Fungsi Eksekutif Anak Sekolah Dasar Jubilate Edward Iruanto Tambun; Kristiana Siste Kurniasanti; Tribowo Tuahta Ginting; Tjhin Wiguna
Sari Pediatri Vol 24, No 5 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp24.5.2023.333-40

Abstract

Latar belakang. Fungsi eksekutif adalah kemampuan kognitif untuk melakukan tugas-tugas eksekutif kompleks dalam mencapai tujuan. Gangguan fungsi eksekutif anak sekolah dasar (SD) dapat menyebabkan masalah serius seperti hambatan dalam perilaku sehari-hari, penurunan performa akademik, dan kesulitan mengenali tanda-tanda sosial. Intervensi terhadap fungsi eksekutif merupakan hal yang penting dan belakangan banyak dilakukan melalui gim berbasis komputer.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas intervensi prototipe gim berbasis komputer Indonesia terhadap peningkatan fungsi eksekutif anak SD.Metode. Dilakukan penelitian kuasi-eksperimental desain time series. Subjek dinilai dengan BRIEF-BI format guru, 4 kali terbagi atas pre-, post-5 sesi, post-10 sesi, dan 1 bulan pascaintervensi. Dilakukan analisis statistik: uji non-parametrik Friedman dilanjutkan post hoc-Bonferroni. Subjek penelitian berjumlah 14 orang anak SD berusia 11-12 tahun.Hasil. Ditemukan peningkatan di seluruh fungsi eksekutif. Skor GEC berubah bermakna setelah intervensi (p<0,001); Skala: inhibisi (p<0,001), adaptasi (p<0,001), kontrol emosional (p=0,003), inisiasi (p<0,001), memori kerja (p<0,001), perencanaan (p<0,001), pengorganisasian material (p<0,001), dan monitor (p<0,001). Peningkatan terjadi setelah 10 sesi intervensi dan bertahan hingga satu bulan pascaintervensi.Kesimpulan. Pelatihan dengan intervensi Prototipe Gim Berbasis Komputer Indonesia meningkatkan fungsi eksekutif anak SD pada seluruh ranah fungsi eksekutif yang dinilai dengan BRIEF-BI format guru dan masih bertahan hingga satu bulan pascapelatihan. 
Gangguan Fungsi Kognitif pada Pasien HIV / AIDS di Layanan Rawat Jalan RSCM dan Faktor yang Memengaruhinya Gabriela Ellenzy; Kristiana Siste Kurniasanti; Profitasari Kusumaningrum; Gina Anindyajati
Bahasa Indonesia Vol 24 No 3 (2025): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v24i3.6647

Abstract

Pendahuluan: Kemajuan teknologi medis dan akses yang lebih luas terhadap terapi antiretroviral (ART) telah meningkatkan angka harapan hidup orang dengan HIV. Namun, gangguan neurokognitif masih sering ditemukan dan dapat berdampak negatif terhadap kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan penurunan fungsi kognitif pada pasien HIV/AIDS di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Metode: Penelitian potong lintang dilakukan pada Mei 2022 hingga Januari 2024 di RSCM. Subjek penelitian adalah pasien HIV berusia 18–59 tahun, berbahasa Indonesia, dan sedang menjalani ART. Pasien dengan gangguan fisik atau mental berat dikecualikan. Sebanyak 121 subjek direkrut menggunakan metode pengambilan sampel acak sederhana. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik demografis, komorbiditas fisik, kondisi kesehatan mental, penggunaan zat, waktu inisiasi ART, durasi infeksi HIV, durasi penggunaan ART, kepatuhan pengobatan, dan dukungan sosial. Fungsi kognitif dinilai menggunakan Montreal Cognitive Assessment versi Indonesia (MoCA-INA). Analisis regresi linear dilakukan untuk mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan gangguan kognitif. Hasil: Rerata usia subjek adalah 40,25 ± 8,42 tahun dan mayoritas berjenis kelamin laki-laki. Prevalensi gangguan kognitif sebesar 55,4%. Pada analisis multivariat, keterlambatan inisiasi ART dan riwayat meningitis berhubungan secara signifikan dengan penurunan skor MoCA-INA. Setiap keterlambatan satu tahun inisiasi ART berhubungan dengan penurunan skor MoCA-INA sebesar 0,3 poin (p<0,05), sedangkan riwayat meningitis berhubungan dengan penurunan skor sebesar 2,63 poin (p<0,05). Simpulan: Keterlambatan inisiasi ART dan riwayat meningitis berhubungan dengan penurunan fungsi kognitif pada pasien HIV. Inisiasi ART sedini mungkin dan penapisan kognitif secara berkala perlu ditekankan untuk meningkatkan luaran jangka panjang.